Prediksi Puncak Musim Hujan di Jawa Barat dan Dampak Bencana yang Terjadi
Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Jawa Barat diprediksi akan menghadapi dua puncak musim hujan, yaitu pada Desember 2025 serta Februari-Maret 2026. Prediksi ini menuntut seluruh pihak untuk memperkuat langkah mitigasi sejak dini guna mengurangi risiko bencana.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jabar, Teten Ali Mulku Engkun, menyampaikan bahwa intensitas hujan tinggi berpotensi menyebabkan berbagai bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan pergerakan tanah. Ia mengimbau masyarakat untuk lebih waspada, terutama bagi yang tinggal di wilayah rawan banjir dan longsor.
“Puncak musim hujan sudah di depan mata. Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan,” ujar Teten pada Jumat 5 Desember 2025.
Beberapa wilayah di Jawa Barat telah terdampak bencana hidrometeorologi akibat hujan intensitas tinggi yang mengguyur sejak awal pekan. Data BPBD Provinsi Jawa Barat menunjukkan empat wilayah terdampak signifikan, yaitu Bandung, Subang, Cianjur, dan Sukabumi. Banjir dan tanah longsor dilaporkan mengganggu aktivitas warga, merusak infrastruktur, serta memaksa ribuan orang mengungsi.
Selain keempat daerah tersebut, bencana hidrometeorologi juga melanda wilayah selatan Kabupaten Garut setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur beberapa hari terakhir. Fasilitas publik dan infrastruktur terkena dampak, mulai dari jalan ambles, jembatan rusak, hingga longsoran yang mengganggu aktivitas warga.
Salah satu kerusakan terparah terjadi di jalur Kabupaten Pamalayan–Linggamanik, tepatnya di Kampung Mekarjaya RT 01/03 Dusun Cijengkol, Desa Linggamanik, Kecamatan Cikelet. Jalan sepanjang kurang lebih 50 meter mengalami ambles pada Jumat 5 Desember 2025, sehingga akses kendaraan roda empat terputus.
Kapolsek Cikelet, Iptu Aktas Komalsyah Siregar bersama anggotanya langsung turun ke lokasi setelah menerima laporan masyarakat. Kehadiran aparat dilakukan untuk memastikan kondisi keamanan serta kelayakan jalur transportasi yang merupakan akses vital bagi warga dua wilayah tersebut.
“Curah hujan yang tinggi dalam beberapa hari terakhir menjadi pemicu utama amblesnya jalan. Struktur tanah yang labil tidak mampu menahan rembesan air sehingga memicu keruntuhan badan jalan,” kata Aktas.
Aktas juga mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, khususnya bagi pengendara roda dua yang terpaksa melintas. Kondisi jalan yang menurun drastis dikhawatirkan dapat membahayakan pengguna jalan jika tidak berhati-hati.
Bencana serupa juga terjadi di wilayah Kecamatan Banjarwangi. Hujan deras yang terjadi sejak Kamis malam hingga Jumat siang menyebabkan tanah longsor di ruas Jalan Banjarwangi–Cikajang, tepatnya di Kampung Lemah Duhur, Desa Mulyajaya. Material tanah dan batu menutup sebagian badan jalan sehingga cukup mengganggu kelancaran arus lalu lintas.
Anggota Polsek Banjarwangi langsung bergerak melakukan pengecekan lokasi dan mitigasi awal. Bekerja bersama unsur pemerintah desa dan masyarakat, pembersihan material longsor dilakukan secara manual sambil menunggu alat berat dari PUPR Garut.
“Meski tertutup longsoran, akses masih dapat dilalui baik oleh kendaraan roda dua maupun roda empat melalui sistem buka-tutup. Namun demikian, kami mengingatkan pengendara untuk ekstra waspada mengingat potensi longsor susulan masih tinggi,” ujar Kapolsek Banjarwangi Ipda Ipar.
Tidak hanya Cikelet dan Banjarwangi, bencana hidrometeorologi juga menyapu Kecamatan Bungbulang. Camat Bungbulang, Benni Yandiana melaporkan, sedikitnya terdapat 10 titik bencana di wilayahnya, mulai dari banjir, jembatan ambles, hingga longsoran yang menutup badan jalan.
Banjir rob di pesisir Pantai Utara (Pantura) Subang memaksa sekolah meliburkan kegiatan belajar-mengajar. Salah satu yang terdampak adalah Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sakti Mulya di Desa Mayangan Kecamatan Legonkulon Kabupaten Subang.
“Hari ini tidak sekolah karena banjir jadinya diliburkan. Saya sedih karena inginnya belajar (di sekolah),” kata seorang murid perempuan kelas II SDN Sakti Mulya, Kinara, saat ditemui di depan sekolahnya, Jumat 5 Desember 2025.
Berdasarkan data sementara BPBD Subang, ratusan bangunan terdampak banjir rob. Bangunan itu terdiri dari 266 rumah di Desa Mayangan dan 487 rumah di Desa Legonwetan, Kecamatan Legonkulon, Kabupaten Subang.
Kepala Pelaksana BPBD Subang, Udin Jazudin memperkirakan, masih ada ratusan rumah lainnya yang terendam dan belum terdata. Seperti halnya di wilayah Desa Pangarengan, Kecamatan Legonkulon dan Desa Anggasari, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Subang.
“Di (Kecamatan) Blanakan, juga kabarnya terkena rob, tapi hingga saat ini kami masih mendata,” katanya menambahkan. Dia berharap, banjir rob di kawasan tersebut terus berkurang sehingga aktivitas warga bisa kembali normal.












