Program ‘Gentengisasi’ Prabowo: Atap Estetik Selesaikan Masalah Panas Kota?

Masalah Suhu Panas di Permukiman dan Solusi yang Efektif

Masalah suhu panas di permukiman tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengganti atap seng menjadi genteng. Meskipun penggantian ini sering dianggap sebagai solusi, faktanya, hal tersebut bukan sekadar perubahan bahan, tetapi juga memerlukan perombakan struktur rangka atap yang membutuhkan anggaran besar. Oleh karena itu, diperlukan solusi alternatif yang lebih murah dan efektif.

Permasalahan Utama dalam Penggantian Atap

Pertama, masalah panas di permukiman warga bukan hanya terkait dengan jenis atap. Dampak pemanasan global dan fenomena pulau bahang perkotaan (urban heat island) berperan penting dalam meningkatkan suhu di area perkotaan. Kepadatan bangunan, berkurangnya ruang hijau, serta polusi membuat kota semakin gerah. Jakarta, misalnya, mencatatkan intensitas efek pulau bahang perkotaan hingga 2,5°C lebih panas dibanding wilayah sekitarnya.

Kedua, meskipun mengganti atap seng dengan genteng dapat mengurangi panas, biayanya jauh lebih mahal. Harga atap seng di pasaran berkisar Rp50 ribu per meter persegi, sedangkan harga genteng tanah liat sekitar Rp65 ribu per meter persegi. Selain itu, konstruksi rangka untuk atap seng lebih hemat karena kemiringan atap yang lebih landai dan jarak reng yang lebih jarang. Sementara itu, atap genteng membutuhkan konstruksi rangka yang lebih kuat dan rapat, sehingga biaya meningkat secara signifikan.

Estimasi biaya mengganti material atap dan rangka sekitar Rp265 ribu per meter persegi. Untuk rumah ukuran 36 meter persegi, biaya yang diperlukan mencapai sekitar Rp9,54 juta, belum termasuk upah tukang. Jika pemerintah menyiapkan anggaran Rp1 triliun untuk program ‘gentengisasi’, maka dana tersebut hanya cukup untuk merenovasi sekitar 105 ribu rumah.

Jika konstruksi rangka atap tidak sesuai standar, atap berisiko ambruk dan membahayakan keselamatan penghuninya. Oleh karena itu, evaluasi kelayakan rangka sangat penting dilakukan sebelum melakukan ‘gentengisasi’.

Solusi Alternatif yang Lebih Murah dan Efektif

Sebenarnya ada solusi alternatif yang lebih murah dan aman untuk mengurangi panas, yaitu teknologi atap dingin seperti cat reflektif. Cat berwarna putih ini bekerja dengan cara memantulkan radiasi matahari, sehingga mengurangi penyerapan panas pada atap bangunan. Cat ini bisa menurunkan suhu permukaan atap dan otomatis mengurangi suhu ruangan dalam bangunan.

Di dunia, kota-kota besar seperti New York sudah lama menerapkan teknologi ini. Proyek NYC CoolRoofs dimulai sejak 2009, dan pemerintah kota menawarkan pengecatan gratis bagi bangunan publik. Di Indonesia, produk cat reflektif ini juga tersedia di pasaran dengan estimasi harga sekitar Rp31 ribu per meter persegi. Untuk rumah 36 meter persegi, biaya hanya sekitar Rp1,12 juta.

Riset tahun 2025 membuktikan bahwa cat reflektif mampu menurunkan panas permukaan atap metal antara 5-15°C dan menurunkan suhu ruangan di bawahnya antara 1-3°C. Organisasi PBB UN-Habitat dan Bank Dunia juga telah menetapkan teknologi atap dingin sebagai salah satu solusi efektif untuk adaptasi pemanasan suhu di area permukiman dan perkotaan.

Pendekatan Berbasis Alami

Selain solusi teknologi, pendekatan berbasis alam sangat penting untuk mengurangi suhu panas di area permukiman. Hal ini bisa dilakukan dengan menanam pohon dan menambah ruang terbuka hijau. Idealnya, setiap warga bisa melihat minimal tiga pohon dari rumah dan sekitar 30% wilayah kota tertutup kanopi pohon di lingkungan tempat tinggalnya.

Akses ke ruang terbuka hijau (RTH) seperti taman atau lapangan hijau juga harus bisa dijangkau tidak lebih dari 300 meter dari rumah. Namun, kondisi Jakarta saja sudah jauh dari ideal tersebut.

Tugas Pemerintah dalam Menghadapi Krisis Iklim

Tugas utama pemerintah adalah melindungi keselamatan dan kesehatan warga dari suhu panas ekstrem, bukan hanya membuat kota terlihat indah. Memikirkan estetika boleh saja, tetapi setelah hak dasar masyarakat terpenuhi.

Persoalan suhu panas di permukiman ini tidak bisa selesai hanya dengan mengganti atap (gentengisasi). Suhu panas ekstrem adalah dampak nyata krisis iklim yang menuntut solusi jangka panjang dan berbasis ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, kebijakan adaptasi iklim yang berpihak pada keselamatan manusia dan kelestarian lingkungan semestinya menjadi fokus utama pemerintah.


Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *