Sampah 7 Ton Menumpuk di Pulau Padar, PHC Berkomitmen pada Zero Waste

Upaya Konservasi di Pulau Padar

Padar Heritage Conservation (PHC) terus berupaya mengelola kawasan Pulau Padar, Labuan Bajo, dengan tujuan menuju zero waste. Salah satu tindakan nyata yang dilakukan adalah pengumpulan sampah non-organik sebanyak 7 ton sepanjang tahun 2025. Sebanyak 78 kali kegiatan korve telah dilaksanakan untuk mencapai target tersebut.

Aktivitas Pengumpulan Sampah

Pantauan di Posko Padar bagian Utara menunjukkan aktivitas pagi yang dilakukan oleh personel PHC. Mereka menyusuri jalur kerikil dan rumpul ilalang menuju bibir pantai yang indah berwarna pink. Seorang anggota mendorong gerobak sementara yang lainnya berjalan di belakang.

Di bibir pantai, puluhan karung berisi sampah sudah terkumpul. Sampah-sampah tersebut terdiri dari plastik, kaleng aluminium, dan jenis sampah lainnya. Setelah diangkut ke atas gerobak, karung-karung tersebut dibawa ke sebuah pondok kecil yang digunakan sebagai tempat penyimpanan.

Tiang pondok terbuat dari kayu dan ditutupi terpal berwarna hijau dan biru, menyerupai kemah. Di dalamnya, sampah-sampah dikumpulkan setelah terlebih dahulu ditimbang. Timbangan digantungkan, dan para personel PHC secara bergantian menimbang setiap karung.

Setelah ditimbang, sampah tersebut langsung ditumpuk bersama sampah yang lain. Ada satu anggota yang bertugas mencatat setiap berat sampah yang ditimbang. Di sisi timur tempat penyimpanan, terdapat papan bergambar Pulau Padar dengan pesan-pesan konservasi yang disertai foto-foto kegiatan konservasi di pulau tersebut.

Penjelasan dari Plt Direktur PHC

Ketika dikonfirmasi pada Jumat (9/1/2026), Plt Direktur PHC, Qrei Poluakan menjelaskan bahwa Pulau Padar merupakan salah satu lokasi wisata yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Tujuan utamanya adalah menjaga keindahan pulau tersebut agar tidak tercoreng oleh sampah.

“Jenis sampah yang dikumpulkan hanya non-organik karena sampah organik seperti kayu bisa terurai,” jelas Qrei. Sampah-sampah yang dikumpulkan masih ditimbun di Pulau Padar dan belum dibuang ke Labuan Bajo karena masih dicari opsi daur ulang atau recycle.

Qrei berharap sampah-sampah tersebut akan diolah baik oleh PHC maupun pihak lain yang bekerja sama dengan PHC. Data-data tentang sampah ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran pelaku wisata dan warga sekitar Pulau Padar serta Taman Nasional Komodo.

“Harus disadari pentingnya pengelolaan sampah yang baik demi menjaga keindahan Pulau Padar dan seluruh Taman Nasional Komodo untuk generasi mendatang,” ujar Qrei.

Keindahan Alami Pulau Padar

Pulau Padar merupakan salah satu pulau dalam kawasan Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo. Pulau ini ramai dikunjungi wisatawan karena keindahan alamnya. Hamparan padang savana yang rimbun di atas bukit-bukit, pesona teluk dan tanjung yang indah dihiasi buih ombak di bibir pantai.

Salah satu spot fotonya yang menantang adalah saat wisatawan harus mendaki bukit melewati ribuan anak tangga untuk mendapatkan pemandangan yang elok. Lekukan teluk dan tanjung di sisi kiri dan kanan menjadi icon unggulan pesona keindahan pariwisata Labuan Bajo sebagai kota pariwisata super prioritas.

Hewan yang hidup di daratan Pulau Padar adalah komodo dan rusa Timor. Tumbuhannya meliputi rerumputan, bidara, beringin, dan lainnya. Di pulau ini juga terdapat beberapa spot pantai yang menarik, yaitu Long Beach satu hingga Long Beach tiga, dengan pasir berwarna pink yang menambah keindahan.

Untuk mencapai Pulau Padar, wisatawan menempuh perjalanan selama satu jam di atas laut menggunakan sepadboat atau kapal wisata yang dipesan melalui agen pariwisata.

Adapun dua pos penjagaan di Pulau Padar, yaitu Pos Padar di dekat jalur pendakian, dan Pos Padar Utara. Setiap pos terdapat petugas dari Taman Nasional Komodo.


Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *