Target 2025 Terpenuhi, Ekonomi Tiongkok Menghadapi Ujian Berat 2026



JAKARTA – Perlambatan dan melemahnya konsumsi domestik menjadi tantangan besar bagi keberlanjutan pertumbuhan China pada 2026. Produksi industri masih bertahan cukup solid pada Desember, namun penjualan ritel dan investasi China justru melemah lebih dalam dari perkiraan. Perekonomian China tumbuh 4,5% secara tahunan pada kuartal IV/2025, menjadi laju paling lambat sejak China membuka kembali aktivitas ekonomi pascapembatasan Covid-19 pada akhir 2022.

Berdasarkan data Biro Statistik Nasional (National Bureau of Statistics/NBS), produk domestik bruto (PDB) China tumbuh 5% pada 2025. Angka ini mengonfirmasi pernyataan Presiden Xi Jinping dalam pidato malam Tahun Baru sekaligus sejalan dengan pertumbuhan pada 2024. Kepala Ekonom China Macquarie Group, Larry Hu, menilai capaian target pertumbuhan tersebut menyembunyikan pelemahan fundamental permintaan domestik. Meski mencapai target pertumbuhan 5%, ekonomi China sebenarnya mencatat pelemahan pertumbuhan tahunan dari kuartal ke kuartal sepanjang 2025.

Tantangan Utama

Menurut Hu, tantangan utama bukan sekadar angka pertumbuhan, melainkan kemampuan China keluar dari pola pertumbuhan. Konsumsi rumah tangga dan investasi korporasi masih lesu, tertekan oleh pasar tenaga kerja yang lemah serta penurunan harga properti. Di sisi lain, sektor manufaktur tetap tertopang daya saing industri dan ketahanan eksportir, meski menghadapi hambatan perdagangan global. Kondisi ini menjaga pertumbuhan output industri di atas 5% sepanjang sebagian besar 2025.

Kepala NBS Kang Yi menyebutkan bahwa ekspor bersih menyumbang sepertiga pertumbuhan ekonomi China pada 2025. Kontribusi tersebut merupakan yang tertinggi sejak 1997, ketika porsinya mencapai 42%. Pola pertumbuhan yang tidak seimbang ini diperkirakan berlanjut pada 2026. Kendati Beijing menunjukkan sinyal dukungan yang lebih besar kepada konsumen, pemerintah diperkirakan enggan menggelontorkan stimulus besar-besaran karena masih dibayangi risiko utang pemerintah daerah.

Target 2035 dan Tantangan

Pemerintah China kini dihadapkan pada tantangan berat untuk mencapai target menjadikan Negeri Panda sebagai negara berpendapatan menengah-atas pada 2035. Target tersebut menuntut rata-rata pertumbuhan sekitar 4,17% per tahun selama satu dekade ke depan. Kuartal I/2026 berpotensi menjadi periode yang menantang akibat basis pembanding yang tinggi, menyusul lonjakan ekonomi pada awal 2025 yang didorong oleh percepatan ekspor dan subsidi konsumsi.

Dalam pernyataannya, NBS menyebut ekonomi China mampu bertahan dari berbagai tekanan dan mencatat kemajuan stabil sepanjang 2025. Namun, lembaga tersebut juga mengakui dampak lingkungan eksternal kian dalam, sementara ketidakseimbangan antara pasokan domestik yang kuat dan permintaan yang lemah semakin menonjol.

Surplus Perdagangan dan Deflasi

Setelah berbulan-bulan dilanda ketidakpastian tarif, China dinilai berhasil membuktikan ketahanan model ekonomi berbasis ekspor. Surplus perdagangan barang yang menembus rekor US$1,2 triliun memberi ruang bagi otoritas untuk mengatasi berbagai kerentanan struktural, mulai dari tekanan deflasi hingga krisis properti dan tantangan demografi. Pertumbuhan ekonomi nominal—yang tidak disesuaikan dengan perubahan harga—tercatat hanya 4% pada 2025, terendah sejak 1976 di luar periode pandemi 2020.

Populasi China juga menyusut untuk tahun keempat berturut-turut, dengan jumlah kelahiran pada 2025 turun ke rekor terendah di bawah 8 juta bayi dan tingkat kelahiran menjadi yang terendah sejak 1949. Dalam kondisi inflasi yang lemah, pertumbuhan nominal dinilai lebih mencerminkan dinamika upah, laba, dan penerimaan pemerintah. Pertumbuhan upah sebagai komponen pendapatan rumah tangga melambat menjadi 5,3% pada kuartal IV/2025, terlemah sejak awal 2023.

Deflasi Berkepanjangan

Deflasi telah berlangsung selama tiga tahun berturut-turut, menjadi periode terpanjang sejak China beralih ke ekonomi pasar pada akhir 1970-an. Selain Jepang, tidak ada ekonomi besar lain yang mengalami penurunan harga berkepanjangan sejak Perang Dunia II. Pemerintah China berkomitmen meningkatkan porsi konsumsi dalam perekonomian secara signifikan melalui rencana lima tahun yang mulai berlaku pada 2026, sembari tetap menjadikan teknologi dan manufaktur sebagai prioritas utama.

Perkembangan Ekonomi 2026

Beijing juga berjanji menghentikan penurunan investasi yang telah berlangsung lama, meski efektivitas realisasinya di tingkat daerah masih menjadi tanda tanya. Presiden Xi Jinping menekankan efisiensi dan mendorong pemerintah menekan persaingan tidak sehat antarkorporasi melalui kampanye “anti-involution” untuk membatasi perang harga yang menggerus profitabilitas.

Pemerintah China mempertahankan target pertumbuhan sekitar 5% dalam tiga tahun terakhir. Namun, sejumlah bank global seperti Goldman Sachs Group Inc. dan Standard Chartered Plc mulai memperkirakan target 2026 akan diturunkan ke kisaran 4,5%–5%. Ekonom Greater China Societe Generale SA, Michelle Lam, menilai konsumsi masih akan tertinggal, sementara pelonggaran sektor properti belum sepenuhnya jelas. Meski demikian, ekspor diperkirakan tetap tangguh pada 2026.

Permintaan domestik sepanjang 2025 dinilai tetap tertekan, terutama jika mengecualikan dampak subsidi pemerintah senilai 300 miliar yuan untuk pembelian barang konsumsi. Kepala Ekonom China BNP Paribas SA, Jacqueline Rong, mencatat investasi pada Desember justru terkontraksi pada laju tercepat tahun lalu, meski pemerintah sempat menambah stimulus terbatas di akhir 2025.

Ruang Stimulus Fiskal dan Pelonggaran Moneter

Ruang stimulus fiskal pada 2026 diperkirakan lebih sempit dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, pelonggaran moneter berpeluang berperan lebih besar, seiring tekanan ekonomi dan pelemahan sektor properti. Rong memperkirakan penurunan suku bunga dan rasio giro wajib minimum perbankan bisa dilakukan mulai Maret. “Jelas bahwa permintaan domestik tetap sangat lemah, sementara ekspor justru luar biasa kuat,” pungkasnya.

Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *