Ketua BEM UGM menghadapi serangan teror setelah mengirimkan surat ke UNICEF mengenai kasus kematian seorang anak SD di NTT yang tidak mampu membeli alat tulis. Peristiwa ini menyebar luas hingga DPR RI turut memberikan pernyataan.
Baru-baru ini, publik dibuat sedih oleh kabar seorang anak SD di NTT yang meninggal dunia karena tidak mampu membeli alat tulis dengan harga hanya Rp 10 ribu. Kasus ini membuat Tiyo Ardianto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), merasa prihatin dan berinisiatif menyuarakan isu ini melalui media sosial. Selain itu, ia juga mengirimkan surat resmi kepada UNICEF untuk menyampaikan kekhawatirannya.
Namun, tidak lama setelah ia bersuara, Tiyo justru mendapat pesan ancaman dari nomor asing. Apa isi pesan tersebut? Bagaimana awal mula teror ini terjadi?
Kronologi Teror yang Diterima Ketua BEM UGM
Teror yang dialami oleh Tiyo Ardianto bermula dari aksinya dalam menyuarakan kasus kematian anak SD di NTT akibat ketidakmampuan membeli alat tulis. Dalam suratnya kepada UNICEF, Tiyo menyampaikan kekhawatirannya terhadap masa depan anak bangsa. Ia menulis:
“Apa dunia yang kita tinggali ketika seorang anak kehilangan nyawanya karena tidak mampu membeli pena dan buku?”
Ia menekankan bahwa tragedi ini bukanlah nasib individu, tetapi akibat dari kegagalan sistemik dan negara dalam melindungi warga paling rentan. Tiyo meminta UNICEF meningkatkan perannya di Indonesia, terutama dalam perlindungan anak, penjaminan anggaran pendidikan, serta pencegahan kematian yang bisa dihindari akibat kebijakan yang gagal.
Empat hari setelah BEM mengirimkan kritik tajam tersebut, Tiyo melaporkan adanya pesan WhatsApp bernada ancaman penculikan dari nomor misterius dengan kode negara Inggris. Pesan-pesan tersebut mengandung kata-kata seperti: “Agen asing”, “Culik mau?”, “Jangan cari panggung jadi tongkosong”, “Cari dosamu entr”, “Banci”, dan “Jangan cari panggung loe ya jual narasi sampah”.
Serangan digital sistematis berupa pesan ancaman berulang mulai menghujani ponsel Tiyo sejak Senin (9/2/2026). Setidaknya enam nomor asing terpantau terus-menerus mencoba menghubungi Ketua BEM UGM tersebut, namun ia memilih untuk tidak merespons demi menjaga keamanan dirinya.
Tidak hanya di ranah digital, mahasiswa Fakultas Filsafat UGM ini juga mengalami intimidasi fisik berupa penguntitan langsung oleh dua pria misterius bertubuh tegap. Kedua sosok tersebut dilaporkan sengaja membuntuti dan mengambil foto Tiyo dari kejauhan secara sembunyi-sembunyi. Saat berusaha dikejar untuk diidentifikasi, para penguntit tersebut langsung menghilang dengan cepat.
Tiyo meyakini bahwa seluruh rangkaian teror ini merupakan reaksi atas surat resmi terkait isu kemanusiaan yang dikirimkan BEM UGM ke UNICEF pada Jumat (6/2/2026).
DPR RI Ikut Buka Suara
Melihat kasus teror terhadap Ketua BEM UGM setelah mengirimkan surat aduan ke UNICEF, DPR RI ikut memberikan pernyataan. Hilman Mufidi, anggota Komisi X DPR RI, mengecam keras intimidasi yang menimpa aktivis mahasiswa tersebut.
Bagi Hilman, intimidasi ini bukan sekadar ancaman personal, melainkan sebuah ancaman serius bagi kebebasan berpendapat. Ia menyatakan:
“Tindakan teror kepada adinda Tiyo, Ketua BEM UGM tentu sangat tidak sepatutnya dilakukan. Saya sangat menyayangkan aksi itu, itu sama saja dengan praktik pembungkaman.”
Hilman menegaskan bahwa keberanian Tiyo dalam bersuara bukanlah pelanggaran, melainkan manifestasi nyata dari kebebasan berpendapat yang secara konstitusional sah dan dilindungi sepenuhnya oleh hukum di Indonesia.
“Saya minta aparat mengusut tuntas siapa dalam aksi teror ke adinda Tiyo. Bagaimanapun suara Tiyo itu adalah wujud keterbukaan, wujud kebebasan berpendapat yang sangat perlu dihormati,” tegas politisi Fraksi PKB ini.
Hilman juga memberikan imbauan kepada seluruh elemen masyarakat agar menahan diri dalam menyikapi dinamika yang berkembang.
“Semua pasti berduka, saya juga sangat prihatin dengan apa yang dialami anak kita di NTT, tapi menyikapi hal itu juga perlu keterbukaan hati, kekuatan pikir, dan setiap kritik terhadap penanganan kasusnya harus disikapi dengan bijak, bukan malah dengan teror,” tandas Hilman.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."












