Gibran Rakabuming Raka Tampil Santai Bersama Komika, Memicu Reaksi Publik
Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, kembali menjadi sorotan publik. Kali ini bukan karena agenda kenegaraan atau pernyataan politik, melainkan lewat sebuah konten santai di media sosial yang justru memantik gelombang reaksi luas.
Dalam sebuah unggahan Instagram pada Jumat (16/1/2026), Gibran tampil duduk santai bersama dua komika ternama, Coki Pardede dan Tretan Muslim. Suasana akrab, ringan, dan penuh canda menjadi latar percakapan yang kemudian viral dan ramai diperbincangkan warganet.
Candaan Dimulai: “Ngantuk” Jadi Bahan Roasting
Percakapan dibuka oleh Tretan Muslim yang langsung menggoda Coki Pardede dengan nada bercanda. “Bro, ente mau syuting kok malah ngantuk gitu sih, Cok?” tanya Tretan kepada Coki yang duduk di sebelahnya.
Tak tinggal diam, Coki langsung membalas dengan gaya khasnya. Ia menunjuk ke arah Gibran yang duduk di sampingnya, seolah melemparkan bola candaan ke Wakil Presiden. “Eh, gue enggak ngantuk kali. Yang ngantuk mah dia,” kata Coki sambil menunjuk Wapres Gibran dengan ibu jari.
Respons Santai Wapres Gibran
Alih-alih tersinggung atau bereaksi berlebihan, Gibran justru menanggapi candaan tersebut dengan sikap tenang. Ia hanya tersenyum, menunjukkan gestur santai dengan mengacungkan jempol ke arah kamera.
Momen tersebut semakin mencair ketika Coki menyodorkan segelas es kopi susu kepada Gibran. “Mas, biar enggak ngantuk kopi,” kata Coki.
Adegan singkat itu kemudian menyebar luas di berbagai platform media sosial, menuai beragam respons dari netizen.
Viral dan Dipenuhi Komentar Publik
Unggahan tersebut dengan cepat menjadi viral. Kolom komentar dipenuhi beragam tanggapan, mulai dari pujian atas sikap santai Gibran hingga candaan lanjutan dari warganet.
Salah satu komentar yang paling menyita perhatian datang dari komika Pandji Pragiwaksono. Pandji, yang sebelumnya sempat menjadi sorotan karena materi komedinya di acara Mens Rea, turut memberikan komentar bernada satir. “Mas Gib mah selalu santay. Pendukungnya nih yang enggak,” katanya.
Tak berhenti di situ, Coki Pardede kembali menimpali komentar tersebut dengan gaya khasnya. “Tapi jujur, emang matanya nguantuk sih,” tambahnya.
Komentar Pandji dalam unggahan tersebut tak lepas dari konteks polemik yang sedang menjerat dirinya.
Latar Belakang Pelaporan
Sebelumnya, Pandji dilaporkan ke kepolisian atas dugaan penghasutan dan penistaan agama. Laporan tersebut tercatat dengan nomor LP/B/166/I/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA dan diajukan atas nama Angkatan Muda Nahdlatul Ulama (NU) serta Aliansi Muda Muhammadiyah.
Ketua Aliansi Muda Muhammadiyah, Tumada, menjelaskan bahwa laporan tersebut berangkat dari keresahan para kader terhadap materi Pandji yang ramai beredar di media sosial. Menurut Tumada, para kader kemudian berkumpul untuk mendiskusikan dan mengkaji materi tersebut secara mendalam, sebelum akhirnya memutuskan untuk menempuh jalur hukum.
Pernyataan Kontroversial Soal Tambang dan Politik Balas Budi
Dalam materinya, Pandji menyebut bahwa NU dan Muhammadiyah memperoleh jatah pengelolaan tambang sebagai imbalan dukungan suara kepada pasangan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka. Ia menilai praktik tersebut turut berkontribusi terhadap membesarnya komposisi kabinet presiden terpilih.
“Ada yang ngerti politik balas budi? Gue kasih lo sesuatu, tapi lo kasih gue sesuatu lagi. Emang lo pikir kenapa NU sama Muhammadiyah bisa ngurus tambang? Karena diminta suaranya,” tutur Pandji dalam materinya, dikutip Sabtu (10/1/2026).
Pandji juga menyebut bahwa tawaran serupa sejatinya diberikan kepada organisasi keagamaan lain, namun tidak semuanya menerima. “Sebenarnya enggak cuma ormas Islam aja, semua ormas agama ditawarin, tapi agama lain nolak. Gue dengar HKBP nolak,” kata dia.
Respons Kader dan Penegasan Sikap
Atas pernyataan tersebut, kader dari dua organisasi kepemudaan itu kemudian berkoordinasi dan sepakat melaporkan Pandji ke pihak kepolisian. Mereka menilai bahwa praktik pengelolaan tambang tidak dapat digeneralisasi sebagai sikap organisasi secara keseluruhan, karena hanya melibatkan individu-individu tertentu.
“Kami merasa bahwa itu bukan Muhammadiyah-nya tapi perorangannya (mendapat keuntungan dari praktik balas budi). Yang mana kemudian kalau kita berbicara soal organisasi per hari ini, itu tidak bisa dibawa-bawa,” kata Mada kepada Kompas.com, Jumat (9/1/2026).
Mada juga menegaskan bahwa laporan tersebut tidak membawa nama Muhammadiyah sebagai organisasi induk.
Klarifikasi, Bukan Pemidanaan
Lebih lanjut, Mada menyampaikan bahwa pelaporan tersebut bukan semata-mata bertujuan untuk memidanakan Pandji, melainkan membuka ruang klarifikasi melalui jalur hukum yang sah.
“Langkah yang kami tempuh itu bukan semata-mata untuk pemidanaan. Melainkan sebagai mekanisme klarifikasi dan evaluasi melalui jalur yang sah. Maka kami menyerahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum untuk menilai sesuai ketentuan yang berlaku,” jelas dia.
Ia mengakui bahwa sebagian pihak menganggap pelaporan tersebut berlebihan, mengingat materi disampaikan dalam konteks komedi. Namun menurutnya, komedi yang dipublikasikan secara luas di platform digital memiliki dampak sosial yang tidak bisa diabaikan.
“Ketika di ruang publik dengan jangkauan luas, komedi juga kan sebenarnya memiliki dampak sosial,” ujar dia.
Polisi Mulai Susun Penyelidikan
Menanggapi laporan tersebut, kepolisian menyatakan akan menyusun rencana penyelidikan dengan memeriksa barang bukti dan saksi yang diajukan pelapor. Barang bukti yang diserahkan antara lain flashdisk USB berisi rekaman pernyataan Pandji, cetakan tangkapan layar video terkait, serta dokumen tertulis berupa rilis aksi.
Kasubbid Penmas Bidhumas Polda Metro Jaya Kombes Reonald Simanjuntak menyebut bahwa penyidik juga akan memanggil Pandji untuk memberikan klarifikasi. “Penyidik akan klarifikasi dari apa yang disampaikan oleh Pelapor tentang Terlapor, untuk membuktikan apakah ada perbuatan pidana dari kegiatan yang bertajuk ‘Mens Rea’ tersebut,” kata Reonald kepada wartawan, Jumat (9/1/2026).
Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."












