Pemulihan Ekonomi Masih Rentan, Stimulus Pemerintah Jadi Penopang



JAKARTA,

Pertumbuhan Ekonomi yang Fluktuatif dan Momentum Pemulihan

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 menunjukkan pola yang fluktuatif. Dari kuartal I hingga III, angka pertumbuhan bergerak naik dan turun, mulai dari 4,87 persen di kuartal I, meningkat ke 5,12 persen di kuartal II, lalu melemah sedikit menjadi 5,04 persen di kuartal III. Hal ini dinilai sebagai gambaran dari proses pemulihan ekonomi yang masih rentan.

Menurut Aviliani, ekonom Senior Institute for Development of Economics & Finance (INDEF), pertumbuhan ekonomi tersebut sangat dipengaruhi oleh ekspektasi dan kondusivitas perekonomian. Ia menekankan bahwa momentum pemulihan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah yang mulai meningkat sejak Oktober 2025 menjadi peluang penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Kebijakan Pemerintah dan Dampaknya

Pemerintah telah mengambil beberapa langkah strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Salah satunya adalah penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) sebesar Rp 200 triliun di kluster pertama dan Rp 76 triliun di kluster kedua. Langkah ini memberikan dampak positif dengan menurunkan biaya dana, yang berdampak pada penurunan bunga deposito dan kredit.

Selain itu, investasi dan konsumsi juga meningkat. Hal ini terbukti dengan adanya 21 kali rekor tertinggi atau all time high (ATH) di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pemerintah juga meluncurkan program paket stimulus 8+4+5, yaitu 8 program akselerasi tahun 2025, 4 program lanjutan tahun 2026, dan 5 program padat karya. Dana sebesar Rp 16,23 triliun akan disalurkan ke masyarakat melalui program ini.

Untuk mempercepat pelaksanaan program strategis nasional, pemerintah membentuk Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah (Satgas P2SP). Satgas ini bertujuan untuk mengakselerasi pelaksanaan program strategis, investasi, dan kebijakan ekonomi yang fokus pada debottlenecking serta koordinasi lintas kementerian dan lembaga.

Optimisme Global dan Peluang Sektor Asuransi

Secara global, optimisme terhadap pemulihan ekonomi ditandai oleh International Monetary Fund (IMF) yang merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2025 menjadi 3,2 persen dari sebelumnya 3 persen. Untuk 2026, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia mencapai 3,1 persen.

Di tengah dinamika ekonomi tersebut, sektor asuransi juga menunjukkan prospek positif menuju 2026. Didukung oleh digitalisasi, peningkatan literasi, dan tumbuhnya kelas menengah, industri asuransi mencatat kinerja solid dengan total aset mencapai Rp 1.181,21 triliun per September 2025, atau naik 3,39 persen secara tahunan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat fondasi industri melalui regulasi baru, termasuk kenaikan modal minimum, pemisahan unit syariah, dan standar pelaporan risiko. Direktur Kepatuhan Allianz Life Indonesia Hasinah Jusuf menyatakan bahwa sektor asuransi tetap menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian ekonomi.

Hingga September 2025, total pendapatan premi industri tercatat sebesar Rp 132,85 triliun, dengan sektor asuransi jiwa masih mengalami kontraksi 2,06 persen secara tahunan. Namun, pada 2026, industri asuransi tidak hanya menunjukkan ketahanan, tetapi juga bersiap menjalankan berbagai regulasi baru seperti skema co-payment, pembentukan Dewan Penasihat Medis (DPM), penguatan underwriting berbasis risiko, serta percepatan digitalisasi layanan.

Edukasi dan Sinergi Masyarakat

Allianz Life dan Allianz Syariah mencatat pendapatan premi total sebesar Rp 15,2 triliun hingga kuartal III-2025. Selain itu, Allianz Indonesia terus memperkuat edukasi keuangan melalui berbagai program dan kegiatan literasi serta edukasi asuransi melalui berbagai kanal, baik online maupun secara langsung ke sekolah-sekolah, hingga komunitas lokal dan pelaku usaha mikro.

Melalui beragam program literasi yang dilakukan, Allianz telah menjangkau lebih dari 1 juta penerima manfaat. Menurut Hasinah, ketahanan industri asuransi tidak hanya bergantung pada faktor ekonomi, tetapi juga pada persepsi masyarakat. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, industri, dan media sangat penting untuk membangun narasi positif mengenai peran asuransi bagi stabilitas finansial keluarga.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *