Bahaya Ekonomi Serakah di Tengah Perubahan Iklim

Perubahan Iklim dan Kekacauan Musim Hujan



Musim hujan yang dulu menjadi simbol kehidupan dan harapan kini berubah menjadi sumber ketakutan. Dulu, musim hujan menghadirkan pemandangan tentang musim menanam padi, panen rambutan, atau aroma petrichor yang romantis. Namun kini, musim hujan hadir dengan ancaman banjir, tanah longsor, dan bencana alam yang semakin intens.

Di perkotaan, banjir rob sering kali muncul tiba-tiba, membawa kerusakan dan melumpuhkan aktivitas ekonomi. Pembangunan infrastruktur pengendali banjir seolah tidak pernah cukup, karena permukaan air laut terus meningkat. Seiring dengan intensitas hujan yang meningkat, kabar tentang banjir terus datang, seperti yang baru saja melanda Malang, Bandung, hingga Bali.

Siklon Senyar menjadi bukti nyata bahwa kita sedang memasuki era musim hujan yang lebih garang dan destruktif. Banjir bandang yang meluluhlantakkan tiga provinsi di Sumatera adalah alarm bagi kita semua. Ribuan kubik kayu gelondongan yang terbawa oleh banjir tersebut juga menjadi bukti adanya deforestasi yang memperparah dampak bencana.

Ekonomi Ekstraktif dan Kerusakan Alam

Ekonomi ekstraktif adalah model ekonomi yang fokus pada pengambilan sumber daya alam secara langsung tanpa mengolahnya, seperti pertambangan, kehutanan, dan perikanan. Sayangnya, praktek ini telah merusak keseimbangan alam dan menyebabkan kerusakan besar. Banyak korban banjir Sumatera harus tinggal di tenda pengungsian, sementara truk pengangkut sawit dan kayu terus beroperasi.

Kerusakan alam dan derita para korban sering dianggap sebagai risiko bisnis semata. Ekonomi serakah hanya peduli untuk mengambil dan menghasilkan keuntungan besar tanpa mempertimbangkan keberlanjutan dan masa depan generasi mendatang. Greed economy atau ekonomi serakah ini tak mengenal keadilan dan hanya menguntungkan mereka yang kuat, sementara rakyat kecil menjadi korban.

Pengeksplorasi Sumber Daya di Indonesia

Praktek ekonomi ekstraktif juga terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Di Kalimantan, hutan dibuka untuk ekspansi sawit dan tambang batubara. Di Sulawesi, tambang nikel terus berkembang. Bahkan Raja Ampat, yang dikenal dengan keindahan alamnya, juga tidak luput dari cengkeraman tambang.

Data dari Kompas menunjukkan bahwa Sumatera kehilangan hutan seluas 1,2 juta hektar dalam tiga dekade, atau 100 hektar setiap hari. Dengan ijin Hak Guna Usaha, rimba Sumatera berubah menjadi perkebunan sawit. Liputan Kompas seperti obituari tentang kematian satwa liar seperti harimau, gajah, orangutan, dan margasatwa lainnya.

Kontradiksi dengan Pernyataan Presiden

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam Pertemuan Para Pemimpin Ekonomi APEC di Gyeongju, Korea Selatan, akhir Oktober lalu, menunjukkan kontradiksi. Ia menyatakan bahwa dunia sedang menghadapi ancaman moral dan sosial, termasuk keserakahan yang menjelma dalam bentuk korupsi, penyelundupan, penipuan, dan ekonomi gelap lintas negara.

Namun, di tengah upaya melawan korupsi dan greed economy, eksploitasi alam tetap terjadi. Keserakahan ekonomi ekstraktif menciptakan kerusakan dan penderitaan yang luar biasa, baik bagi manusia maupun flora dan fauna. Kerusakan ini bukanlah kecelakaan, melainkan by design.

Dampak Global dari Kerusakan Ekosistem

Kerusakan ekosistem akibat ekonomi ekstraktif tidak hanya memengaruhi penduduk lokal, tetapi juga seluruh dunia. Lenyapnya hutan di Sumatera memengaruhi iklim global. Kesedihan dan amarah kita saat melihat banjir bandang Sumatera lahir dari rasa cinta kepada bumi dan sesama manusia.

Dalam era globalisasi, kerusakan ekosistem akan berdampak luas. Data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang memuaskan mungkin membuat kita bangga, tetapi jika dominasi ekonomi ekstraktif tetap berlangsung, statistik itu hanyalah angka pertumbuhan semu. Penyebabnya adalah ongkos kerusakan alam yang sangat besar.

Tantangan Masa Depan

Kesadaran akan perlunya pendekatan baru dalam ekonomi dunia, yakni pendekatan yang berorientasi pada kelestarian alam, mulai muncul. Perubahan radikal diperlukan di semua lini, baik di tingkat negara maupun individual. Tidak hanya dalam aspek ekonomi dan politik, tetapi juga moral, sosial, dan budaya.

Apakah kita sanggup mewujudkan kesadaran ini dalam aksi nyata, ataukah kita akan terus terbawa oleh ekonomi serakah menuju kehancuran total peradaban manusia? Ini adalah pertanyaan besar yang harus kita jawab bersama.

Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *