Ironis, Warga Palestina Berharap Mati di Bulan Ramadhan Dihantam Drone Quadcopter

Kehidupan di Tenda Pengungsian Saat Bulan Ramadhan

Di tengah ketidakpastian dan kekhawatiran, umat Muslim di seluruh dunia merayakan datangnya Bulan Ramadhan. Namun bagi warga Palestina, khususnya yang tinggal di pengungsian, Bulan Suci ini memiliki makna yang berbeda. Mereka menjalani ibadah puasa di tengah kondisi yang sangat sulit, dengan penuh harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Menyambut Ramadhan dengan Harapan

Keluarga Maisoon al-Barbarawi, yang tinggal di pengungsian Bureij, Jalur Gaza tengah, menghadapi Bulan Ramadhan dengan campuran antusiasme dan ketakutan. Maisoon, yang dikenal sebagai Umm Mohammed, berusia 52 tahun dan ibu dari dua anak. Putra sulungnya berusia 15 tahun, sedangkan putranya yang bungsu berusia sembilan tahun. Meski hidup dalam kondisi yang tidak stabil, Maisoon tetap ingin membuat hari-hari anak-anaknya menjadi lebih ceria.

Ia memperbaiki tenda pengungsian dengan dekorasi sederhana seperti hiasan dan lentera kecil. “Saya ingin anak-anak merasa bahagia,” katanya sambil tersenyum lelah. Meski kemampuan ekonominya terbatas, ia tetap berusaha memberikan sesuatu yang berarti bagi keluarganya.

Kehidupan di Pengungsian

Maisoon mengatakan bahwa situasi saat ini tidak sepenuhnya tenang. Meskipun gencatan senjata telah dibuat, penembakan masih terjadi dari waktu ke waktu. Ia menyebutkan bahwa perang belum benar-benar berakhir. Namun, dibandingkan dengan puncak konflik dua tahun lalu, situasi sekarang terasa lebih tenang.

Ia juga berpartisipasi dalam kegiatan administrasi kamp, membantu menyiapkan roti dan mengatur kurma serta air untuk dibagikan kepada penghuni kamp. “Ini adalah Ramadhan ketiga yang kami habiskan dalam pengungsian. Kami kehilangan rumah, keluarga, dan banyak orang yang kami cintai,” ujarnya.

Maisoon kehilangan rumahnya di Gaza tenggara pada awal perang dan harus mengungsi bersama suaminya, Hassouna, dan anak-anak mereka. Mereka terpaksa berpindah-pindah antar kamp sebelum akhirnya menetap di Bureij dalam kondisi yang ia gambarkan sebagai “sangat buruk”.

Harapan dan Ketakutan

Meski hidup dalam kesulitan, Maisoon tetap percaya bahwa Ramadhan adalah berkah. Ia berdoa agar perang tidak kembali terjadi dan agar tentara mundur dari tanah Palestina. “Saya berdoa agar keadaan benar-benar tenang,” katanya sambil menunjuk lubang peluru di tendanya yang disebabkan oleh tembakan dari drone Israel beberapa hari sebelumnya.

Ketakutan akan kembalinya perang selama Ramadhan bukan hanya dirasakan oleh Maisoon, tetapi juga oleh banyak orang di Jalur Gaza. Mereka khawatir akan peningkatan eskalasi baru, mirip dengan tahun lalu ketika pertempuran kembali terjadi pada 19 Maret 2025, bertepatan dengan minggu kedua Ramadan.

Perang yang kembali berkobar itu disertai dengan penutupan perbatasan dan larangan masuknya bantuan makanan ke wilayah tersebut, memicu krisis pangan parah dan kelaparan kemanusiaan yang berlangsung hingga September lalu.

Persiapan untuk Berbuka Puasa

Pada hari pertama Ramadhan, Maisoon belum memutuskan apa yang akan dimasaknya untuk keluarganya karena keterbatasan dana hanya memungkinkan untuk membuat makanan sederhana. Namun ia telah menyiapkan doa dan harapannya sebelum berbuka puasa.

“Anak kecil saya dulu berdoa agar mati karena sangat menginginkan makanan. Bisakah Anda bayangkan?” pungkasnya.




Hasnah Najmatul

Penulis yang dikenal teliti dalam riset dan penyajian data. Ia menaruh minat pada dunia ekonomi, statistik ringan, dan analisis tren. Di waktu luang, ia menikmati sudoku, membaca artikel panjang, dan mendengarkan musik instrumental. Motto: “Akurasi adalah bentuk tanggung jawab.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *