Mahfud MD tantang polisi temukan pelaku ancaman ibu ketua BEM UGM: Jejak digital mudah, kok tak ketemu?

Mahfud MD: Teror terhadap Tiyo Bukan Hanya Kritik, Tapi Ujian bagi Negara

Kasus teror yang menimpa Tiyo Ardianto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), telah memicu reaksi keras dari berbagai pihak. Salah satunya adalah mantan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD. Ia menegaskan bahwa kasus ini bukan sekadar soal kritik mahasiswa, tetapi menjadi ujian serius bagi negara dalam melindungi warganya.

Mahfud MD menyampaikan kebanggaannya terhadap keberanian Tiyo sebagai seorang mahasiswa yang tetap bersuara meskipun menghadapi ancaman serius. Bahkan, teror tidak hanya menyerang dirinya, tetapi juga keluarganya, termasuk ibu kandungnya. Menurut Mahfud, hal ini menunjukkan bahwa negara harus lebih tanggap dan proaktif dalam menangani ancaman terhadap individu yang berani menyampaikan pendapat.

Mahasiswa Santun dengan Argumen Berbasis Data

Dalam pernyataannya di kanal YouTube Mahfud MD Official, Selasa (24/2/2026) malam, Mahfud menggambarkan Tiyo sebagai sosok yang memiliki karakter kuat. Ia menjelaskan bahwa Tiyo santun, rasional, dan selalu berbicara dengan landasan data yang solid. Bagi Mahfud, sosok seperti Tiyo seharusnya dirangkul, bukan dimusuhi. Kritik yang disampaikan Tiyo bukan datang dari amarah kosong, melainkan dari keprihatinan mendalam atas kebijakan negara.

Kritik yang Lahir dari Rasa Kemanusiaan

Mahfud menilai bahwa keberanian Tiyo hingga menyurati UNICEF bukanlah tindakan sembrono. Langkah itu muncul karena adanya kontradiksi mencolok antara besarnya anggaran pendidikan dan kenyataan pahit di lapangan. Ia menyebut berbagai tragedi kemanusiaan yang memicu kegelisahan Tiyo, seperti anak yang mengakhiri hidup karena tak memiliki uang Rp10.000, hingga bocah penjual tisu yang meregang nyawa tertabrak alat berat demi mencari makan.

“Tiyo ini bicara keras karena rasa kemanusiaannya timbul. Orangnya sopan, tidak sok, tapi rasionya jalan. Jangan dimusuhi, harusnya ditemani. Ajak bicara, lihat faktanya begini, sulitnya pemerintah begini. Bukan malah dimusuhi diam-diam, lempar batu sembunyi tangan,” tegas Mahfud.

Menurutnya, kritik semacam itu adalah suara nurani, bukan ancaman bagi negara.

Teror sebagai Tanda Negara Tidak Sehat

Terkait pengakuan Tiyo bahwa dirinya, sang ibu, hingga pengurus BEM UGM lainnya menerima teror, Mahfud menyebutnya sebagai indikator memburuknya kesehatan demokrasi. Ia menyindir aparat penegak hukum yang biasanya dikenal sigap dan profesional, namun seolah kehilangan daya ketika harus mengungkap teror terhadap aktivis dan jurnalis.

“Aparat seharusnya menyelidiki. Sekarang mencari pelaku lewat WA atau jejak digital itu tidak sulit. Polisi kita itu sangat profesional dan cekatan mencari hal-hal sulit, masa yang begini tidak ketemu?” sindir Mahfud.

Ia juga mengkritik sikap pemerintah yang sekadar menyatakan tidak tahu atas teror yang terjadi. “Menurut saya tidak cukup hanya bilang tidak tahu. Perintahkan aparat, cari dong! Tugas negara itu melindungi bangsa dan seluruh tumpah darah,” tambahnya.

Menjawab Pernyataan Menteri HAM Natalius Pigai

Mahfud turut menanggapi pernyataan Menteri HAM Natalius Pigai yang menyebut penentang program pemerintah seperti MBG sebagai pelanggar HAM. Ia meluruskan pemahaman tersebut dengan menekankan bahwa HAM tidak hanya mencakup hak sipil dan politik, tetapi juga hak ekonomi, sosial, dan budaya.

“Betul, menghalangi program rakyat melanggar HAM. Tapi ingat, pemerintah yang mengelola negara secara tidak profesional, menimbulkan korupsi dan pemborosan, itu juga pelanggaran HAM berat di bidang Ekosob,” ujar Mahfud.

Menurutnya, mengkritik kebijakan publik bukan pelanggaran HAM, melainkan bentuk kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi. Sebaliknya, pembiaran korupsi dalam program negara justru merupakan perampasan hak ekonomi rakyat.

Peringatan Keras untuk Para Penguasa

Menutup pernyataannya, Mahfud menyampaikan peringatan tajam kepada para elite yang dinilainya alergi terhadap kritik dan menggunakan cara-cara tersembunyi untuk membungkam suara rakyat.

“Kalau Anda (para elite) sudah diperingatkan tidak mau dan malah marah-marah, silakan jalanlah. Nanti Tuhan yang akan turun tangan, alam yang akan mengubah Anda. Tidak pernah dalam sejarah tidak terjadi perubahan. Jangan suka-suka, Anda harus bertanggung jawab,” kata Mahfud.

Demokrasi dalam Bayang-Bayang Ketakutan

Dari kasus teror terhadap Tiyo, Mahfud membaca gambaran yang lebih luas: demokrasi yang kian dibalut rasa takut. Ia menyebut adanya dugaan tekanan terhadap media, aktivis, hingga pelaku usaha yang bersikap kritis.

“Sekarang banyak yang diam karena takut. Media pembiayaannya bisa ditutup, usaha bisa ditutup. Itu kesewenang-wenangan terselubung,” ujarnya.

Mahfud mengingatkan bahwa media merupakan pilar keempat demokrasi. Jika media dilemahkan, ruang publik akan dikuasai isu liar dan propaganda.

“Legislatif ambruk kepercayaan publiknya, eksekutif korupsinya luar biasa, yudikatif busuk. Kita berharap ke media. Kalau media juga ditekan, berbahaya bagi negara,” katanya.

Dalam pandangan Mahfud, teror terhadap mahasiswa bukan sekadar ancaman personal. Ia adalah sinyal bahwa demokrasi sedang diuji dan negara dituntut membuktikan keberpihakannya pada kebebasan, keadilan, serta rasa aman warganya.


Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *