Kritik Terhadap Pemerintahan Prabowo Subianto dari Ketua BEM UGM
Tiyo Ardianto, ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), kini menjadi sorotan setelah melontarkan kritik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Kritik ini muncul sebagai respons atas kasus seorang siswa SD di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang akhirnya memilih mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli buku dan pena.
Kritikan Tiyo Ardianto tidak hanya berhenti pada isu pendidikan, tetapi juga menyentil Presiden Prabowo terkait keikutsertaannya dalam Board of Peace serta program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal ini menunjukkan bahwa kritik tersebut bukanlah sekadar komentar biasa, melainkan sebuah pernyataan yang ingin menyentuh berbagai aspek kebijakan pemerintah.
Komentar Nyinyir Sony Sonjaya di Instagram
Sosok yang menjadi objek kritik Tiyo Ardianto adalah Sony Sonjaya, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Operasional Pemenuhan Gizi. Dalam sebuah unggahan di akun Instagram @tiyoardianto_, Tiyo Ardianto mengunggah komentar nyinyir dari Sony Sonjaya yang mengejutkan banyak orang.
Isi komentar tersebut antara lain:
“BODO??? Telah memberi makan kepada 60 juta balita, ibu hamil, ibu menyusui dan peserta didik, telah menyerap lebih dari 1 juta tenaga kerja, telah menyerap hasil tani, hasil kebun, hasil budidaya ikan, hasil ternak, lah yang orasi telah menghasilkan apa? Jadine,“
Disertai dengan emoji monyet, komentar ini langsung menarik perhatian publik. Hingga berita ini ditulis, unggahan tersebut telah mendapatkan lebih dari 8.000 suka dan 800 lebih komentar.
Profil Singkat Sony Sonjaya
Sony Sonjaya adalah seorang pejabat pemerintahan yang saat ini menjabat sebagai Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi. Ia dikenal sebagai sosok yang aktif dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan penguatan ketahanan gizi nasional.
Dalam rangkaian peresmian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan Gudang Ketahanan Pangan di Palmerah, Jakarta, Jumat (13/2/2026), Sony Sonjaya menjadi salah satu penerima Tanda Kehormatan yang diberikan oleh Presiden Prabowo Subianto. Ia mendapatkan penghargaan Bintang Jasa Pratama, bersama dengan Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo.
Penghargaan ini menandai kontribusinya dalam penguatan ketahanan gizi masyarakat di Indonesia. Sony sering tampil dalam rapat konsolidasi dan arah kebijakan MBG di berbagai wilayah seperti Aceh atau Lampung, dengan fokus pada standar operasional, prioritas sasaran (ibu hamil, ibu menyusui, dan balita), serta penguatan pelibatan masyarakat dan produk lokal dalam program MBG.

Latar Belakang Karier Sony Sonjaya
Lahir di Bandung pada 20 Oktober 1967, Sony Sonjaya menghabiskan masa pendidikan dasar dan menengah di kota kelahirannya sebelum melanjutkan pendidikan kedinasan kepolisian melalui Akademi Kepolisian (Akpol) Angkatan 1991.
Karier di Polri mencakup berbagai jabatan kepemimpinan di wilayah dan struktur kepolisian, seperti Kapolres Simalungun, Majalengka, dan Bandung, serta posisi fungsional di Bareskrim Polri dan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Aceh sebelum pensiun.
Selama berdinas, ia menerima sejumlah tanda kehormatan atas pengabdian di institusi kepolisian, yaitu:
- Satyalancana Pengabdian 8 Tahun (1996)
- Satyalancana Dwidya Sistha (1996)
- Satyalancana Pengabdian 16 Tahun (2007)
- Satyalancana Pengabdian 24 Tahun (2017)
Sejak 2025, Sony Sonjaya dipercaya menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Republik Indonesia Bidang Operasional Pemenuhan Gizi. Di BGN, fokus tugasnya berada pada penguatan aspek operasional dan distribusi dalam Program Pemenuhan Gizi Nasional, termasuk pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia juga mengemban tanggung jawab sebagai Ketua Tim Verifikasi Badan Gizi Nasional, yang mengoordinasikan proses verifikasi dan validasi program secara menyeluruh.












