Menonton film melalui layanan streaming di rumah bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi ritual yang sangat menyenangkan. Kali ini, pilihan saya jatuh pada sebuah sinema yang menarik, The Big Short. Film yang dirilis pada tahun 2015 ini adalah adaptasi dari novel karya Michael Lewis yang berjudul “The Big Short: Inside the Doomsday Machine”, yang menceritakan latar belakang terjadinya krisis ekonomi AS tahun 2008.
Krisis ini merupakan salah satu krisis terparah sejak era Great Depression tahun 1929–1939. Dibawah arahan sutradara Adam McKay, yang lebih dikenal lewat film-film komedi, ia bersama Charles Randolph berhasil menghadirkan kisah biopik yang cukup teknis dengan sentuhan komedi khas mereka. Film ini mendapatkan penghargaan bergengsi seperti Academy Awards untuk Best Writing dan BAFTA Award untuk Best Adapted Screenplay.
Para Pemberontak yang Bertaruh di Tengah Krisis
Film ini mengisahkan kisah nyata empat sosok “pemberontak” di Wall Street. Mereka adalah Michael Burry (Christian Bale), Mark Baum (Steve Carell), Jared Vennett (Ryan Gosling), dan Ben Rickert (Brad Pitt). Di saat seluruh dunia, media, dan pemerintah terbuai mimpi indah ekonomi yang stabil, keempat orang ini justru mencium aroma busuk yang bisa berujung kehancuran.
Kisah The Big Short disajikan melalui tiga sudut pandang berbeda yang sebenarnya tidak saling berkaitan, sebuah pilihan plot unik yang sengaja dibuat Adam McKay agar penonton memahami bahwa terdapat lebih dari satu orang yang menyadari adanya peluang di balik krisis finansial 2008.
Sedikit Tentang Bom Waktu Bernama Subprime Mortgage
Subprime mortgage adalah istilah yang mungkin terdengar rumit, namun konsep di baliknya sebenarnya adalah tragedi keserakahan yang sederhana. Bank secara sengaja memberikan kredit rumah tanpa melihat kualitas credit scoring seseorang, bahkan kepada seseorang yang tidak memiliki pekerjaan tetap, tidak punya aset, dan memiliki riwayat kredit yang buruk.
Untuk mempermudah pemahaman penonton awam tentang konsep ekonomi kompleks ini, Adam McKay memasukkan elemen unik, narasi yang dibawakan oleh cameo aktris, ekonom, bahkan penyanyi yang sebenarnya tidak terlibat dalam alur cerita film. Salah satu contohnya yakni adegan Margot Robbie dan Selena Gomez yang menjelaskan istilah Subprime Mortgage dengan bahasa yang sederhana.
Belajar Dari Peristiwa Krisis Subprime Mortgage
Meskipun kisah ini terjadi belasan tahun lalu di Amerika, bayangannya terasa sangat dekat jika kita melihat kondisi pasar modal Indonesia saat ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau All Time High (ATH), didorong oleh aliran dana asing yang deras dan likuiditas transaksi harian yang menembus belasan triliun rupiah.
Namun, belajar dari The Big Short, justru di tengah sorak-sorai inilah kita harus menyalakan alarm kewaspadaan. Ketika pasar sedang euphoria, investor sering kali terserang penyakit lupa. Lupa mengecek fundamental, lupa pada risiko, dan hanya takut ketinggalan kereta atau FOMO (Fear of Missing Out).
Kemenangan yang Terasa Pahit
Apa yang membuat The Big Short begitu istimewa bukanlah tentang istilah teknisnya, melainkan tentang manusianya. Adam McKay juga tidak lupa membumbui film dengan unsur yang lebih dramatis tentang bagaimana setiap karakter merasa bersalah karena telah meraih sukses di atas penderitaan orang lain.
Michael Burry harus menahan cemoohan dan tekanan mental luar biasa dari para investornya sendiri. Sementara itu, Mark Baum dan timnya melakukan investigasi lapangan yang membuka mata, menyadari bahwa seluruh sistem keuangan sebenarnya sedang dibangun di atas pasir. Ketika prediksi mereka benar, pasar runtuh. Keempat sekawan ini mencetak keuntungan triliunan rupiah dari taruhan short mereka.
Namun, film ini tidak berakhir dengan tepuk tangan meriah. Ada adegan menyentuh ketika Ben Rickert memarahi dua investor muda yang bersorak gembira atas keuntungan mereka. Kemenangan mereka berarti jutaan orang kehilangan rumah, kehilangan pekerjaan, dan kehilangan dana pensiun. The Big Short menutup kisahnya dengan rasa pahit di lidah penonton. Film ini menjadi pengingat bahwa dalam dunia keuangan yang penuh rekayasa, sering kali batas antara keuntungan spektakuler dan tragedi massal hanyalah selembar kertas tipis berisi data yang diabaikan oleh kerumunan.












