Permintaan Sutrisno yang Tak Terpenuhi Hingga Akhir Hayat, Muzani Ingat Ini

Kepedulian dan Amanah Wakil Presiden ke-6 RI, Try Sutrisno

Sebelum wafat, Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia (RI), Try Sutrisno, masih memikirkan nasib bangsa dan negaranya. Salah satu permintaan yang belum terwujud adalah amandemen UUD 1945. Permintaan tersebut diungkapkan oleh Ketua MPR Ahmad Muzani saat ditemui di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta Pusat.

“Beliau pernah ngomong kepada kami, pada saat Lebaran tahun yang lalu, beliau ingin sebelum meninggal ada amendemen Undang-Undang Dasar ’45 yang kelima dan beliau ingin itu dilakukan sebelum beliau wafat,” kata Muzani.

Muzani menegaskan bahwa permintaan tersebut benar-benar dicatat sebagai pimpinan MPR RI. Menurutnya, Try Sutrisno ingin agar amandemen itu dilakukan untuk menjaga persatuan, kebersamaan, dan menjamin kelangsungan Indonesia ke depan yang lebih baik.

Terlepas dari hal ini, politikus Partai Gerindra itu melihat Try Sutrisno sebagai sosok pejuang sejati. Ia menilai bahwa Try Sutrisno kerap memaparkan pandangan, pikiran, waktu, hingga tenaga untuk kepentingan bangsa. Di usia senjanya, beliau sangat concern terhadap persatuan, kesatuan, kebersamaan, dan kegotongroyongan, yang dicurahkan untuk kepentingan bangsa dan negara sampai akhir hayatnya.

Melapor Hal Penting ke Presiden

Mantan Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), Wiranto, menyebut bahwa Try Sutrisno sering melaporkan hal penting kepada Presiden Prabowo Subianto sebelum wafat. “Saya selalu komunikasi dengan beliau. Hal-hal yang kira-kira menyangkut masalah-masalah kenegaraan, beliau selalu memberikan nasihat kepada saya,” ujar Wiranto.

Menurut Wiranto, Try Sutrisno merupakan sosok yang sederhana dan patuh terhadap konstitusi. Ia juga dikenang sebagai sosok yang selalu mendahulukan kepentingan rakyat ketimbang pribadinya. “Kesederhanaannya, kepatuhan terhadap konstitusi, perjuangan yang selalu membela kebenaran dan berkiblat kepada sesuatu yang menjadi keyakinan beliau,” ujar Wiranto.

Wiranto menambahkan bahwa Try Sutrisno selalu memikirkan langkah terbaik untuk masyarakat saat menjalankan tugas negaranya. “Dan saya kira, itu satu sikap yang memang harus kita teladani. Sikap yang perlu dicontoh bagi, baik sebagai prajurit maupun bagi teman-teman yang saat ini duduk ya di dalam jabatan-jabatan kenegaraan,” katanya.

Amanah Terakhir: Jenazah Dibopong Putra-putranya

Sebelum meninggal, Try Sutrisno meminta agar peti jenazahnya dibopong atau diangkat oleh anak-anaknya. Amanah itu pun dilaksanakan ketika jenazah usai disalatkan di Masjid Agung Sunda Kelapa.

“Ada amanah dari almarhum. Mohon putranya yang mengangkat (peti jenazah). Ini amanah almarhum,” ujar seorang pria dari pengeras suara Masjid Agung Sunda Kelapa usai shalat jenazah dilaksanakan.

Para buah hati pun mengangkat peti jenazah ayahnya. Mereka adalah Letjen TNI Kunto Arief Wibowo, Komjen Pol (Purn) Firman Santyabudi, Taufiq Dwi Cahyono, dan Isfan Fajar Satrio. Mereka tampak didampingi oleh pasukan Paspampres berseragam merah yang turut membantu mereka.

Anak-anak Try Sutrisno terlihat menangis sambil menggotong peti jenazah sebelum sang ayah diserahkan kepada negara melalui upacara yang digelar di Masjid Agung Sunda Kelapa. Momen tersebut menjadi bagian khidmat sebelum jenazah dibawa untuk prosesi militer.

Prosesi Militer dan Kematian Try Sutrisno

Pantauan Tribunnews.com di lokasi, peti jenazah yang diselimuti bendera Merah Putih diusung perlahan oleh para prajurit berseragam upacara. Di sisi peti, tampak keempat putra almarhum berjalan mendampingi, bahkan ikut memanggul secara bergantian.

Suasana di dalam masjid ramai melantukan salawat ketika rombongan pembawa jenazah mulai bergerak menuju kendaraan jenazah. Sejumlah pelayat yang hadir berdiri memberi penghormatan terakhir.

Setelah dari Masjid Sunda Kelapa, jenazah dijadwalkan dibawa untuk rangkaian upacara militer sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Untuk diketahui, Try Sutrisno meninggal dunia di RSPAD Gatot Subroto pada Senin pagi. Pihak keluarga menyebutkan bahwa Try Sutrisno tidak memiliki riwayat penyakit tertentu yang menyebabkan kematian. Anak Try, Taufik Dwi Cahyono, menyebutkan bahwa kondisi kesehatan sang ayah menurun karena faktor usia yang sudah menginjak 90 tahun.

“Bapak sih karena memang sudah usia, semuanya kan menurun, umur segitu, enggak ada yang spesial sakit khusus ya karena memang sudah usia ya, menurun dari kemampuan napasnya, atau semacamnya,” kata Taufik di RSPAD Gatot Soebroto, Senin.

Taufik menuturkan, sebelum wafat, Try telah dirawat di RSPAD sejak tanggal 16 Februari 2026 lalu karena sempat tidak punya selera untuk makan. “(Dirawat sejak) 16 Februari. Jadi cuma tiba-tiba selera makan turun, dibawa ke sini, naik turun lah, dikasih obat, dikasih makan,” kata Taufik.

Taufik menuturkan, tim dokter RSPAD dan kepresidenan sudah mengupayakan pengobatan terbaik kepada Try.

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *