Pengalaman Menonton Film “Bidadari Surga”
Sudah lama rasanya saya tidak menonton film religi. Pada hari Kamis, tanggal 8 Januari 2026 kemarin, saya diajak oleh teman kantor untuk menghadiri gala premiere penayangan film “Bidadari Surga” di Bintaro Jaya Xchange Mal. Setelah selesai bekerja, saya bersama dua orang teman, Fitri Amalia dan Fitriani Harum Sari, berangkat ke tempat tersebut.
Film yang diproduksi oleh Max Pictures ini menceritakan tentang pertemuan tak terduga antara Taufan (Rey Mbayang), seorang YouTuber kaya yang kontroversial, dengan Nadia (Dinda Hauw), putri seorang kiai yang sederhana dan taat beragama. Taufan jatuh cinta pada Nadia setelah ia menolak permintaannya untuk melepas hijab demi konten video viralnya. Setelah penolakan itu, Taufan mencoba mendekati Nadia dengan belajar salat, mengaji, dan mempelajari ilmu-ilmu tentang Islam. Namun, ia harus berhadapan dengan Kiai Shahid (Indro Warkop), ayah Nadia yang berprinsip dan bijaksana, yang ingin pasangan terbaik untuk anaknya kelak.
Alur Cerita yang Sederhana Tapi Menarik
Untuk sebuah film religi islami, “Bidadari Surga” menawarkan hal yang umum dirasakan oleh para remaja, yaitu perasaan pertama kali tertarik dengan lawan jenis. Hal yang cukup menarik adalah kontras antara latar belakang Taufan sebagai anak gaul yang jauh dari agama dengan Nadia, yang sudah memiliki dasar agama sejak kecil. Alur cerita dalam film ini sederhana dan tidak bertele-tele. Cocok dinikmati bersama keluarga maupun pasangan.
Pemilihan warna dalam film ini cukup cantik, dan pengambilan gambar juga dilakukan dengan matang. Pembangunan plot twist dalam film ini juga rapi, dengan petunjuk sederhana di awal. Lagu tema yang dipilih sangat cocok dengan nuansa adegan dalam film. Namun, plot twist tersebut bisa dikatakan biasa saja dan tidak menimbulkan rasa “wah” bagi saya. Meskipun begitu, film ini cukup bagus dan mudah ditebak.
Kritik terhadap Unsur Religi dan Penampilan Hijab
Sebagai seorang penulis cerita, saya paham betapa sulitnya membangun plot twist. Untuk membuat plot twist yang baik dan tidak mudah ditebak, penulis harus berlatih menulis, membaca, dan menonton banyak referensi. Plot twist dalam film “Bidadari Surga” tidak bisa dikatakan jelek, hanya saja kurang menarik bagi saya dan mungkin bagi sebagian orang.
Unsur religi dalam film ini cukup baik ditampilkan, mulai dari membaca Al Qur’an, potongan hadis, praktik salat, hingga prinsip muslimah yang tidak ingin melepaskan hijabnya. Namun, kritik tentang hijab dalam film ini adalah bahwa hijab yang dipakai oleh para pemain kurang baik dan tidak sesuai dengan standar muslimah yang benar. Hijab yang digunakan cukup panjang tetapi masih memperlihatkan bagian dada dan kadang leher yang seharusnya ditutupi.
Kontras yang Kurang Jelas
Ada sedikit hal kontras yang kurang saya pahami, yaitu saat Taufan belajar untuk melamar Nadia, teman Taufan justru berpacaran dan dekat dengan teman Nadia yang sama-sama berhijab. Saya tidak mengerti mengapa sang penulis memilih alur ini. Memang benar agar alur dalam cerita ini berjalan lembut, yakni dengan cara mengetahui tentang Nadia melalui temannya. Namun, mengajarkan pacaran dan ta’aruf secara bersamaan kurang baik menurut saya. Akan lebih baik jika alurnya mengarah pada adik laki-laki Nadia sendiri. Selain sesama laki-laki, adik Nadia pasti lebih tahu tentang Nadia di rumah dibandingkan dengan temannya.
Peran Ayah dalam Film
Alasan ayah Nadia, Kiai Shahid, yang kurang suka dengan Taufan sangat bisa dimengerti. Seorang ayah adalah cinta pertama anak perempuannya. Ayah menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Oleh karena itu, untuk mendapatkan restu ayah perempuan dibutuhkan perjuangan, dan film ini sudah berhasil mengemasnya dengan baik.
Komentar Akhir
Film religi di Indonesia bisa dikemas dengan lebih baik lagi. Tidak perlu selalu dengan tema cinta anak muda. Bisa juga tentang perjuangan menghafal Al Qur’an, kehidupan sederhana santri, atau perjuangan kedua orang tua dan lain-lain. Film “Bidadari Surga” ini sudah cukup baik, namun sebenarnya masih bisa dikemas dengan lebih baik lagi. Semoga ke depannya akan ada tema baru dalam film religi islami di Indonesia agar variasi tontonan kita lebih banyak lagi.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”












