JAKARTA – Wakil Perdana Menteri Tiongkok He Lifeng mengungkapkan rencana perluasan akses pasar domestik negaranya sebagai upaya untuk meredam ketegangan perdagangan global. Hal ini dilakukan di tengah sorotan terhadap lonjakan surplus dagang Tiongkok, yang menjadi perhatian banyak negara. Pernyataan tersebut disampaikan He dalam Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) di Davos, Swiss, pada Selasa (20/1/2026).
He, yang merupakan pejabat kunci dalam pengambilan kebijakan ekonomi dan negosiator utama Tiongkok, berupaya menenangkan kekhawatiran dunia akan banjir ekspor dari negara dengan industri manufaktur terbesar di dunia. Menurutnya, Tiongkok, yang mencatatkan surplus perdagangan sebesar 1,2 triliun dolar AS pada tahun lalu, memandang dirinya sebagai mitra dagang, bukan pesaing.
“Kami tidak pernah mencari surplus perdagangan. Selain menjadi pabrik dunia, kami juga berharap menjadi pasar dunia,” ujar He, seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (21/1/2026).
Pernyataan He juga dimaksudkan untuk memberikan kontras dengan ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang sebelumnya memperingatkan Presiden Prancis Emmanuel Macron tentang tarif tinggi terhadap anggur Prancis setelah Paris menolak mendukung inisiatif perdamaian Trump.
Dalam pidatonya di Davos, He menyebut Tiongkok sebagai pendukung kerja sama, perdagangan bebas, dan multilateralisme. Ia menekankan bahwa pembangunan Tiongkok merupakan peluang, bukan ancaman bagi perekonomian global.
Beberapa bulan sebelumnya, He menjadi salah satu pejabat utama yang mewakili Tiongkok dalam perundingan dengan Amerika Serikat untuk meredakan ketegangan setelah perang tarif yang dipicu oleh Trump. Pembicaraan antara tim AS yang dipimpin Menteri Keuangan Scott Bessent dan Perwakilan Dagang Jamieson Greer berakhir dengan kesepakatan gencatan senjata dagang pada Oktober lalu.
Bessent, yang bertemu informal dengan He di Davos pada Senin (19/1/2026), menyebut Tiongkok telah memenuhi kesepakatan pembelian kedelai AS. Kedua negara menargetkan pembelian sekitar 25 juta ton dalam satu tahun ke depan. Meski demikian, Bessent menyarankan Tiongkok untuk membeli sedikit lebih banyak, mengingat isu ini sering diangkat oleh Trump dalam pertemuan dengan Presiden Xi Jinping.
Selain itu, pasokan magnet tanah jarang—yang menjadi titik krusial dalam negosiasi perdagangan 2025—telah “mengalir sesuai harapan” dengan tingkat pemenuhan di kisaran 90%.
Meskipun kesepakatan satu tahun tersebut meredakan ketegangan antara dua ekonomi terbesar dunia, langkah Trump di sejumlah negara yang bersekutu dengan Tiongkok, seperti Venezuela dan Iran, berpotensi menguji rapuhnya perdamaian dagang tersebut. Namun, sampai saat ini, gencatan senjata masih bertahan.
Xi dan Trump dijadwalkan bertemu empat kali tahun ini, dengan pertemuan puncak pada April yang berpeluang menjadikan Trump sebagai pemimpin kelima negara G7 yang mengunjungi Tiongkok dalam kurun setengah tahun.
Greer mengatakan kepada wartawan di Davos bahwa peluang perundingan perdagangan lanjutan dengan Tiongkok terbuka sebelum pertemuan Trump dan Xi pada April. Dia mengisyaratkan putaran berikutnya dapat melampaui isu-isu sensitif seperti persaingan teknologi dan pasokan magnet tanah jarang yang vital bagi rantai pasok industri global.
Dalam pidatonya di Davos, He menyerukan agar Tiongkok dan AS memanfaatkan peluang kerja sama yang saling menguntungkan. Dalam sindiran halus terhadap pembatasan teknologi tertentu, dia mengatakan Tiongkok sering ingin membeli produk asing, tetapi pihak lain tidak ingin menjual.
“Isu perdagangan sering kali berubah menjadi hambatan keamanan,” ujarnya.
Sebagai sinyal mencairnya hubungan dengan AS, pemerintahan Trump dilaporkan semakin dekat untuk mengizinkan Nvidia Corp. menjual chip yang lebih canggih ke Tiongkok, meski masih menahan produk kelas atas.
Sementara itu, perekonomian Tiongkok mencapai target pertumbuhan resmi sekitar 5% tahun lalu, berdasarkan data yang dirilis Senin. Namun, meski ekspor menjadi penopang utama ekonomi terbesar kedua dunia, perlambatan sektor properti dan lemahnya investasi membatasi permintaan Tiongkok terhadap barang impor.
Deflasi domestik juga mendorong depresiasi yuan secara riil, sehingga produk Tiongkok menjadi lebih kompetitif di pasar global. Kondisi ini memicu kekhawatiran di berbagai negara, seiring meningkatnya ekspor Tiongkok ke Afrika, Amerika Latin, dan kawasan lainnya.
Otoritas Tiongkok mengambil sejumlah langkah untuk meredakan ketegangan perdagangan, termasuk mengurangi insentif pajak ekspor untuk ratusan produk seperti sel surya dan baterai. Uni Eropa juga tengah mempertimbangkan penerapan sistem harga minimum untuk kendaraan listrik Tiongkok sebagai pengganti tarif impor.
He menegaskan Tiongkok berupaya memperkuat sektor konsumsi sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi dengan meningkatkan pendapatan dan permintaan domestik.
“Kami ingin membangun Tiongkok sebagai kekuatan konsumsi, di samping kekuatan manufaktur,” ujarnya.
Menurut He, pembangunan Tiongkok terutama merupakan hasil dari reformasi, keterbukaan, dan inovasi, bukan semata-mata akibat subsidi pemerintah.












