Perubahan Sikap Budayawan Senior Mohamad Sobary dalam Kasus Ijazah Jokowi
Mohamad Sobary, seorang budayawan senior yang dikenal sebagai tokoh intelektual dan penulis ternama, hadir sebagai saksi ahli dalam kasus dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), pada Kamis (12/2/2026). Kehadirannya di Polda Metro Jaya menandai perubahan sikap yang signifikan dari sosok yang dulu menjadi pendukung fanatik Jokowi.
Kehadiran Sebagai Saksi Ahli
Sobary tiba di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, sekira pukul 09.35 WIB, didampingi oleh kuasa hukum Roy Suryo cs, Refly Harun, serta saksi ahli lainnya seperti mantan Wakapolri, Komjen (Purn) Pol Oegroseno. Ia hadir untuk memberikan kesaksian terkait riset yang dilakukan oleh Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan Tifauzia Tyassuma mengenai keaslian ijazah Jokowi.
Dalam kesempatan tersebut, Sobary menjelaskan bahwa ia akan memaparkan proses penelitian yang dilakukan oleh tim Roy Suryo cs. Menurut pandangan Sobary, penelitian tersebut tidak melanggar kaidah keilmuan sehingga tidak layak untuk ditersangkakan.
Alasan Balik Arah dan Pengakuan Merasa Tertipu
Sobary secara blak-blakkan mengaku merasa “tertipu” karena menilai idealisme dan gagasan kerakyatan yang dulu ia banggakan dari Jokowi tidak direalisasikan selama menjabat. Ia mengatakan bahwa sebagai seorang ilmuwan, ia mendukung Jokowi karena idealisme dan berjuta-juta kaum ilmuwan juga mendukung. Namun, ketika idealisme tersebut tidak terwujud, dukungan pun berakhir.
“Saya seorang ilmuwan yang mendukung Jokowi itu karena idealisme saya dan berjuta-juta kaum ilmuwan mendukung. Tapi berjuta-juta itu kan tertipu, ya biasa saja, kita tertipu ya nggak apa-apa,” katanya.
Sobary menambahkan bahwa gagasan Jokowi tentang dirinya sebagai orang kampung dan tidak korup ternyata tidak bisa dipanggul. Ia menyatakan bahwa ketika idealisme tidak terwujud, maka dukungan pun berakhir.
Bantahan Terkait Dukungan Bayaran
Lebih lanjut, Sobary membantah tudingan dirinya merupakan pendukung bayaran saat masih menyokong Jokowi dahulu. Ia menegaskan bahwa para ilmuwan tidak ada yang memperoleh uang rokok. Rokok saja tidak pernah dapat.
Tinjauan Keilmuan dan Kebudayaan Terkait Riset Roy Suryo cs
Menurut Sobary, penelitian yang dilakukan oleh Roy Suryo cs tidak melanggar kaidah keilmuan. Ia akan mempertanggungjawabkan bahwa yang dilakukan ini tidak ada sesuatu apapun yang menyimpang dari kaidah-kaidah keilmuan. Dari sisi kebudayaan, Sobary menyimpulkan bahwa apa yang dilakukan Roy Suryo cs merupakan wujud perwakilan masyarakat untuk mengungkap kebenaran melalui jalur keilmuan.
“Tugas beliau-beliau ini menyampaikan risalah kebenaran kepada khalayak ramai mungkin untuk masyarakat Indonesia maupun dunia. Risalah kebenaran itu disampaikan karena tugas kaum ilmuwan seperti itu,” pungkasnya.
Profil Mohamad Sobary: Budayawan, Peneliti, dan Penulis
Mohamad Sobary, yang akrab disapa Kang Sobary, lahir di Bantul, Yogyakarta, pada 7 Agustus 1952. Ia dikenal luas sebagai budayawan, kolumnis, sekaligus peneliti dengan kiprah panjang di dunia kebudayaan dan media. Alumni Universitas Indonesia dan Universitas Monash ini dikenal piawai meramu narasi kebudayaan dengan gaya reflektif dan tajam.
Dalam riwayat kariernya, Sobary pernah menjabat sebagai Pemimpin Umum Kantor Berita Antara serta Direktur Eksekutif Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan (Partnership for Governance Reform) hingga Juli 2009. Nama Sobary sangat lekat dengan dunia tulis-menulis; kolomnya masih rutin hadir di Kompas Minggu dalam rubrik “Asal-Usul” yang menyoroti akar budaya serta sejarah Nusantara.
Kini, di usia 73 tahun, Sobary memfokuskan diri pada penulisan novel tentang keluarga Syailendra yang membangun Candi Borobudur. Fokus pada novel ini menegaskan konsistensinya sebagai budayawan yang tak pernah berhenti menggali sejarah dan makna peradaban.
Jejak Dukungan: Pernah Sebut Jokowi Penerus Bung Karno
Berdasarkan penelusuran, Mohamad Sobary memiliki rekam jejak sebagai pendukung Joko Widodo di masa lalu. Ia pernah didaulat naik ke panggung di Alun-Alun Utara Yogyakarta pada Selasa sore, 24 Juni 2014, untuk berorasi dalam acara “Kirab Budaya dan Deklarasi Jogja Istimewa untuk Jokowi-JK”.
Kala itu, Sobary menyatakan Jokowi tidak berpura-pura menjadi Bung Karno, melainkan menjadi dirinya sendiri. Ia mengungkapkan bahwa Jokowi adalah pemimpin yang lahir dari rakyat dan tidak pernah berbohong kepada rakyat. Menurut Sobary, pemimpin seperti Jokowi hanya muncul hampir 500 tahun sekali.
Dalam acara tersebut, sejumlah seniman seperti Bramantyo Priyo Susilo, pelukis Djoko Pekik, serta musisi seperti Sri Krishna Encik dan Marjuki (Kill the DJ) juga turut hadir memeriahkan suasana. Selain itu, Sobary pernah menyebut Jokowi sebagai penerus Soekarno alias Bung Karno, Presiden pertama RI.












