5 Kontroversi Internasional: Trump dan Demo Besar di AS Terkait Iran

Berita Terkini: Kontroversi Nobel, Demonstrasi di AS, dan Tensi Politik Global

Beberapa isu penting yang sedang menjadi sorotan dunia dalam 24 jam terakhir mencakup kontroversi pemberian medali Nobel Perdamaian kepada Donald Trump, gelombang demonstrasi besar-besaran di Amerika Serikat (AS) menentang tindakan keras Iran terhadap pengunjuk rasa, serta pernyataan-pernyataan keras dari tokoh-tokoh politik global.

Trump Menawarkan Iuran Besar untuk Dewan Perdamaian Gaza

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengusulkan skema iuran yang sangat besar bagi negara-negara yang ingin tetap menjadi anggota tetap dalam Dewan Perdamaian Gaza. Usulan ini dilaporkan oleh Bloomberg, yang mengutip draf piagam internal Dewan Perdamaian Gaza.

Dalam usulan tersebut, setiap negara diminta membayar hingga 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp16,9 triliun sebagai syarat keanggotaan jangka panjang. Tujuan dari rencana ini adalah memastikan bahwa hanya negara-negara dengan komitmen finansial besar yang terlibat langsung dalam pengambilan keputusan terkait masa depan Gaza.

Trump menilai bahwa rekonstruksi Jalur Gaza membutuhkan dana besar dan berkelanjutan, tidak hanya untuk membangun kembali infrastruktur yang hancur akibat konflik, tetapi juga untuk membiayai sistem keamanan, pemerintahan transisi, serta program stabilisasi jangka panjang.

Sebagai imbalannya, negara-negara yang membayar iuran tersebut ditawari posisi strategis dalam struktur Dewan Perdamaian Gaza. Keanggotaan jangka panjang memberi hak bagi negara tersebut untuk terlibat langsung dalam perumusan kebijakan utama, mulai dari arah rekonstruksi ekonomi, desain tata kelola pemerintahan Gaza, hingga keputusan keamanan terkait perlucutan senjata Hamas.

Ribuan Orang di AS Gelar Demo Besar-besaran, Kecam Tindakan Iran pada Pengunjuk Rasa Anti-Pemerintah

Ribuan orang di Amerika Serikat (AS) menggelar demonstrasi besar-besaran, Minggu (18/1/2026), untuk mengecam tindakan keras pemerintah Iran terhadap para pengunjuk rasa anti-pemerintah di Republik Islam.

Demonstrasi di AS itu terjadi di Los Angeles, kota tempat diaspora Iran terbesar di dunia berada, sementara beberapa ratus orang lainnya berkumpul di New York. Para demonstran AS terlihat membawa tanda-tanda yang mengecam “Holocaust Baru,” “genosida yang sedang direncanakan,” dan “teror” pemerintah Iran.

Sebagian orang dalam kerumunan di LA bahkan menyerukan pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, yang telah berkuasa selama lebih dari 25 tahun. Banyak demonstran di kota California itu meneriakkan slogan-slogan dukungan untuk Presiden AS dan Reza Pahlavi, putra mantan Shah Iran yang digulingkan oleh pemberontakan rakyat pada tahun 1979.

Presiden Iran: Serangan Apa Pun terhadap Pemimpin Tertinggi Khamenei Akan Menjadi Deklarasi Perang

Presiden Iran memperingatkan bahwa serangan apa pun terhadap pemimpin tertinggi negara itu akan dianggap sebagai deklarasi perang. Akses internet sempat kembali pulih di Iran sebelum kembali terputus, kata sebuah lembaga pemantau pada Minggu (18/1/2026).

Warga Iran mengalami pemadaman internet selama setidaknya 10 hari. Kelompok hak asasi manusia berpendapat pemadaman itu bertujuan menutupi penindakan terhadap protes yang menewaskan ribuan orang. Demonstrasi yang dimulai pada akhir Desember 2025, dipicu oleh kemarahan warga atas jatuhnya nilai mata uang dan kesulitan ekonomi.

Unjuk rasa tersebut mereda pada 8 Januari 2026 setelah dilakukan penindakan tegas oleh pasukan keamanan. Para pejabat Iran menyatakan demonstrasi awalnya berlangsung damai sebelum berubah menjadi “kerusuhan”, dan menyalahkan campur tangan asing, termasuk Amerika Serikat dan Israel.

Hadiah Nobel Tak Dapat Dialihkan ke Orang Lain, Gedung Putih Masih Berharap Pencapaian Trump Diakui

Yayasan Nobel menegaskan bahwa Hadiah Nobel tidak dapat dialihkan atau diserahkan kepada orang lain. Sebagai informasi, Hadiah Nobel Perdamaian 2025 dianugerahkan kepada pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado.

Namun, pada 15 Januari 2026, Machado memberikan medali Nobel tersebut kepada Donald Trump. Yayasan Nobel dalam pernyataan tertanggal 18 Januari menyatakan bahwa keputusan Machado untuk menyerahkan medali itu kepada Trump tidak mengubah penerima resmi penghargaan tersebut.

Direktur Komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, menuntut agar Yayasan Nobel setidaknya menyoroti pencapaian Trump jika ia tidak dapat dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian. Cheung berpendapat bahwa Trump berhak mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian atas upayanya mengakhiri konflik global di berbagai belahan dunia.

Trump Kembali Desak Iran, Minta Era 37 Tahun Khamenei Harus Diakhiri

Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyerukan diakhirinya pemerintahan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang telah berkuasa selama 37 tahun. Trump menilai bahwa kepemimpinan Khamenei selama 37 tahun bertumpu pada penindasan sistematis dan penggunaan kekerasan untuk mempertahankan kekuasaan.

Ia menuduh pemerintah Iran menggunakan eksekusi massal, penangkapan besar-besaran, serta pembatasan komunikasi nasional, termasuk pemadaman internet, sebagai alat untuk membungkam perlawanan publik. Trump secara terbuka menyalahkan Khamenei atas jatuhnya ribuan korban jiwa dalam penanganan demonstrasi anti-pemerintah.

Trump juga mengaitkan krisis internal Iran dengan kegagalan kepemimpinan politik dan ekonomi di bawah Khamenei. Ia menyebut Iran sebagai negara yang mengalami “kehancuran total,” dengan ekonomi terpuruk, isolasi internasional yang semakin dalam, serta meningkatnya ketidakpuasan rakyat akibat sanksi, inflasi, dan pengangguran.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *