Arus kapal di Selat Hormuz nyaris terhenti, ini fakta kritisnya

Perubahan di Selat Hormuz Akibat Serangan Militer AS dan Israel

Serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran telah menggeser fokus dunia ke Selat Hormuz, sebuah jalur laut sempit yang menjadi nadi utama pengiriman minyak global. Kekacauan yang terjadi sejak pekan lalu membuat kawasan ini berubah dari rute dagang vital menjadi titik rawan konflik.

Perlambatan lalu lintas kapal tidak terjadi dalam ruang hampa. Sejak serangan dimulai, kapal-kapal komersial memilih untuk mengurangi kecepatan, menunggu di luar selat, atau menunda pelayaran karena risiko keamanan meningkat. Analis dari Wall Street pada Senin (2/3/2026) memperingatkan bahwa eskalasi militer dapat mengganggu pasokan minyak dan mendorong lonjakan biaya energi global. Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris juga melaporkan adanya serangan terhadap beberapa kapal di sekitar selat serta peningkatan gangguan elektronik pada sistem navigasi.

Respons Iran di Tengah Tekanan Militer

Di tengah kondisi itu, ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran dipandang sebagai respons terhadap tekanan militer yang mereka hadapi. Kevin Book, direktur pelaksana Clearview Energy Partners, mengatakan infrastruktur energi di kawasan tersebut berada dalam risiko besar, bukan hanya karena serangan langsung, tetapi juga akibat dampak tidak langsung dari konflik.

Pecahan atau puing intersepsi rudal, misalnya, bisa jatuh ke fasilitas vital dan melumpuhkan operasionalnya. Dalam situasi perang terbuka di wilayah dengan konsentrasi produksi energi sebesar itu, gangguan terhadap jalur pelayaran menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.

Apa yang Terjadi di Selat Hormuz?

Perang yang melibatkan Iran membuat arus kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz nyaris terhenti. Raksasa pelayaran seperti Maersk dan Hapag-Lloyd menyatakan telah menangguhkan seluruh pengiriman yang melintasi jalur tersebut demi alasan keamanan. Padahal sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati selat yang sangat strategis itu. Kekhawatiran akan terganggunya suplai dalam waktu lama langsung memicu lonjakan harga minyak pada Senin, termasuk mendorong kenaikan biaya energi seperti harga gas di Amerika Serikat.

Kepala analis Global Risk Management, Arne Lohmann Rasmussen, menjelaskan bahwa secara de facto selat tersebut praktis tertutup karena tidak ada pihak yang berani melintas. Ia menilai risiko serangan terlalu tinggi, sementara perlindungan asuransi sulit diperoleh atau biayanya melonjak tajam, sehingga banyak operator memilih menunggu sampai situasi keamanan membaik. Rasmussen juga memperingatkan bahwa jika aliran minyak dan gas dari jalur itu benar-benar terputus, dampaknya akan signifikan bagi pasar. Menurutnya, meskipun tidak ada blokade fisik resmi, kombinasi ancaman dari Iran serta serangan drone dan rudal membuat kapal tanker tak bisa melintas dengan aman.

Seberapa Tinggi Harga Minyak Bisa Naik Jika Selat Tersebut Tetap Tertutup?

Sejumlah analis menilai Iran kemungkinan tidak mudah mempertahankan pembatasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz dalam jangka panjang, terutama jika Amerika Serikat dan Israel terus melemahkan kekuatan angkatan laut serta kemampuan militernya. Para ahli juga mengingatkan bahwa langkah memblokir arus minyak justru bisa menjadi bumerang karena ekspor energi merupakan penopang penting bagi ekonomi Iran yang sedang rapuh.

Secara garis besar Iran memiliki dua opsi untuk menutup selat: mengganggu atau menyerang kapal yang melintas, atau menanam ranjau laut. Namun, ia menekankan bahwa tanpa kekuatan angkatan laut yang memadai, kedua skenario tersebut akan sulit dijalankan secara efektif. Di sisi lain, Arne Lohmann Rasmussen dari Global Risk Management memperingatkan kepada CBS News bahwa penutupan berkepanjangan dapat mendorong harga minyak melonjak tajam. Ia menyebut situasi saat ini baru berlangsung beberapa hari, tetapi jika berlarut-larut hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan, harga minyak berpotensi menembus level tiga digit per barel. Kondisi semacam itu, menurutnya, bisa menekan ekonomi global secara signifikan dan bahkan membuka risiko resesi, sehingga jalur tersebut menjadi instrumen tekanan yang sangat kuat.

Apakah Ada Alternatif Lain Selain Selat Hormuz?

Minyak yang selama ini dikirim melalui Selat Hormuz sebenarnya masih bisa dialihkan lewat jalur darat, meski kapasitasnya terbatas. Salah satu opsi adalah Pipa Timur-Barat di Arab Saudi, yang juga dikenal sebagai Petroline. Pipa sepanjang hampir 750 mil itu mengalirkan minyak menuju pelabuhan di Laut Merah. Alternatif lain berada di Uni Emirat Arab, yakni Pipa Minyak Mentah Abu Dhabi sepanjang sekitar 400 mil yang menyalurkan minyak ke terminal ekspor di Teluk Oman.

Meski begitu, para analis menilai kapasitas kedua jalur tersebut jauh dari cukup untuk menggantikan seluruh volume minyak yang saban hari melewati Selat Hormuz. Analis energi senior PitchBook, Benny Wong, menegaskan bahwa pada praktiknya tidak ada jalur pengganti yang benar-benar mampu menutup kekosongan aliran tersebut.

Rizal Hartanto

Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *