Upaya Penyelamatan Meylani Madalombang, PMI Asal Manado yang Terjebak di Libya Memasuki Babak Baru
Kisah penyelamatan Meylani Madalombang, seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Manado yang terjebak dalam kondisi memprihatinkan di Libya, kini memasuki babak baru. Setelah berbagai upaya dilakukan oleh keluarga dan pihak terkait, langkah hukum kini menjadi fokus utama untuk membantu Meylani pulang ke tanah air.
Libya, sebuah negara di benua Afrika Utara, berjarak sekitar 12.000 kilometer dari Manado, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Utara. Untuk mencapai negara ini, seseorang harus menempuh perjalanan udara dengan pesawat dan tiga kali transit. Namun, bagi Meylani, perjalanan ini justru menjadi awal dari kisah penderitaan yang sangat menyedihkan.
Pihak keluarga resmi melaporkan dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) ke Direktorat PPA dan PPO Polda Sulawesi Utara. Langkah hukum ini diambil setelah keluarga merasa segala upaya untuk memulangkan Meylani selalu menemui jalan buntu. Olivia, adik dari Meylani, mengungkapkan bahwa proses pemeriksaan terhadap pihak keluarga sebagai pelapor telah dilakukan oleh penyidik.
“Prosesnya hingga malam,” ujar Olivia saat dikonfirmasi via telepon. Dalam pelaporan tersebut, keluarga menyerahkan sejumlah bukti terkait dugaan pemberangkatan non-prosedural dan bukti komunikasi korban selama berada di Libya.
Kasus ini bermula saat Meylani dijanjikan oleh oknum penyalur untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga di Turki. Namun, realitanya ia justru dibawa ke Dubai sebelum akhirnya dipindahkan ke Libya. Dalam sebuah rekaman video yang diterima redaksi, Meylani tampak terisak meminta pertolongan pemerintah pusat.
“Saya korban TPPO, awalnya dijanjikan penyalur untuk bekerja di Turki, tapi kemudian saya dibawa ke Dubai dan setelah itu Libya, disini saya terjebak selama 11 bulan, bekerja sebagai IRT tanpa surat kontrak, saya dipekerjakan secara berlebihan, dieksploitasi, saya tak kuat, saya sudah sakit tulang belakang saya, majikan tak mau memulangkan saya, saya minta tolong pada menteri luar negeri, BP2MI dan Menteri HAM,” kata dia dalam rekaman tersebut.
Kondisi Fisik Meylani yang Menyedihkan
Kondisi Meylani saat ini dilaporkan sangat lemah. Olivia menceritakan bahwa kakaknya mengalami penyiksaan fisik saat bekerja pada majikan pertama di Benghazi. “Sebuah lemparan pisau melukai tangan kakak saya, kakak lantas minta pengobatan tapi tak diberikan,” katanya.
Penderitaan berlanjut saat pindah ke majikan kedua di Tripoli. Meylani dipaksa bekerja melampaui batas kemampuan fisik manusia tanpa waktu istirahat yang cukup. “Tanpa batas waktu, ia hanya tidur sedikit, lalu bangun pagi dan bekerja hingga sang majikan pulang pada malam hari,” katanya.
Akibat kerja paksa tersebut, Meylani kini mengalami gangguan kesehatan serius pada bagian tulang belakang hingga kesulitan untuk bangun dari tempat tidur. Melalui sambungan video call yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, keluarga melihat kondisi fisik Meylani yang kian memprihatinkan.
“Badannya kurus dan kelihatan sedih sekali, saya selalu kuatkan dia, minta dia terus berdoa agar ada jalan keluar,” ujar Olivia sambil berurai air mata.
Negara yang Sangat Tidak Aman bagi Imigran
Kisah Meylani adalah satu dari sekian banyak potret buram migran di Libya. Secara geografis, Libya memang strategis karena berbatasan dengan Laut Tengah, menjadikannya gerbang utama menuju Eropa. Namun, pasca-jatuhnya rezim Muammar Gaddafi pada 2011, negara ini berubah menjadi zona tanpa kepastian hukum.
Perpecahan pemerintahan antara faksi barat (Tripoli) dan timur menciptakan celah bagi milisi dan jaringan penyelundup manusia. Memasuki tahun 2026, meski pertempuran skala besar telah mereda pasca-gencatan senjata PBB, perlindungan terhadap pekerja migran tetap berada di titik nadir.
Ketidakstabilan politik memicu menjamurnya kerja paksa dan perbudakan. Migran kerap disiksa untuk memeras uang dari keluarga mereka. Fasilitas penahanan sering kali kekurangan akses makanan dan air bersih yang layak.
Keluarga Meylani di Manado kini hanya bisa berharap pada intervensi diplomatik tingkat tinggi. Olivia mewakili keluarga besar menyampaikan permohonan bantuan kepada para pemimpin negara.
“Juga pada Menteri dan pak Gubernur YSK,” katanya, seraya menitipkan harapan besar agar Presiden Prabowo Subianto dapat turun tangan membantu proses pemulangan kakaknya yang kian melemah di tanah rantau.












