Tujuan Utama Operasi Militer Amerika Serikat terhadap Iran
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah mengumumkan bahwa militer AS sedang menjalankan operasi militer besar-besaran terhadap Iran. Operasi ini memiliki empat tujuan utama yang dirancang untuk memperkuat keamanan negara dan mencegah ancaman dari rezim Republik Islam Iran.
1. Menghancurkan Kemampuan Rudal Balistik Iran
Salah satu tujuan utama dari operasi militer adalah menghancurkan kemampuan rudal balistik Iran. Trump menyatakan bahwa fasilitas produksi senjata dan gudang senjata Iran akan dihancurkan agar tidak lagi menjadi ancaman bagi pangkalan militer AS dan daratan Amerika. Ia juga mengklaim bahwa sedikitnya 10 kapal perang Iran telah ditenggelamkan dalam operasi ini.
2. Menghentikan Program Nuklir Iran secara Permanen
Trump menekankan pentingnya menghentikan program nuklir Iran secara permanen. Ia menilai bahwa Teheran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Dalam pidatonya, ia kembali mengkritik kesepakatan nuklir era Obama, JCPOA, yang ia anggap sebagai dokumen berbahaya. Menurutnya, operasi militer ini bertujuan untuk memastikan bahwa Iran tidak dapat memproduksi senjata nuklir.
3. Memutus Pendanaan dan Dukungan Iran terhadap Kelompok Proksi
Tujuan ketiga adalah memutus pendanaan dan dukungan Iran terhadap kelompok proksi di luar negeri. Trump menyatakan bahwa pihaknya akan menghentikan aliran dana dan senjata yang digunakan oleh kelompok-kelompok seperti Hamas dan milisi di Lebanon, Yaman, Suriah, dan Irak.
4. Melumpuhkan Struktur Kepemimpinan Militer Iran
Tujuan keempat adalah melumpuhkan struktur kepemimpinan militer Iran. Trump menyatakan bahwa operasi ini telah berhasil melumpuhkan struktur kepemimpinan tersebut lebih cepat dari jadwal yang direncanakan.
Operasi Militer Terus Berlangsung
Operasi militer yang diberi nama Operation Epic Fury telah berlangsung sejak 28 Februari 2026 dan disebut masih terus meluas hingga Lebanon. Dalam pidato pada upacara penganugerahan Medal of Honor, Trump menegaskan bahwa militer AS tengah menjalankan operasi besar-besaran untuk menghancurkan ancaman yang diklaim berasal dari rezim Iran.
“Tujuan kami jelas. Kami sedang menghancurkan kemampuan rudal Iran secara terus-menerus, setiap jam, termasuk kapasitas mereka untuk memproduksi rudal baru,” kata Trump, Senin (2/3/2026).
Trump juga mengaitkan operasi ini dengan sejarah panjang ketegangan selama 47 tahun, termasuk tuduhan keterlibatan Iran dalam serangan bom pinggir jalan (IED) terhadap tentara AS. Ia kembali menyinggung nama Qasem Soleimani sebagai sosok penting di balik serangan-serangan tersebut.
Ancaman Gelombang Serangan Baru
Dalam wawancara dengan CNN, Trump menyatakan bahwa “gelombang besar” serangan berikutnya masih akan datang. Ia mengklaim sedikitnya 49 pejabat tinggi Iran tewas dalam gelombang awal serangan. Ia juga menyebut kepemimpinan Iran kini dalam kondisi kacau.
Meski konflik kian meluas dan Iran melancarkan serangan balasan ke sejumlah negara Arab seperti Bahrain, Yordania, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab, Trump menegaskan AS siap melanjutkan operasi selama diperlukan. “Saya tidak akan bosan. Tidak ada yang membosankan tentang hal ini,” tegasnya.
Di sisi lain, Trump menyatakan dukungan terhadap rakyat Iran untuk merebut kembali kedaulatan negaranya, namun memperingatkan bahwa situasi keamanan akan semakin berbahaya dalam waktu dekat.
Masa Depan dan Pernyataan Akhir
Presiden AS juga menuding Iran mendukung dan mempersenjatai kelompok milisi di Lebanon, Yaman, Suriah, dan Irak. Ia juga menuduh pejuang kemerdekaan Palestina, Hamas, sebagai proksi Iran yang melakukan serangan 7 Oktober di Israel, yang menurut klaim Israel dan Amerika, telah menewaskan lebih dari 1.000 orang, termasuk 46 warga Amerika, serta menyandera 12 warga AS.
Trump juga menyatakan kebijakan pemerintahannya bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Presiden menyatakan bahwa pada Juni lalu, melalui operasi bernama ‘Operation Midnight Hammer’, AS telah menghancurkan program nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Dalam bagian akhir pidatonya, Trump juga menyerukan kepada anggota Garda Revolusi Iran, angkatan bersenjata, dan kepolisian Iran untuk meletakkan senjata dan menyerah, dengan jaminan imunitas penuh atau menghadapi konsekuensi mematikan. Donald Trump juga menyampaikan pesan kepada rakyat Iran agar tetap berada di rumah karena situasi berbahaya dengan pengeboman yang berlangsung.












