Apa yang Membuat Hidupku Terasa Berarti?
Seringkali muncul satu pertanyaan yang berputar di kepalaku, terutama di sela rutinitas kerja dan tumpukan buku: bagian mana sih dari karierku yang membuatku merasa paling hidup? Dan ketika ada topik pilihan di kali ini, aku mencoba melihatnya dari sudut pandangnya dalam konsep ikigai, sebuah filosofi hidup dari Jepang yang kerap digambarkan sebagai irisan empat elemen: passion, mission, vocation, dan profession.
Ikigai sering diterjemahkan sebagai “alasan untuk bangun di pagi hari”, tetapi bagiku, ia lebih mirip kompas atau penunjuk arah agar kita tidak berjalan jauh tanpa tahu ke mana tujuan kita. Secara sederhana, ikigai berasal dari bahasa Jepang: iki yang berarti hidup, dan gai yang berarti nilai atau makna. Ikigai dapat dimaknai sebagai alasan yang membuat hidup terasa layak dijalani, sesuatu yang memberi semangat untuk bangun di pagi hari.
Dalam banyak literatur modern, ikigai digambarkan sebagai irisan empat elemen: passion, mission, vocation, dan profession. Namun bagiku, ikigai lebih dari sebatas diagram. Ikigai merupakan kompas batin, sebuah penunjuk arah agar aku tidak berjalan jauh tanpa tahu ke mana tujuan hidup dan karier ini bergerak.
Sebagai pustakawan yang juga gemar menulis, aku mencoba menempatkan aktivitas harianku dalam empat elemen ikigai itu.
Passion: Apa yang Membuatku Bertahan
Aku bekerja di antara rak-rak buku, katalog, dan keheningan perpustakaan. Namun yang membuatku bertahan bukan hanya rutinitasnya, melainkan cerita-cerita yang hidup di balik buku dan keheningan itu sendiri.
Ada cinta atas karya dan pengabdianku, juga kepuasan tersendiri saat membantu seseorang menemukan bacaan yang tepat, atau melihat anak-anak betah berlama-lama di perpustakaan. Apalagi menjadi pendengar setia mereka yang ingin duduk bersamaku sembari mencurahkan isi hati, aku seolah menjadi seorang biblioterapist.
Di sisi lain, menulis adalah ruang paling terbuka dan jujur bagiku. Melalui tulisan, aku mengolah setiap pengalaman, iman, kegelisahan, juga harapan. Menulis bukan hanya sebagai hobi, tetapi lebih pada sebuah cara memahami hidup.
Di titik inilah, aku tahu: kata dan makna adalah passion yang tak bisa kupisahkan dari diriku. Ada cinta di dalamnya.
Mission: Untuk Apa Semua Ini Kulakukan?
Aku mulai menyadari bahwa pekerjaanku memiliki tujuan yang lebih besar dari sekadar menyelesaikan tugas. Sebagai pustakawan, misiku adalah menjaga agar literasi tetap manusiawi, tak hanya diukur dari frekuensi kunjungan atau laporan statistik.
Sebagai penulis, misiku adalah menghadirkan suara yang mengalir dan apa adanya. Aku lebih nyaman berkisah tentang budaya, iman, perjalanan, kemanusiaan, dan keseharian.
Dalam berbagi diary hidup, seperti kisah pengalamanku tahun kemarin mengalami kecelakaan tragis, aku ingin tulisanku ini menjadi ruang yang aman bagi pembaca untuk merasa dimengerti, atau setidaknya tidak sendirian.
Dalam tulisan-tulisanku tentang sejarah dan budaya, aku membawa misi sederhana namun kurasa sangat membantu, agar semakin banyak orang mengenal kisah-kisah lokal yang kerap luput dari perhatian.
Sejarah tidak selalu tentang peristiwa besar; sering kali ia hidup dalam cerita kecil di sekitar kita, di gang-gang kota, tradisi yang nyaris dilupakan, atau nama-nama yang jarang disebut.
Ketika menuliskan perjalanan, aku tidak semata mencatat tempat yang kudatangi. Aku ingin membagikan kisah, sejarah, suasana, dan informasi seluk-beluk wilayah yang kulewati dan kujalani, agar pembaca bukan hanya tahu “di mana”, tetapi juga memahami “mengapa” sebuah tempat layak dikenang.
Sementara itu, saat menulis tentang kuliner, baik yang kekinian maupun yang legendaris, misiku tetap sama yakni membagikan hal-hal sederhana yang bisa dinikmati banyak orang. Makanan bagiku bukan sekadar rasa, tetapi lebih pada menyesap cerita, memori atau nostalgia, dan perjumpaan yang menjaga nilai kebersamaan.
Di titik ini, aku memahami bahwa misiku bukan hanya menulis, melainkan menghadirkan kedekatan antara pembaca dengan sejarah, antara manusia dengan ruang hidupnya, dan antara keseharian dengan makna yang terkandung di dalamnya.
Mission-ku sederhana namun mendalam: memberi hidup melalui pengetahuan dan refleksi.
Vocation: Panggilan dalam Talenta
Tak semua panggilan hidup berjalan di jalur yang gemerlap. Menjadi pustakawan di era serba digital sering kali terasa sunyi. Menulis refleksi pun jarang menjanjikan popularitas instan.
Aku hanya selalu bersyukur bahwa aku dapat menemukan, mengolah, dan merawat talenta yang Tuhan berikan melalui cinta menjalani panggilan hidup sebagai pendidik sekaligus pustakawan yang gemar mengabadikan sesuatu dalam tulisan.
Namun justru di sanalah aku merasa berada di tempat yang tepat. Ada kepuasan batin ketika pekerjaanku, meski kecil dan senyap, berdampak pada cara orang lain melihat dunia.
Vocation-ku terletak pada peran merawat ingatan, kata, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Profession: Realitas yang Dijalani
Tentu saja, hidup tidak hanya soal idealisme. Gaji, tanggung jawab, dan target tetap menjadi bagian dari keseharian. Pekerjaanku sebagai pustakawan memberi struktur dan stabilitas dan menulis, meski belum sepenuhnya menjadi sumber utama penghidupan, mampu memberiku arah dan tujuan.
Aku belajar berdamai dengan kenyataan bahwa profession-ku mungkin belum sempurna, tetapi selaras dengan nilai yang kuhidupi.
Ke Mana Arah Kompas Ini?
Jika ikigai adalah kompas, maka jarumnya saat ini menunjuk ke satu arah yang cukup jelas: tetap berjalan di jalur literasi dan penulisan, dengan kesadaran yang lebih jujur terhadap diri sendiri.
Aku masih ingin berjalan ke arah ini. Bisa jadi dengan langkah pelan, bisa pula dengan jalan memutar. Namun selama aku masih merasa hidup saat membaca, menulis, dan berbagi sebuah makna, dan aku juga tahu kompas itu belum melenceng.
Ikigai tidak selalu memberi jawaban final. Terkadang, ia hanya membantu kita agar tak tersesat terlalu jauh dari hati kita sendiri.
Aku percaya, selama langkah ini ditempuh dengan kejujuran dan dengan cinta pada karya yang Tuhan percayakan, menghidupi talenta yang Tuhan beri, pelayanan yang tulus dan penuh kasih pada sesama, Dia bekerja diam-diam di sepanjang jalan hidupku.












