Perkembangan Terkini: Ancaman Serangan Darat AS ke Venezuela
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan bahwa negaranya akan segera meluncurkan serangan darat di Venezuela. Target utamanya adalah dugaan jaringan perdagangan narkoba yang selama beberapa pekan terakhir rutin diperangi oleh pihak AS. Pernyataan ini menunjukkan kembali sikap keras pemerintahan Trump terhadap jaringan narkoba internasional.
Dalam panggilan telepon Thanksgiving kepada para prajurit AS, Kamis (27/11/2025), Trump menyampaikan bahwa dalam beberapa minggu terakhir, pihaknya telah berupaya mencegah para pengedar narkoba Venezuela, yang jumlahnya banyak. Ia menyebut bahwa jumlah pengirim narkoba melalui laut sudah berkurang, dan kini pihaknya akan mulai mencegat mereka di darat.
“Darat memang lebih mudah, dan itu akan segera dimulai,” ujarnya. Trump juga menegaskan bahwa pemerintahnya akan memberi peringatan keras kepada para pelaku perdagangan narkoba untuk menghentikan pengiriman racun ke negara mereka.
Pernyataan Trump keluar setelah AS mengerahkan sejumlah armada perang dan meningkatkan aktivitas militer di kawasan Amerika Latin, khususnya Venezuela, sepanjang bulan ini. Awal pekan ini, pemerintahan Trump resmi menetapkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan para sekutu utamanya sebagai anggota teroris asing. Penetapan tersebut juga berlaku untuk Cartel de los Soles, istilah yang menurut sejumlah analis mengacu pada Pemerintah Venezuela karena diduga korup, bukan kelompok kriminal terorganisir.
Status tersebut memberi wewenang bagi Pemerintah AS untuk menjatuhkan sanksi tambahan terhadap aset dan infrastruktur yang terkait Maduro. Namun, menurut pakar hukum, penetapan status ini tidak serta-merta memberi otorisasi penggunaan kekuatan militer.
Operasi Tombak Selatan di Venezuela
Sebagai bagian dari Operasi Tombak Selatan yang dicanangkan Pentagon, militer AS mengerahkan belasan kapal perang dan sekitar 15.000 tentara ke Amerika Latin. Dalam operasi tersebut, militer AS disebut menewaskan lebih dari 80 orang dalam serangan terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat perdagangan narkoba.
Namun, laporan CNN awal bulan ini menyebutkan bahwa para pejabat Trump dalam sesi tertutup Kongres menyatakan bahwa saat ini tak ada rencana melancarkan serangan darat ke Venezuela. Menurut empat sumber, opini hukum yang dikeluarkan Kantor Penasihat Hukum Departemen Kehakiman hanya memberikan dasar hukum bagi serangan terhadap kapal-kapal yang dicurigai, tetapi tidak untuk target di wilayah darat Venezuela atau negara lainnya.
Meskipun demikian, para pejabat “Negeri Paman Sam” tidak menutup kemungkinan adanya aksi militer lebih lanjut di masa mendatang. Di sisi lain, Pemerintah AS terus menghindari keterlibatan formal Kongres dalam tindakan militernya di kawasan Amerika Latin. Seorang pejabat senior Departemen Kehakiman bahkan menyampaikan kepada Kongres pada November lalu, militer AS dapat terus menjalankan serangan terhadap target pengedar narkoba tanpa persetujuan legislatif.
Venezuela Umumkan Pengerahan Militer Besar-besaran
Sebelumnya, pemerintah Venezuela pada Selasa (11/11/2025) mengumumkan pengerahan militer besar-besaran di seluruh wilayah negara, setelah kehadiran armada laut dan udara Amerika Serikat di lepas pantai negara tersebut. Kementerian Pertahanan Venezuela menyatakan, pengerahan ini melibatkan pasukan dari semua matra, termasuk angkatan darat, laut, udara, pasukan sungai, satuan rudal, serta milisi sipil.
Langkah tersebut diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran Caracas bahwa manuver militer Washington bertujuan menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. “Operasi pengerahan ini akan dilakukan di seluruh negeri sebagai bentuk pertahanan atas kedaulatan dan integritas teritorial Venezuela,” demikian bunyi pernyataan resmi yang disiarkan oleh saluran tv pemerintah, VTV.
Dalam siarannya, VTV juga menampilkan pidato sejumlah pemimpin militer di berbagai negara bagian yang menegaskan kesiapan pasukan Venezuela. Meskipun pengumuman semacam ini kerap dilakukan Pemerintah Venezuela, belum ada tanda-tanda pasti mengenai pengerahan fisik yang besar-besaran di lapangan.
Mesin Perang AS Kepung Venezuela
Amerika Serikat diketahui sedang melaksanakan kampanye militer di kawasan Karibia dan Pasifik timur yang disebut sebagai operasi antinarkotika. Washington mengerahkan gugus tugas kapal induk USS Gerald R Ford, mengirim jet tempur siluman F-35 ke Puerto Rico, serta menempatkan enam kapal perang Angkatan Laut AS di Karibia.
Sejak awal September, pasukan AS melancarkan serangan terhadap sedikitnya 20 kapal di perairan internasional. Menurut data militer Amerika, operasi tersebut menewaskan setidaknya 76 orang. Namun, hingga kini belum ada bukti publik bahwa kapal-kapal yang diserang itu memang digunakan untuk menyelundupkan narkoba atau menimbulkan ancaman nyata bagi AS.
Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump sempat mengecilkan kemungkinan pecahnya konflik bersenjata dengan Venezuela. Namun, ia menyiratkan bahwa kekuasaan Maduro berada di ujung tanduk. “Masa jabatan Maduro tinggal menghitung hari,” ujar Trump dalam pernyataannya, dikutip dari kantor berita AFP.
Meski belum ada langkah resmi yang menyatakan perubahan rezim sebagai tujuan utama operasi militer AS di kawasan tersebut, ketegangan antara kedua negara terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Venezuela menilai keberadaan militer AS di dekat wilayahnya sebagai bentuk provokasi yang dapat mengancam stabilitas kawasan.












