Pengawasan Kapitalisme, Menghasilkan Keuntungan dari Data

Perubahan Masa Depan Manusia di Era Digital

Era digital telah memberikan dampak yang sangat besar dalam transformasi peradaban manusia. Dulu, manusia hanya mengandalkan informasi konvensional seperti membaca buku, media cetak, atau media elektronik. Namun kini, hal tersebut tidak lagi cukup untuk mengimbangi laju perubahan yang terjadi.

Instrumen-instrumen lama ini tidak lagi mampu mendukung perkembangan kecerdasan manusia. Perangkat yang digunakan masih bersifat manual jika dibandingkan dengan teknologi digital saat ini. Kini, common sense manusia dikonstruksi oleh kemajuan teknologi, terutama artificial intelligence (AI). AI mampu memenuhi berbagai permintaan manusia, bahkan yang paling rumit sekalipun.

Namun, dampak dari era digital ini sangat luar biasa pada kehidupan sosial. Situasi yang penuh ketidakjelasan (
uncertainty)
membuat manusia yang tidak memiliki pengetahuan cukup menjadi sulit untuk bertindak secara percaya diri. Hal ini menyebabkan disparitas pengetahuan yang semakin kontras. Tidak hanya pada cara berpikir, tetapi juga pada perubahan sistem yang revolusioner dan sering kali tidak disadari telah mengeksploitasi kehidupan kita.

Dalam pandangan Shoshana Zuboff dalam bukunya The Age of Surveillance Capitalism: The Fight for a Human Future at the New Frontier of Power, ia mengungkapkan kegelisahan tentang masa depan manusia di tengah perkembangan teknologi, terutama teknologi informasi. Menurutnya, teknologi informasi kini dikuasai oleh perusahaan-perusahaan raksasa seperti Google, Facebook, YouTube, TikTok, dan chatGPT.

Secara ekonomi, terjadi fenomena shifting di berbagai bidang, termasuk ekonomi, politik, dan budaya. Di saat yang sama, kemampuan sebagian manusia tidak cukup untuk mengimbangi perubahan ini, sehingga terjadi eksploitasi secara teknologi.

Zuboff dan Yanis Varoufakis menjelaskan fenomena-fenomena eksploitasi ini, yang disebut sebagai capitalisme surveilans dan teknofeodal. Zuboff menyebut bahwa saat ini manusia berhadapan dengan era kapitalisme pengawasan (surveillance capitalism). Secara ringkas, kapitalisme pengawasan memanfaatkan kebiasaan pengguna internet yang kemudian dikonversi menjadi data melalui sistem komputasi, dan digunakan untuk berbagai kepentingan.

Sistem komputasi ini awalnya tampak membantu apa yang diharapkan manusia, namun secara tidak langsung, sistem ini mengajak manusia untuk mengubah keinginan menjadi kebutuhan. Dalam proses ini, konsumen menjadi ketergantungan terhadap barang yang dipromosikan melalui sistem komputasi tersebut.

Perkembangan teknologi dengan prinsip internet of things telah memudahkan hidup manusia. Tanpa disadari, kebiasaan menggunakan teknologi ini dikonversi menjadi data penting bagi perusahaan digital. Di era digital saat ini, manusia bisa memanfaatkan beragam aplikasi untuk membantu aktivitas sehari-hari.

Namun, pengguna sering kali tidak menyadari bahwa ketika menggunakan aplikasi melalui telepon pintar, mereka memberikan izin kepada aplikasi tersebut untuk mengakses data pribadi, seperti galeri foto, video, hingga kontak yang disimpan dalam smartphone. Padahal, semua data ini masuk dalam ranah privasi pengguna yang secara tidak sadar dibagikan ke pihak pembuat aplikasi.

Jika kita teliti lebih dalam, ruang kehidupan pribadi pengguna semakin kecil karena segala sesuatu dibagikan di dunia maya. Ada pihak ketiga yang memantau aktivitas pengguna. Masalahnya, semua aktivitas dan kebiasaan ini menjadi aset penting bagi pihak ketiga untuk berbagai kepentingan, seperti ekonomi, sosial, budaya, dan bahkan politik.



Tips hemat berbelanja online. – (.co.id)



Belanja Online. Ilustrasi – (USAToday)

Kapitalisme pengawasan dipilih Zuboff karena manusia menjadi sebatas komoditas ekonomi belaka. Dengan sistem kapitalisme pengawasan, manusia akan teralienasi (terasing dari dirinya) bukan karena pekerjaannya, melainkan karena ranah pribadinya (melalui data digital) telah dikuasai pihak ketiga.

Dalam analisisnya, Zuboff membuat empat tahap yang disebut “siklus disposisi” (disposition cycle). Keempat tahap ini terdiri dari incursion (serangan), habituation (pembiasaan), adaptation (adaptasi), dan redirection (pengalihan). Masing-masing tahap berjalan secara bertahap dan terus berputar seperti sebuah siklus. Dengan kata lain, Zuboff menegaskan bahwa pengguna aplikasi digital terjebak dalam siklus ini.

Sampai titik ini, Zuboff kembali mengingatkan bahwa setiap pengguna internet akan selalu terawasi selama menggunakan media tersebut. Pengawasan ini dilakukan bukan karena pengguna internet berpotensi melakukan hal berbahaya atau merugikan, melainkan karena pengguna dibutuhkan sebagai pemasok data dan objek promosi bagi perusahaan-perusahaan digital.

Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *