MOTOR Plus-online.com – Dua bulan terakhir, SPBU Shell dan Vivo masih mengalami kekosongan pasokan bahan bakar minyael (BBM) karena stok yang tidak tersedia. Hal ini mendapat tanggapan dari Ketua Komisi XII DPR RI.
Berbeda dengan SPBU BP-AKR yang telah kembali normal dalam hal pasokan bensin, kondisi di SPBU Shell dan Vivo masih memprihatinkan. Sampai saat ini, stok BBM di kedua SPBU tersebut masih kosong.
Ketua Komisi XII DPR RI yang membidangi Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bambang Patijaya menyebutkan bahwa kendala pasokan pada SPBU swasta sudah mulai terselesaikan. Hal ini ditandai dengan adanya peningkatan pasokan BBM di PT Aneka Petroindo Raya (BP-AKR).
Menurut Bambang, langkah yang dilakukan oleh Kementerian ESDM dalam menyelesaikan masalah kekosongan BBM di SPBU swasta dinilai tepat. Salah satu cara yang dilakukan adalah mendorong adanya pembelian BBM dasar dari Pertamina.
“Barang itu sudah cooling down, regulasinya sudah jelas mereka diberikan kuota ditambah 10%. Sudah, jadi masalahnya di mana kira-kira?” ujar Bambang saat diwawancara usai acara Coalindo Coal Conference 2025, seperti dikutip Kontan.co.id.
Bambang kemudian menambahkan bahwa terkait kelanjutan dari kesepakatan SPBU swasta lainnya, seperti Shell Indonesia dan Vivo, Komisi XII DPR RI tidak melihat adanya urgensi untuk menggelar rapat lanjutan mengenai kekosongan pasokan BBM.
Sebelumnya, Ketua DPR Puan Maharani menyatakan bahwa lembaga legislatif akan fokus pada 16 isu yang akan dibahas bersama mitra kerja atau pemerintah. Salah satunya, terkait kelangkaan BBM di SPBU Swasta.
“Saya masak enggak begitu perhatikan Ibu Puan bilang itu kemarin, saya ada di ruangan kok,” ucap Bambang.
Lebih lanjut, Bambang menyatakan dukungan terhadap adanya penambahan kuota impor BBM tahun depan sebesar 10%, meskipun besar volumenya sama seperti kuota sepanjang tahun ini.
“Saya oke-oke saja, enggak ada masalah selama ini menjawab persoalan yang ada, impor terkendali tetapi mereka (SPBU swasta) juga ada solusi,” ungkap Bambang.
Hingga saat ini, BP-AKR menjadi satu-satunya SPBU swasta yang telah membeli minyak base fuel atau BBM murni dari Pertamina Patra Niaga (PPN) sebanyak 100 ribu barel.
Pj. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun menyampaikan bahwa BP-AKR telah sepakat untuk melakukan proses Business to Business dengan Pertamina Patra Niaga untuk pemenuhan pasokan BBM dengan menyerap kargo impor dari Pertamina Patra Niaga.
“Untuk penyaluran pasokan yang sudah dilayani kepada PT APR sebanyak 100 ribu barel (MB) yang akan digunakan untuk SPBU-SPBU BP-AKR,” jelas Roberth dalam keterangan tertulis, Minggu (02/11/2025).
Dengan niat baik, transparansi serta sesuai dengan good corporate governance, Pertamina Patra Niaga dan PT APR berkomitmen memastikan ketersediaan BBM serta distribusi energi dan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Roberth menegaskan bahwa kolaborasi dengan badan usaha swasta menjadi bukti nyata bahwa menjaga energi adalah kerja bersama.
Adapun, proses kolaborasi dalam membantu pasokan BU Swasta ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan yang menjunjung tinggi mekanisme compliance dan governance secara Business to Business (B2B).
Proses negosiasi dari sisi jumlah kebutuhan berdasarkan volume permintaan, pelaksanaan tender supplier yang dilakukan dengan aspek GCG dan konfirmasi berulang dengan customer (APR), pelaksanaan join Surveyor, sampai dengan mekanisme open book untuk negosiasi aspek komersial dilaksanakan, hingga akhirnya proses bongkar dilaksanakan dan diterima BU Swasta untuk disalurkan kepada masyarakat.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”












