Upaya Rehabilitasi Lahan Kritis di Banyumas
Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Yayasan KEHATI) bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wana Basuki melakukan kegiatan rehabilitasi lahan kritis melalui penanaman 1.700 bibit pohon di wilayah Perhutani KPH Banyumas Timur, tepatnya di Petak 9, 12 dan 10D Desa Tunjung, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 11 November 2025, dengan luas area yang ditanami sebesar 12 hektare. Pendanaan untuk kegiatan ini berasal dari hibah Program SOLUSI yang dikelola oleh Yayasan KEHATI.
Beragam Jenis Bibit untuk Rehabilitasi dan Pemberdayaan

Beberapa jenis tanaman yang ditanam dalam kegiatan ini antara lain:
- Artocarpus heterophyllus (Nangka): 588 bibit
- Theobroma cacao (Kakao): 588 bibit
- Manilkara zapota (Sawo): 706 bibit
- Gliricidia sepium (Gamal): 235 bibit
- Arenga pinnata (Aren): 118 bibit
- Inocarpus fagifer (Gayam): 118 bibit

Menurut Muhammad Korebima, Tim Leader Project SOLUSI dari Yayasan KEHATI, program ini merupakan bagian dari kerja sama antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Jerman melalui BMUV dan lembaga pengelola dana GIZ.
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Tanaman Produktif
Ketua LMDH Wana Basuki, Agus Priyono, menjelaskan bahwa kegiatan penanaman tidak hanya bertujuan memulihkan fungsi hutan, tetapi juga memberdayakan masyarakat desa hutan.
“Kami menanam tanaman produktif seperti kakao, nangka, sawo, durian, dan kopi. Tujuannya agar warga bisa mendapatkan manfaat ekonomi, sekaligus menjaga sumber mata air,” kata Agus.
Ia menambahkan, sistem perhutanan sosial yang diterapkan LMDH Wana Basuki menjadi wadah bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam pengelolaan hutan secara berkelanjutan.

Apresiasi Pemerintah Desa dan Harapan Warga
Sairan, salah satu warga setempat, mengungkapkan apresiasinya terhadap kegiatan ini. Ia menyampaikan bahwa kini mereka menanam kopi, kakao, durian, petai, dan jengkol. Hasilnya mulai terasa dan mendukung ketahanan pangan.
Sinergi untuk Banyumas yang Lestari
Program rehabilitasi lahan kritis ini diharapkan menjadi contoh kolaborasi antara lembaga donor, masyarakat, dan pemerintah daerah. Selain memulihkan ekosistem, kegiatan ini juga membuka peluang ekonomi melalui sistem agroforestry berkelanjutan di wilayah perhutanan sosial.












