Penambahan Kapasitas Jaringan Kabel Laut
JAKARTA — PT Indonesia China Mobile akan menghadirkan kabel laut baru yang menghubungkan Singapura dengan Jakarta. Kabel ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas layanan internet di Tanah Air. Sebelumnya, perusahaan telah meluncurkan jaringan kabel laut dari Singapura ke Jepang pada Juni 2025, yang menghubungkan pusat ekonomi Asia Tenggara dan Asia Timur.
Perusahaan sudah memiliki koneksi ke Indonesia melalui Singapura-Jakarta, dan rencananya kapasitas kabel laut tersebut akan ditingkatkan pada tahun 2026. David Sugandi, Assistant Sales Manager Indonesia China Mobile, menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas akan segera dilakukan. Meski demikian, ia tidak memberikan detail lebih lanjut mengenai kapan sistem komunikasi kabel laut (SKKL) tersebut akan beroperasi atau kapasitasnya.
Performa Keuangan Perusahaan
Sekadar informasi, induk perusahaan Indonesia China Mobile membukukan pendapatan sekitar RMB794,7 miliar atau naik 0,4% year-on-year (YoY) pada kuartal III/2025. Laba bersih mencapai sekitar RMB31,1 miliar, naik 1,4% YoY. Perusahaan mengeklaim memiliki total pelanggan seluler sekitar 1 miliar pada akhir kuartal III/2025. Khusus pelanggan yang terhubung ke 5G, jumlahnya sekitar 622 juta. Sementara itu, pelanggan broadband tetap sekitar 329 juta.
Rencana Membangun Data Center di Indonesia
China Mobile juga memiliki rencana membangun fasilitas data center di Indonesia, dengan studi yang dimulai sejak 2023. Saat ini, perusahaan bekerja sama dengan provider data center lokal. Data center hyperscale terdekat berada di Singapura dengan kapasitas 10 megawatt. Sugandi menegaskan pentingnya keberadaan data center di Indonesia untuk menghadirkan latensi yang lebih rendah bagi perangkat-perangkat IoT perusahaan.
“Kami punya perencanaan untuk memiliki data center di Indonesia, tapi masih belum bisa diinformasikan secara detail,” ujar David.
Strategi Operasional di Indonesia
Sugandi menjelaskan bahwa perusahaan telah lama berinteraksi dengan pengguna di Indonesia melalui berbagai layanan, meskipun banyak yang belum menyadari keberadaan brand ini. China Mobile membagi operasinya di Indonesia menjadi tiga pilar utama: Enterprise, Carrier, dan Mobile Business.
Pilar Enterprise mencakup solusi bisnis seperti Internet of Things (IoT), konektivitas, data center, kecerdasan buatan (AI), dan Software-Defined Technology (SDT). Pilar Carrier mirip dengan peran Huawei sebagai penyedia teknologi, termasuk peralatan seperti kabel fiber optik dan infrastruktur jaringan. “Carrier itu menyediakan equipment, mirip kayak Huawei yang provide teknologi ke China Mobile, lalu diintegrasikan dan ditawarkan ke yang lain,” jelasnya.
Kolaborasi dengan Mitra Lokal
Perusahaan juga menjalin hubungan bisnis dengan mitra seperti ISP dan operator telko di Indonesia, termasuk Telkom. Sementara itu, Mobile Business fokus pada penjualan paket data roaming melalui e-commerce, bandara, dan kerja sama dengan penyedia tour. “Mobile business ini yang jual paket data roaming, ada di bandara, marketplace, dan kerja sama dengan tour haji umrah,” tambah Sugandi.
Untuk tahun depan, perusahaan akan fokus pada momentum seperti musim haji dan umrah untuk memperbesar pangsa pasar dan memacu bisnis roaming. Sugandi menekankan bahwa ketiga pilar ini berjalan paralel dan akan diekspansi. “Semuanya yang mau digedein, ketiga-tiganya jalan paralel,” ungkapnya.
Pengembangan Solusi Pintar
Bisnis Carrier sudah mapan dengan mitra existing seperti ISP dan Telkom, sementara Enterprise dan Mobile Business masih perlu peningkatan awareness brand. Melalui pengalaman lebih dari satu dekade dan portofolio use case mencapai 20.000, perusahaan ini juga berencana membawa solusi pintar (smart solutions) lebih dekat ke kehidupan sehari-hari, khususnya di sektor industri kritis seperti kesehatan, manufaktur, otomotif, pertambangan, rantai pasok, dan pemerintahan.
Sugandi menegaskan bahwa teknologi yang dibawa bukan sekadar Internet of Things (IoT), melainkan ekosistem lengkap dari hulu ke hilir. IoT hanya salah satu komponen, ujungnya saja, di belakang itu terdapat network, infrastruktur, big data, dan pengolahan data hingga dashboard atau command center.
Kerjasama dengan Asosiasi dan Lembaga
Perusahaan juga berkolaborasi dengan asosiasi seperti Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dan lembaga bisnis, pemerintahan, serta regulator untuk memperkaya pengetahuan dan mendorong teknologi masuk ke Indonesia. “Bukan sekedar bisnis, tapi menjadi kekuatan ekonomi bersama-sama,” ungkap Sugandi.












