Gempa Bumi yang Beruntun di Jepang dan Dampaknya terhadap Struktur Geologi
Gempa bumi yang terjadi secara beruntun di berbagai wilayah Jepang belakangan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Mulai dari Semenanjung Noto, lepas pantai Tohoku, hingga wilayah Kanto, guncangan dengan berbagai skala terus terjadi dan memicu pertanyaan tentang penyebabnya. Menurut Profesor Emeritus Universitas Kyoto, Kamata Hiroki, fenomena ini mungkin masih berkaitan dengan dampak jangka panjang dari Higashi Nihon Daishinsai, yaitu gempa besar yang terjadi pada 11 Maret 2011.
Gempa Dahsyat yang Mengubah Struktur Geologi Jepang
Gempa M9,0 yang terjadi di lepas pantai Sanriku pada 11 Maret 2011 bukan hanya menjadi bencana sesaat, tetapi juga mengubah struktur geologi Jepang secara besar-besaran. Gempa ini merupakan salah satu yang terbesar dalam sejarah pengamatan global, setelah Gempa Cile tahun 1960 (M9,5), Gempa Alaska tahun 1964 (M9,2), dan Gempa Samudra Hindia lepas pantai Sumatera, Indonesia, tahun 2004 (M9,1).
Wilayah patahan yang pecah membentang sekitar 500 kilometer dengan lebar 200 kilometer. Gempa terjadi di batas lempeng tempat Lempeng Pasifik menunjam ke bawah Lempeng Amerika Utara. Pergerakan dasar laut yang besar memicu tsunami raksasa yang menghancurkan banyak daerah, termasuk Soma, Prefektur Fukushima, di mana gelombang mencapai lebih dari 9 meter, serta Pelabuhan Onagawa, Miyagi, yang memiliki jejak tsunami setinggi 14,8 meter.
Korban jiwa dan hilang lebih dari 18.000 orang, menjadikannya bencana alam terburuk di Jepang pascaperang. Sekitar 90 persen korban meninggal akibat tenggelam oleh tsunami.
Gempa Susulan yang Tidak Biasa
Karena gempa utama berkekuatan M9, gempa susulan juga luar biasa besar. Gempa berkekuatan M7 sering terjadi setelahnya. Tidak hanya di zona sumber gempa utama, gempa juga terpicu di wilayah daratan yang jauh. Sehari setelah gempa utama, terjadi gempa M6,7 di perbatasan Prefektur Niigata dan Nagano. Sekitar 30 menit setelah gempa utama, terjadi pula gempa tipe “outer rise” di sisi luar palung laut, menunjukkan perubahan besar pada tekanan kerak bumi.
Era Perubahan Bumi Setelah 3.11
Profesor Kamata menyebut bahwa Jepang memasuki “era perubahan bumi” setelah 3.11. Sebelum gempa 2011, wilayah Tohoku mengalami tekanan kompresi dari arah timur-barat. Namun setelah gempa besar tersebut, gaya yang bekerja justru berubah menjadi gaya tarik ke arah timur-barat. Perubahan tekanan ini berpotensi membuat gempa dan letusan gunung api lebih mudah terjadi.
Gempa dan aktivitas vulkanik sama-sama dipicu oleh pergerakan lempeng tektonik. Ketika tekanan besar berubah secara drastis, maka kemungkinan terpicunya aktivitas baru menjadi lebih tinggi.
Apakah Terkait dengan Gempa Nankai Trough?
Meski demikian, tidak semua gempa saling berkaitan. Misalnya, gempa besar di lepas pantai Sanriku tidak terbukti secara langsung mempercepat terjadinya gempa Nankai Trough yang selama ini dikhawatirkan akan terjadi di Jepang bagian selatan. Kedua zona gempa tersebut memiliki mekanisme dan siklus yang relatif independen.
Jepang memang sejak awal merupakan salah satu negara paling aktif secara seismik dan vulkanik di dunia. Oleh karena itu, gempa yang terjadi berdekatan waktunya belum tentu memiliki hubungan sebab-akibat langsung. Setiap kasus harus dianalisis secara ilmiah dan terpisah.
Waspada untuk Beberapa Dekade ke Depan
Tekanan dan deformasi kerak bumi akibat gempa 2011 kemungkinan memerlukan waktu puluhan tahun untuk benar-benar stabil kembali. Artinya, dalam beberapa dekade ke depan, aktivitas gempa dan vulkanik di Jepang bisa tetap berada pada tingkat yang tinggi.
Empat belas tahun telah berlalu sejak tragedi 3.11, namun dampaknya terhadap struktur geologi Jepang mungkin masih terus berlangsung, tambah Kamata. Jepang hari ini bukan lagi Jepang sebelum 2011. Negeri ini masih hidup dalam bayang-bayang perubahan besar yang ditinggalkan gempa dahsyat tersebut.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”












