Pertanian Jadi Poros Ekonomi Maluku Utara 2026, BI Fokus Dukung Sektor Ini

Pertumbuhan Ekonomi Maluku Utara Mencapai 39,10 Persen pada Triwulan III 2025

Bank Indonesia (BI) mencatatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2025 sebesar 5,04 persen (yoy). Namun, salah satu daerah yang menunjukkan pertumbuhan paling signifikan adalah Maluku Utara, dengan angka pertumbuhan mencapai 39,10 persen (yoy), menjadi yang tertinggi di seluruh Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi yang luar biasa ini terutama didorong oleh kinerja industri pengolahan melalui hilirisasi nikel. Hal ini disampaikan oleh Kepala Perwakilan BI Maluku Utara, Dwi Putra Indrawan, dalam pertemuan tahunan BI di Sahid Bela Ternate, Selasa (2/12/2025).

Dwi mengungkapkan bahwa kinerja ekonomi Maluku Utara sepanjang 2025 mencerminkan capaian yang sangat impresif, meskipun menghadapi tantangan global yang masih penuh ketidakpastian. Dinamika global seperti kebijakan proteksionisme Amerika Serikat, perang dagang, perlambatan ekonomi AS dan Tiongkok, serta risiko sistem keuangan global tetap menjadi ancaman. Namun, perekonomian Indonesia, termasuk Maluku Utara, tetap tumbuh positif.

Menurut Dwi, Maluku Utara kini telah mampu memproduksi produk olahan nikel berkualitas tinggi untuk memenuhi kebutuhan industri global, khususnya industri besi baja dan baterai kendaraan listrik (EV). Sekitar 95 persen ekspor daerah berasal dari produk turunan nikel yang diekspor ke Tiongkok, dengan pusat pertumbuhan utama di Halmahera Tengah dan Halmahera Selatan.

Meski demikian, ia menekankan pentingnya sinergi antara pelaku usaha dan pemerintah daerah dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) lokal. Sejak diberlakukannya kebijakan hilirisasi, terjadi pergeseran tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri dan pertambangan. Namun, keterbatasan akses pendidikan vokasi masih menjadi tantangan.

“Ke depan, kolaborasi sekolah vokasi dengan balai pelatihan bersertifikasi harus diperkuat agar tenaga kerja lokal mampu bersaing,” tegas Dwi.

Selain pertambangan, BI juga akan fokus pada penguatan sektor non-tambang seperti perikanan, pertanian, dan pariwisata pada tahun 2026. Sejumlah program seperti revitalisasi Tanjung Rappa Pelangi, pengembangan Desa Wisata Akebay, serta pembenahan Pantai Kastela terus dilakukan.

Menurut BI, peluang pertumbuhan di luar sektor tambang masih sangat besar, khususnya pada perikanan, pertanian, dan pariwisata. Dengan komposisi wilayah yang didominasi perairan, Maluku Utara memiliki potensi ekspor perikanan bernilai tinggi. Sementara itu, sektor pertanian dinilai prospektif dengan basis komoditas unggulan seperti kelapa, pala, dan cengkeh.

Industri wisata pun menjadi fokus pengembangan karena Maluku Utara memiliki destinasi alam dan budaya yang dinilai mampu bersaing secara nasional.

Untuk memperkuat sektor non-pertambangan, BI telah melakukan sejumlah program strategis, antara lain:
* Revitalisasi destinasi Tanjung Rappa Pelangi
* Pengembangan desa wisata Akebay
* Peremajaan fasilitas wisata Pantai Kastela
* Capacity building dan studi banding untuk Dinas Pariwisata se-Malut

Dalam bidang pertanian dan perikanan, BI juga mendorong:
* Pengembangan klaster binaan
* Pemberdayaan badan usaha pesantren
* Forum ekonomi untuk meningkatkan akses pembiayaan
* Percepatan penyaluran kredit ke sektor prioritas

Dwi menjelaskan bahwa konsumsi masyarakat tetap terjaga seiring penyaluran bantuan sosial serta perluasan program Makan Bergizi Gratis di sejumlah sekolah. Dengan kondisi eksternal dan domestik yang terus menunjukkan tren positif, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Maluku Utara pada akhir 2025 berada pada kisaran 26,80 persen hingga 30,80 persen.

“Kami juga optimis bahwa kinerja ekonomi Maluku Utara ke depan akan semakin kuat jika sinergi antar pemangku kepentingan terus berjalan di Maluku Utara,” jelasnya.

Terpisah, Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe menyambut baik atas capaian yang dicapai oleh Bank Indonesia. Meskipun begitu, Pemprov berharap akan ada terus kolaborasi kerjasama guna program selanjutnya.

“Selain itu untuk program yang belum terlaksana pastinya kedepan bisa menjadi bahan evaluasi untuk lebih meningkatkan lagi,” katanya.

Apalagi BI kata Wagub sangat menjaga stabilitas keuangan dan mampu membantu pertumbuhan ekonomi, inflamasi daerah dan pembinaan pelaku lainya.

“Tentu lewat forum ini sangat baik apalagi saat ini pertumbuhan ekonomi dominasi sektor tambah.”

“Nah ini kedepan kita akan fokus ke hilirisasi pertanian dengan membangun sejumlah infrastruktur yang ada,” tandasnya.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *