Tak mampu tahan air mata, ini satu hal yang selalu disesali ayah Lula Lahfah setelah kepergian putrinya

Kehilangan yang Mendadak dan Penyesalan yang Tak Terkubur

Kabar duka datang seperti petir di siang bolong. Ayah Lula Lahfah, Feroz Marikar, mengaku syok ketika pertama kali mengetahui putrinya ditemukan tak bernyawa di apartemennya di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (23/1/2026). Tubuh Lula disebut sudah dalam kondisi kaku dan membiru saat ditemukan oleh petugas keamanan. Tidak ada firasat atau pesan terakhir yang bisa menjadi pegangan. Semuanya terasa begitu mendadak dan menyakitkan.

Di tengah isak pelayat, seorang ayah berdiri dengan mata sembab. Tangisnya sesekali pecah, menahan perasaan yang tak lagi bisa dibendung. Bagi Feroz, kehilangan ini bukan hanya tentang perpisahan, tetapi juga tentang penyesalan yang datang terlambat, penyesalan yang kini tak tergantikan.

Penyesalan yang Datang Terlambat

Di balik sikap pasrah itu, tersimpan satu luka yang terus menggerogoti hati seorang ayah. Feroz mengaku ada satu hal besar yang kini terus ia sesali, ketidaktahuannya akan kondisi kesehatan Lula yang ternyata sudah memburuk.

Selama ini, Lula sama sekali tak pernah mengeluhkan sakitnya kepada keluarga. Ia memilih diam, menahan rasa sakit sendirian, dan hanya bercerita kepada teman-teman terdekatnya. “Dia nggak pernah curhat. Kita juga tahu dari teman-terdekat dia. Itu yang kita sesalin,” tuturnya.

Feroz baru mengetahui bahwa putrinya mengidap GERD hingga pembengkakan usus justru dari cerita orang lain, bukan dari Lula sendiri. “Dia punya gerd yang sering kambuh, dia juga ada pembengkakan di usus, tapi dia nggak pernah keluhin ke keluarga, dia ngeluhnya sama temen-temen terdekat. Dia bilang sakit banget di perut bagian kiri,” lanjut Feroz.

Kalimat “seandainya” pun tak terucap, namun maknanya terasa begitu kuat. Jika saja ia tahu lebih awal, Feroz yakin semuanya mungkin akan berbeda. “Tapi kita nggak tahu, kalau kita tahu kita suruh dia berobat kalau nggak di sini ya di luar,” katanya lirih.

Sosok Lula di Mata Keluarga

Bagi keluarga, Lula dikenal sebagai sosok yang tak ingin merepotkan orang lain. Ia memilih memendam rasa sakitnya sendiri, seolah tak ingin membuat orang-orang terdekatnya khawatir. Menurut Feroz, putrinya menahan semua keluhan itu hingga batas terakhir tubuhnya. “Ya itu dia tahan, dia tahan sampai akhirnya tadi malem (meninggal dunia),” tutupnya.

Sosok Lula yang kuat di luar, namun rapuh di dalam, kini hanya tinggal kenangan. Seorang anak yang memilih diam, namun menyisakan duka mendalam bagi mereka yang ditinggalkan.

Banjir Doa dari Sahabat dan Netizen

Kepergian Lula Lahfah juga mengguncang media sosial. Sejak kabar duka menyebar, kolom komentar akun-akun hiburan dipenuhi doa dan ungkapan belasungkawa dari warganet. Banyak yang mengaku terkejut, mengingat awal Januari 2026 lalu Lula sempat membagikan video dirinya dirawat di rumah sakit melalui akun TikTok pribadinya, @lulahfah.

Dalam video tersebut, tangan Lula terlihat terpasang infus. Saat itu, seorang warganet sempat bertanya tentang kondisi kesehatannya. “Emang kakaknya sakit apa?” Lula pun menjawab dengan jujur, menyebut sejumlah penyakit yang dideritanya. “Borongan, ISK, usus bengkak radang, batu ginjal, gerd,” jawab Lula.

Kini, jawaban sederhana itu terasa seperti isyarat yang terlambat disadari. Doa demi doa terus mengalir, mengiringi kepergian Lula menuju peristirahatan terakhirnya, meninggalkan penyesalan, rindu, dan cinta yang tak akan pernah tergantikan.

Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *