Kehidupan Sederhana dan Perjuangan Ayah Pratama Arhan
Sutrisno, ayah dari pemain sepak bola Timnas Indonesia, Pratama Arhan, dikenal sebagai sosok yang tak pernah lelah mendukung mimpi anaknya. Meskipun tidak berasal dari keluarga pesepakbola, ia selalu menjadi figur penting dalam perjalanan karier Arhan. Dengan kehidupan sederhana sebagai petani, Sutrisno sering kali mengambil pekerjaan sampingan demi memenuhi kebutuhan keluarga. Keterbatasan ekonomi tidak pernah membuatnya menyerah; justru semangatnya untuk memberikan dukungan penuh kepada sang anak terus berkobar.
Kabar duka menyelimuti keluarga Arhan ketika Sutrisno meninggal dunia pada Minggu (7/12/2025) di kampung halamannya, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Sebelum wafat, almarhum sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Informasi ini menguat setelah sepupu Pratama Arhan, Imam Juna, membagikan unggahan yang menunjukkan situasi keluarga saat berada di rumah sakit. Dalam unggahan tersebut, Imam memotret sebagian tubuhnya dengan latar suasana rumah sakit, yang menggambarkan kondisi lemah dan rasa duka yang mendalam. Kalimat singkat “Tiada kata lagi” disertai stiker bunga mawar layu menjadi simbol rasa kehilangan yang mendalam.
Sebelum meninggal, Sutrisno dikabarkan memiliki riwayat gangguan kesehatan, terutama pada bagian jantung dan paru-paru. Hal ini disampaikan oleh tetangga keluarga Arhan, Warti, yang menyebutkan bahwa kondisi kesehatan almarhum memang sudah menurun dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan, sebelum wafat, Sutrisno sempat mengalami kondisi mendadak hingga terjatuh dan harus segera dilarikan ke rumah sakit.
Kabar berpulangnya ayah Pratama Arhan juga disampaikan oleh rekan dekatnya sesama pemain Timnas Indonesia, Asnawi Mangkualam Bahar. Lewat unggahan di InstaStory, Asnawi membagikan foto kebersamaan Arhan dengan kedua orang tuanya. Dalam unggahan tersebut, Asnawi menyampaikan doa dan pesan penguatan kepada sahabatnya. “Inna Lillahi Wa Inna Ilayhi Raji’un. Turut berduka cita Ho, yang kuat. Semoga amal ibadah bapak diterima Allah SWT,” tulis Asnawi.
Hingga berita ini dipublikasikan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Pratama Arhan terkait wafatnya sang ayah.
Sosok Sutrisno di Mata Keluarga dan Publik
Sutrisno dikenal sebagai sosok penting dalam perjalanan karier Pratama Arhan. Meski bukan berasal dari keluarga pesepakbola, ia selalu menjadi figur yang tak pernah lelah mendorong mimpi anaknya. Almarhum menjalani hidup sederhana sebagai petani dan kerap mengambil pekerjaan serabutan demi mencukupi kebutuhan rumah tangga. Keterbatasan ekonomi tidak pernah menyurutkan tekadnya untuk memberikan dukungan penuh kepada sang anak.
Sejak kecil, Arhan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang hangat dan suportif. Dukungan tidak hanya datang dari ayahnya, tetapi juga dari sang ibu yang dikenal dengan sapaan Mak Ti. Bukan hanya Arhan, sang kakak Dimas Roni pun mendapatkan motivasi yang sama untuk menekuni dunia sepak bola. Lingkungan keluarga seperti inilah yang membentuk karakter dan mental Arhan hingga mampu menembus level sepak bola profesional.
Di tengah sorotan publik, sosok Sutrisno kerap menyentuh hati banyak orang lewat kesederhanaannya. Dalam sejumlah potret yang beredar, ia terlihat berswafoto dengan Arhan dalam penampilan apa adanya. Ia pernah menemani sang anak ke luar negeri, termasuk saat Arhan merumput di Jepang. Meski sang anak telah dikenal luas, Sutrisno tetap tampil rendah hati dan jauh dari kesan berlebihan.
Bagi banyak orang, sosoknya menjadi simbol perjuangan orang tua yang setia berdiri di balik layar, menopang langkah anaknya tanpa berharap sorotan.

Sekilas Tentang Gejala Penyakit Jantung
Penyakit jantung memiliki ragam gejala yang dapat berbeda-beda, tergantung jenis gangguan yang dialami. Salah satu yang umum adalah penyakit arteri koroner, yakni kondisi ketika pembuluh darah mengalami penyempitan akibat penumpukan plak lemak (aterosklerosis). Kondisi tersebut dapat menghambat aliran darah ke jantung dan memicu komplikasi serius, seperti serangan jantung maupun stroke.
Gejala penyakit ini sering kali berbeda antara pria dan wanita. Pada pria, keluhan nyeri dada lebih sering dirasakan. Sementara pada wanita, gejala dapat berupa sesak napas, mual, hingga rasa lelah yang ekstrem. Beberapa gejala yang patut diwaspadai meliputi:
- Rasa nyeri, tekanan, atau tidak nyaman di area dada (angina)
- Sesak napas yang muncul tanpa sebab jelas
- Rasa lemas, kebas, atau dingin pada tangan dan kaki
- Nyeri yang menjalar ke leher, rahang, tenggorokan, perut bagian atas, atau punggung
Tidak sedikit penderita yang baru mengetahui kondisi penyakit jantungnya setelah terjadi serangan serius. Karena itu, pemeriksaan rutin dan konsultasi medis sangat dianjurkan agar potensi gangguan kardiovaskular dapat terdeteksi lebih dini.
Seorang penulis berita online yang mengutamakan kecepatan dan ketelitian dalam menyampaikan informasi terkini kepada pembaca. Aktif mengikuti perkembangan isu sosial dan digital. Memiliki hobi membaca artikel sejarah, bersepeda pagi, serta memotret momen sederhana yang menarik. Baginya, proses menulis adalah ruang untuk melihat dunia lebih dekat. Motto hidupnya: "Informasi yang jujur adalah fondasi kepercayaan."












