Dampak Perang Iran dan AS-Israel terhadap Ekonomi Indonesia
Perang antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran dikhawatirkan akan berdampak signifikan terhadap ekonomi Indonesia. Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), menyampaikan bahwa kenaikan harga minyak menjadi salah satu dampak utama yang akan dirasakan masyarakat Indonesia.
Kenaikan Harga Minyak dan Gangguan Pasokan
Menurut JK, Indonesia masih sangat bergantung pada impor minyak dari kawasan Timur Tengah. Jika jalur distribusi terganggu akibat konflik, maka ketersediaan bahan bakar dalam negeri akan langsung terpengaruh. Ia menegaskan bahwa pasokan dari negara-negara seperti Arab Saudi, Iran, dan Kuwait berpotensi terputus.
“Jadi masalahnya ya, kita biasanya mengimpor minyak dari Timur Tengah karena kita kekurangan. Sekarang pasti setop. Jadi ekonomi kita akan terkena di situ,” ujar JK.
Ia juga memperingatkan tentang keterbatasan cadangan BBM nasional. Dampak konflik memang belum langsung terasa saat ini, namun bisa mulai dirasakan dalam waktu dekat.
Dampak Ekonomi yang Lebih Luas
Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menjelaskan bahwa Indonesia dapat terdampak di sejumlah aspek atas perang Iran dan AS. Jika terjadi gangguan di Selat Hormuz, harga minyak global bisa melonjak, sehingga meningkatkan beban subsidi BBM dan listrik di Indonesia.
“Ini bisa memaksa pemerintah untuk merealokasi anggaran pembangunan ke arah perlindungan sosial,” kata Rahma.
Selat Hormuz, yang terletak di antara Iran dan Oman, adalah salah satu jalur laut paling penting di dunia, dengan sekitar 20 persen produksi minyak global melintasinya. Penutupan jalur ini otomatis menghambat arus kapal dagang yang membawa barang dan komoditas, sehingga kelancaran distribusi barang impor dan ekspor Indonesia berpotensi terganggu dalam waktu dekat.
Lonjakan Harga Bahan Pokok
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menyatakan bahwa memanasnya tensi di Timur Tengah imbas serangan Israel-AS ke Iran memicu kenaikan harga energi. Harga minyak Brent sudah menyentuh US$ 73 per barel dari yang sebelumnya sempat di US$ 65 per barel di awal Februari.
“Bisa jadi harga minyak global akan menyentuh US$ 120 per barel sama seperti ketika Rusia melakukan invasi ke Ukraina,” tutur Nailul.
Penutupan jalur Selat Hormuz dapat mengurangi pasokan minyak global secara signifikan, karena sekitar 20 persen perdagangan minyak mentah global melewati jalur tersebut. Berkurangnya pasokan minyak otomatis menaikkan harga minyak mentah dunia.
Dampak pada Rupiah dan Biaya Logistik
Pelemahan rupiah berpotensi semakin dalam. Bahkan bisa mencapai Rp 17.000 per dolar AS. Selain itu, kenaikan harga minyak akan membebani fiskal. Anggaran kita akan jebol apabila tidak ada realokasi anggaran ke subsidi BBM.
Nailul pesimistis, pemerintah bisa mengandalkan penerimaan negara di tengah ketidakpastian global. Opsi penambahan utang dinilai tidak mudah, mengingat lembaga pemeringkat seperti Moody’s dan S&P sebelumnya menyoroti kualitas pengelolaan fiskal Indonesia.
Pengaruh pada Pelaku Usaha
Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menyebut, kenaikan harga minyak akibat potensi gangguan Selat Hormuz akan memengaruhi harga solar domestik, komponen utama biaya operasional transportasi darat.
Dengan porsi BBM mencapai 40 persen dari total biaya operasi truk, kenaikan harga solar akan langsung diterjemahkan ke ongkos angkut. Dalam skenario lebih berat, kenaikan 30 persen dapat memicu lonjakan ongkos hingga 10,5 persen sampai 12 persen.
Dampak pada Rute Perdagangan
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, mengatakan dampak paling langsung yang akan dirasakan Indonesia dari konflik adalah gangguan pada rute-rute perdagangan, terutama yang menuju ke kawasan Timur Tengah dan sekitarnya. Selat Hormuz ditutup, dan kapal-kapal komersial dilarang mendekat.
Shinta menilai pelaku usaha perlu mengantisipasi lonjakan biaya perdagangan akibat eskalasi konflik. Risiko keamanan yang meningkat membuat premi asuransi pengiriman melonjak karena perusahaan pelayaran dan penjamin harus memperhitungkan potensi kerugian akibat konflik.
Dampaknya, biaya impor dan ekspor Indonesia berpotensi meningkat dalam waktu relatif singkat. “Dampak-dampak yang bersifat langsung ini bisa dilihat segera dalam beberapa hari hingga dua, tiga minggu ke depan, tergantung pada perkembangan konflik yang terjadi,” paparnya.












