Kehidupan Pasar Bandar Jaya Saat Menghadapi Ramadan
Ramadan kian dekat, dan suasana di Pasar Bandar Jaya, Lampung Tengah, mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang semakin ramai. Para pembeli berbondong-bondong datang mencari bahan pokok untuk persiapan menjelang bulan suci. Banyak komoditas mengalami kenaikan harga seiring meningkatnya permintaan.
Ramadan tidak hanya menjadi momen ibadah, tetapi juga kesempatan untuk menyajikan hidangan terbaik bagi keluarga. Di tengah keramaian pasar, para ibu rumah tangga tampak sibuk memilih bahan-bahan masakan yang berkualitas. Mereka juga sedang merencanakan menu sahur dan berbuka puasa.
Pagi hari di Pasar Bandar Jaya, saat langit masih gelap dan mendung, suara deru sepeda motor sudah terdengar. Kendaraan-kendaraan parkir rapi di tepi jalan, sementara petugas parkir siap memberi pelayanan. Suasana pasar tampak lebih padat dari biasanya, dengan banyak orang yang berbelanja dalam jumlah besar.
Di antara keramaian tersebut, Wulan, seorang ibu rumah tangga, tampak berjalan menyusuri lapak bumbu dapur. Ia membawa beberapa plastik berisi ayam dan sayur mayur. Menurutnya, ia sengaja membeli lebih banyak dari biasanya agar bisa menyediakan hidangan yang enak selama puasa.
“Kami ingin menyajikan makanan terbaik untuk keluarga. Selain itu, ada tradisi nasi berkat yang dibagikan ke musala pada awal puasa,” ujarnya.
Fenomena belanja dalam jumlah besar ini terlihat hampir di setiap sudut pasar. Pembeli sering kali membawa beras kemasan 10 kilogram, minyak goreng satu dus, atau telur dalam jumlah besar. Kebutuhan pokok seperti beras, minyak, telur, ayam, dan daging menjadi komoditas yang paling dicari.
Di tengah pasar, lapak Neli, pedagang daging sapi, tak pernah sepi. Puluhan potongan daging sapi berjejer rapi, menggantung di sepanjang gang sempit tempat ia berjualan. Pembeli silih berganti datang, sebagian sudah menjadi langganan tahunan menjelang Ramadan.
Harga daging sapi saat ini berada di kisaran Rp130 ribu per kilogram dan relatif stabil sejak awal Februari 2026. Neli memperkirakan harga masih bertahan hingga awal puasa, meski berpotensi naik mendekati Idul Fitri. Meskipun permintaan meningkat, ia mengaku tidak kesulitan memperoleh stok.
Beberapa meter dari lapaknya, Yuli, pedagang bumbu dapur, sibuk melayani pembeli yang mengantre cabai dan bawang. Satu nampan cabai caplak bahkan habis diborong satu pelanggan. Menurut Yuli, lonjakan pembelian sudah terasa sejak sepekan terakhir.
Harga cabai merah kini menyentuh Rp60 ribu per kilogram, naik dari Rp55 ribu. Cabai rawit berada di angka Rp65 ribu per kilogram, juga mengalami kenaikan. Bawang merah naik cukup signifikan menjadi Rp40 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp30 ribu, sementara bawang putih justru turun menjadi Rp32 ribu per kilogram.
Kenaikan juga terjadi pada telur yang kini Rp30 ribu per kilogram, serta ayam potong yang hampir menyentuh Rp40 ribu per kilogram. Ayam kampung bahkan berada di kisaran Rp85-90 ribu per kilogram. Minyak goreng kemasan satu liter dijual Rp19 ribu per liter, naik dari Rp17 ribu.
Untuk kebutuhan pokok lainnya, beras medium dijual Rp147 ribu per 10 kilogram, sedangkan beras premium Rp155 ribu per 10 kilogram. Keduanya mengalami kenaikan dibanding harga sebelumnya.
Meski sejumlah harga merangkak naik, semangat belanja masyarakat tak surut. Ramadan selalu menghadirkan dinamika tersendiri dalam perputaran ekonomi pasar tradisional. Permintaan meningkat, stok harus terjaga, dan pedagang berharap harga tetap stabil agar daya beli masyarakat tidak menurun.
“Kalau soal harga kan bukan kita yang menentukan, kita ngikut dari agen atau pemasok. Kalau harganya naik kadang konsumen banyak yang tidak jadi beli,” ujarnya.
Di Pasar Bandar Jaya, Ramadan bukan hanya tentang ibadah spiritual, tetapi juga tentang denyut ekonomi rakyat. Dari tangan ke tangan, dari timbangan ke kantong belanja, dari tawar-menawar hingga senyum puas pembeli, semuanya menjadi bagian dari tradisi tahunan menyambut bulan penuh berkah.
Keramaian ini kemungkinan masih akan terus meningkat dalam beberapa hari ke depan. Lorong pasar akan semakin sesak, antrean semakin panjang, dan aroma bumbu dapur semakin tajam menggoda.
“Semoga rezeki lancar, harga tetap bersahabat, dan Ramadan dapat dijalani dengan tenang, penuh rasa syukur, serta hidangan terbaik di setiap meja sahur dan berbuka,” tutup Yuli.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."












