Presiden Prabowo Diminta Langsung Perbaiki Sektor Keuangan dan Fiskal

Penurunan Peringkat Saham Indonesia oleh Goldman Sachs dan Kekhawatiran terhadap Kredit Rating

Belum surut berita mengenai penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) karena tudingan dari MSCI terkait praktik tidak sehat di bursa saham, kini Goldman Sachs merespons dengan menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight karena meningkatnya risiko investabilitas. Hal ini menunjukkan bahwa investor asing mulai mempertanyakan stabilitas pasar modal Indonesia.

Ketua Badan Anggaran DPR RI, Said Abdullah, menyampaikan bahwa kini kita dikejutkan kembali dengan rilis terbaru dari Moodys yang menurunkan rating kredit Indonesia dari stable menjadi negative. Menurutnya, masalah utama adalah menurunnya prediktabilitas kebijakan yang melemahkan efektivitas kebijakan serta kualitas tata kelola pemerintahan. Moodys juga memberikan perhatian khusus pada tata kelola Danantara, prioritas investasi, dan sumber pendanaannya.

Bulan ini, kabarnya FTSE Russel, anak perusahaan London Stock Exchange, akan merilis laporan mereka tentang outlook bursa saham dan ekonomi Indonesia. Said menegaskan bahwa ketiga lembaga tersebut memiliki benang merah yang sama, yaitu praktik tata kelola yang dianggap kurang baik di pasar saham, Danantara, dan kebijakan fiskal pemerintah.

Ia menyatakan bahwa “kartu kuning yang diberikan MSCI sebenarnya sudah lama, demikian halnya nyala lampu kuning dari IMF dan IDR terkait dengan utang pemerintah.” IMF merekomendasikan agar utang pemerintah tidak lebih dari 150 persen dari pendapatan negara, sedangkan International Debt Relief (IDR) merekomendasikan maksimal 167 persen. Namun, posisi Indonesia saat ini mencapai 349,9 persen.

Jika isu ini terus dibahas oleh IMF dan IDR, maka akan semakin memberi persepsi negatif kepada investor di pasar obligasi. Sebagian investor asing juga sudah mulai pergi dari Surat Berharga Negara (SBN). Empat tahun lalu kepemilikan asing dalam SBN masih sebesar 40 persen, namun akhir Desember 2025 hanya tersisa 14 persen.

IMF juga memberikan rekomendasi agar Bank Indonesia (BI) tidak terus menyerap SBN. Rekomendasi ini telah disampaikan sejak tahun 2020, kembali diingatkan pada 2022 dan 2023. Saat ini, kepemilikan BI pada SBN lebih dari 25 persen dari jumlah total SBN.

Reformasi Struktural untuk Memperbaiki Tata Kelola

Menurut Said, krisis tata kelola yang dilayangkan oleh berbagai lembaga menjadi momentum bagi pemerintah untuk membalik keadaan. Presiden dapat mengubah “tekanan” ini menjadi peluang besar melalui kepemimpinan reformasi di sektor keuangan dan fiskal.

Ia menambahkan, sejumlah catatan dari lembaga-lembaga tersebut perlu dijawab dengan penataan struktural, baik di sektor keuangan maupun fiskal. Dirinya telah mengajukan tujuh hal untuk penataan sektor keuangan, khususnya pasar modal, antara lain menjaga independensi bursa dan OJK, menambah free float hingga 15 persen, keterbukaan informasi, penegakan hukum oleh OJK, sertifikasi pelaku media sosial di bursa, serta mengevaluasi penempatan asuransi dan dana pensiun ke bursa saham.

Reformasi struktural ini bertujuan untuk menekan efek rambatan pada sektor lainnya, terutama di pasar obligasi yang masih menjadi tumpuan pemerintah membiayai APBN.

Restrukturisasi Belanja dan Pengurangan Beban Utang

Dari sisi fiskal, Said menyarankan agar Presiden memimpin restrukturisasi belanja untuk menekan pelebaran defisit, sekaligus langkah awal mengurangi beban utang sesuai rekomendasi IMF dan IDR. Upaya ini juga sebagai mitigasi apabila penerimaan pajak dan PNPB tahun ini mengalami shortfall.

Ia menegaskan bahwa berbagai program prioritas tidak perlu dibatalkan, tetapi perlu dihitung ulang pendanaannya, sekaligus memperbaiki tata kelolanya. Perluasan partisipasi publik dan penglibatan berbagai ahli untuk menyusun fondasi teknokrasinya juga penting.

Membangun Kepercayaan Investor Asing

Said menyatakan bahwa dalam jangka pendek, tidak mudah bagi pemerintah meninggalkan utang. Jangka pendek dan menengah, pemerintah masih perlu menyerap utang baru. Namun, dari reformasi fiskal tersebut, ia yakin kepercayaan investor akan pulih.

Presiden perlu menyampaikan secara transparan peta jalan reformasi fiskal jangka pendek dan menengah. Pesannya jelas: untuk mengikat kepercayaan investor asing.

Perbaikan Tata Kelola dan Keterbukaan Informasi

Said menegaskan bahwa SBN tidak bisa terus menyedot likuiditas dari BI dan Himbara, terutama pada jangka panjang. Kebutuhan menarik investor, terutama asing, menjadi modal penting sekaligus sebagai ruang menghimpun kepercayaan. Oleh karena itu, kritik Moodys soal kredit rating yang memburuk perlu dijawab.

Ia menegaskan bahwa imbal hasil tinggi bukan jawaban, bahkan bisa jadi bumerang bagi pemerintah. Lagi-lagi, perbaikan tata kelola dan keterbukaan informasi menjadi kunci untuk membalikkan keadaan.

Reformasi di Lembaga Penghimpun Penerimaan Negara

Said menyebutkan bahwa kiprah KPK yang beruntun dalam memberantas fraud di Ditjen Pajak dan Ditjen Bea Cukai menandakan ada problem struktural. Otoritas yang berlebihan dalam satu tangan, mulai penetapan tarif, penyelesaian sengketa, dan kontrol yang lemah menjadi pusaran dan epidemi korupsi di Pajak dan Bea Cukai.

Presiden dapat memimpin perubahan struktural di kedua lembaga penghimpun penerimaan negara tersebut. Perlu ada pemisahan dan pembatasan kewenangan, serta memperkuat kelembagaan pengawasan.

Peran Danantara dalam Ekonomi Nasional

Presiden juga dapat memberikan signal yang jelas atas langkah-langkah Danantara. Tujuan utama Danantara adalah menggerakkan sektor riil, mendorong pertumbuhan ekonomi lebih inklusif, menggerakan industri, dan membuka lapangan kerja baru, agar tingkat permintaan domestik kembali bangkit.

Ia berpendapat bahwa kiprah Danantara sebagai hedge fund yang berasal dari dana publik juga perlu dikaji lebih cermat. Presiden dapat memberikan pagar yang jelas, atas apa yang boleh dan tidak boleh atas kedudukan Danantara dalam perannya sebagai hedge fund.

Said yakin bahwa jika hal-hal tersebut dikomunikasikan dengan baik, terutama kepada para pemangku kepentingan, kepercayaan akan tumbuh, dan jalan menuju tata kelola yang baik akan lebih terang.

Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *