JAKARTA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menunjukkan ambisi untuk memulihkan dominasi negaranya di kawasan Belahan Barat (Western Hemisphere), meningkatkan kekuatan militer di Indo-Pasifik, serta merevisi hubungan dengan Eropa. Hal ini tercantum dalam dokumen Strategi Keamanan Nasional yang dirilis akhir pekan lalu, yang bertujuan untuk mengubah peran AS dalam panggung global.
Strategi tersebut mencerminkan visi Trump sebagai realisme fleksibel dan mendorong kembali kebangkitan Doktrin Monroe abad ke-19, yang menjadikan Belahan Barat sebagai wilayah pengaruh utama Washington. Dokumen sebanyak 29 halaman ini menjadi penegasan paling jelas dari upaya Trump untuk mengubah tatanan dunia pasca-Perang Dunia II yang selama ini dipimpin AS bersama aliansi dan organisasi multilateral.
“Politik luar negeri Presiden Trump bersifat pragmatis tanpa menjadi pragmatik, realistis tanpa menjadi realis, berprinsip tanpa menjadi idealis, tegas tanpa menjadi hawkish, serta menahan diri tanpa menjadi dovish. Kebijakan ini terutama digerakkan oleh apa yang paling menguntungkan Amerika,” tulis dokumen tersebut.
Sebagai pedoman utama bagi pemerintahan baru, strategi ini menyatakan bahwa Trump akan memulihkan supremasi Amerika di Belahan Barat dan menjadikannya prioritas utama kebijakan luar negerinya. Dokumen tersebut juga menyebutkan bahwa korolari Trump atas Doktrin Monroe merupakan pemulihan kekuatan dan prioritas yang masuk akal serta sejalan dengan kepentingan keamanan nasional AS.
Beberapa pengkritik menilai retorika Trump serupa dengan imperialisme modern di kawasan Amerika. Pada awal masa pemerintahannya, Trump pernah menyampaikan pernyataan samar tentang kemungkinan merebut kembali Terusan Panama hingga menggabungkan Greenland dan Kanada. Selain itu, peningkatan kehadiran militer AS di Karibia, disertai ancaman serangan darat di Venezuela dan negara-negara lain yang menjadi basis kartel narkoba, menambah kekhawatiran publik.
Saat ini, AS dilaporkan telah mengirim lebih dari 10.000 personel militer ke Karibia, lengkap dengan kapal induk, kapal perang, serta jet tempur. Jason Marczak, analis senior Amerika Latin di lembaga pemikir Atlantic Council, Washington, menyatakan bahwa strategi keamanan nasional ini secara cukup jelas menunjukkan bahwa AS tidak akan kembali ke pola lama.
Dokumen tersebut juga menyentuh isu meningkatnya pengaruh ekonomi Tiongkok di Amerika Latin, yang selama ini menjadi perhatian pemerintah AS. Washington berkomitmen untuk membendung ekspansi Beijing di kawasan tersebut. Di Asia, Trump menyatakan ingin mencegah konflik dengan Tiongkok terkait Taiwan dan Laut China Selatan melalui penguatan kekuatan militer AS bersama negara-negara sekutunya.
“Pencegahan konflik di Taiwan, idealnya dengan mempertahankan keunggulan militer, menjadi prioritas utama,” tulis dokumen tersebut. Namun, arah implementasi konkret dari strategi ini masih sulit diprediksi karena rekam jejak Trump yang kerap mengambil langkah tak lazim.
Eropa Terancam
Dalam dokumen tersebut, pemerintahan Trump memandang Eropa secara suram, dengan memperingatkan bahwa kawasan itu menghadapi risiko “penghapusan peradaban” dan harus mengubah arah kebijakan jika ingin tetap menjadi sekutu yang dapat diandalkan bagi AS. Pernyataan ini menjadi bagian dari rangkaian sikap pejabat AS yang mengguncang asumsi pascaperang mengenai eratnya hubungan antara Eropa dan AS.
“Dalam jangka panjang, sangat mungkin bahwa dalam beberapa dekade ke depan, sejumlah anggota NATO akan menjadi negara dengan mayoritas penduduk non-Eropa,” bunyi dokumen tersebut. Sejumlah pengamat Eropa menilai narasi dalam strategi itu sejalan dengan poin-poin yang sering disuarakan partai-partai sayap kanan di Eropa, yang kini menjadi oposisi utama pemerintah di Jerman, Prancis, serta negara-negara tradisional sekutu AS lainnya.
Pemerintahan Trump, menurut dokumen itu, ingin memulihkan identitas Barat di Eropa. Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya kritik terhadap penggunaan retorika bernuansa rasis oleh Trump terhadap imigran non-kulit putih di AS. Meski sejumlah politisi Eropa menyatakan keberatan atas nada pernyataan Washington, banyak negara Eropa masih sangat bergantung pada dukungan militer AS, terutama saat mereka berupaya membangun kembali kekuatan pertahanan untuk menghadapi ancaman dari Rusia.
Dokumen tersebut juga menyebut bahwa kepentingan strategis AS terletak pada penyelesaian cepat konflik Ukraina serta pemulihan stabilitas strategis dengan Rusia. Trump sendiri pernah menuai kritik lantaran beberapa kali menyampaikan pujian kepada Presiden Rusia Vladimir Putin, yang memunculkan tudingan bahwa ia terlalu lunak terhadap Moskow.
Reuters melaporkan, pemerintah AS menginginkan Eropa mengambil alih sebagian besar kapasitas pertahanan konvensional NATO, mulai dari intelijen hingga sistem rudal, dalam tenggat waktu yang dinilai sebagian pejabat Eropa sebagai tidak realistis. Menilai prioritas kawasan dunia dalam agenda Trump, analis lembaga pemikir Foundation for Defense of Democracies, Brad Bowman, menulis di X bahwa pemenang dalam perebutan waktu, sumber daya, dan perhatian AS adalah kawasan Belahan Barat dan kemungkinan kawasan Pasifik. Sementara itu, kawasan Eropa terbilang menjadi pihak yang dirugikan. “Timur Tengah masih tanda tanya besar, sedangkan Afrika, semoga beruntung,” tulisnya.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”












