Peluang Harga Emas Mencapai Rp 3 Juta Per Gram
Tren harga emas saat ini terus meningkat, bahkan berpotensi melebihi angka Rp 3 juta per gram. Data pada grafik Sahabat Pegadaian menunjukkan bahwa harga emas terus mengalami kenaikan hingga Sabtu (24/1/2026) malam.
Harga emas per gram untuk Galeri24 naik sebesar Rp 10.000 dari Rp 2.915.000 menjadi Rp 2.925.000. Sementara itu, merk UBS melangkah lebih tinggi sebesar Rp 18.000 dari Rp 2.956.000 ke Rp 2.974.000. Antam juga mengalami kenaikan sebesar Rp 7.000 menjadi Rp 2.887.000.
Menurut Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, Guru Besar Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), naik turunnya harga emas sangat bergantung pada kondisi ekonomi global. Ia menjelaskan bahwa jika tidak ada berita baik dari kondisi geopolitik global, harga emas bisa mencapai Rp 3 juta per gram.
Kondisi banyak negara yang sedang berperang memengaruhi harga emas dari hari ke hari. Jika negara-negara tersebut sepakat berdamai, bukan tidak mungkin harga emas akan stabil. Namun, jika situasi geopolitik dunia semakin memburuk, maka kenaikan harga emas hingga level Rp 3 juta sangat mungkin terjadi.
Beli Sekarang atau Tunggu?
Lonjakan tarif emas yang belum mereda membuat sebagian masyarakat dan investor bimbang. Banyak orang bingung apakah momentum ini cocok untuk membeli emas atau lebih baik menunggu sampai harganya turun.
Menurut Anton, keputusan membeli emas sekarang sangat bergantung pada tujuan investasi. Jika tujuannya untuk mencari untung atau spekulasi, beli sekarang bisa menjadi pilihan. Ia menjelaskan bahwa ke depan harga emas masih akan terus naik.
Ihwal peluang harga emas menurun, Anton kembali menarik benang merah dengan kondisi perekonomian secara umum dan pilihan investasi lainnya. Ia menekankan bahwa investasi yang baik sejatinya bukan hanya sekadar menyimpan aset, melainkan mengalirkan uang dalam sektor real.
“Artinya, uang investasi itu digunakan untuk usaha-usaha yang real, seperti pembangunan pabrik atau bisnis,” jelasnya. Syukur-syukur, sektor yang berbentuk manufaktur yang menghasilkan produk fisik, menciptakan nilai tambah, menyerap tenaga kerja hingga meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Anton juga mencontohkan aliran dana investasi yang ditabung atau didepositokan ke perbankan. Dana tersebut kemudian disalurkan sebagai pinjaman ke sektor usaha real hingga privat untuk berbisnis. Dari proses tersebut, perbankan tumbuh, dan pelaku usaha berkembang, dan investor mendapatkan hasil.
“Atau pilihan kedua investor bisa membeli saham, kemudian saham itu menjadi tambahan modal bagi perusahaan,” sebut Anton. “Perusahaan memutar uangnya ke sektor real kemudian investor tadi mendapatkan return berupa dividen. (Investasi) yang sehat seperti itu,” tambahnya.
Investasi Emas vs Investasi Lain
Berbeda dengan investasi emas, Anton menjelaskan ketika investor membeli emas untuk disimpan dan mencari keuntungan, tidak ada aliran modal ke sektor real. “Namun sekarang situasinya sedang tidak baik-baik saja, penuh ketidakpastian, orang ketika berbisnis risikonya lebih besar daripada keuntungannya,” tutur Anton.
Ketika kondisi ekonomi secara umum bermasalah dan tidak membaik, maka sebagian orang akan memilih berinvestasi emas. “Jadi jawaban harga emas akan turun atau tidak itu tergantung pada apakah pemerintah mampu memperbaiki kondisi ekonomi,” jelas Anton.
“Ini saja sebenarnya tidak cukup juga. Harga emas akan pula tergantung pada kondisi ekonomi global,” tegas Anton.
Harga Emas Naik Jadi Sinyal Buruk Perekonomian
Lonjakan harga emas yang terjadi secara terus menerus menjadi sinyal buruk terhadap perekonomian. “Makna kenaikan emas itu sebenarnya sinyal buruk bagi perekonomian. Artinya, masyarakat, investor, konsumen itu tidak yakin dengan kondisi ekonomi ke depan,” ulas Anton.
Ketidakyakinan tersebut mendorong investor untuk berlomba-lomba membeli instrumen emas. “Kalau semua orang portofolio investasinya emas, menandakan ekonomi tidak baik-baik saja. Kita bisa melihat kemarin World Bank dan IMF menunjukkan laporan untuk perekonomian global yang mengalami perlambatan,” kata Anton.
Salah satu pemicunya adalah kondisi geopolitik global yang tidak kondusif. “Bagaimana kebijakan presiden Trump di Venezuela, rencana menguasai Greenland meski belakangan agak turun ketegangannya, kemudian krisis politik di Iran,” kata Anton. “Lalu secara khusus Venezuela, karena mempunyai cadangan minyak yang terbesar di dunia. Kemudian kondisi Iran yang bisa mempengaruhi suplai minyak dunia juga. Hal-hal ini mengkhawatirkan bagi investor global,” lanjut Anton.
Anton menambahkan, belum lagi ditambah krisis ekonomi di Inggris dengan angka penganggurannya. “Kemudian Amerika sendiri dengan pola kebijakan politiknya Trump yang menyebabkan dunia jadi lebih tidak stabil,” sebutnya. Faktor tersebutlah yang mendorong investor memilih menunggu dan mengamankan asetnya dalam bentuk emas.












