Kehidupan yang dulu kita alami, khususnya bagi mereka yang lahir antara tahun 1975 hingga 1998, pasti masih terasa jelas. Masa kecil yang penuh dengan kesederhanaan dan kebebasan. Setelah pulang sekolah, kita langsung pergi ke rumah teman tanpa perlu merencanakan apapun. Tidak perlu chatting atau mengatur waktu. Cukup mengetuk pintu dan berkata, “Woi, main yuk!” Lalu bermain sampai maghrib. Pulang ketika lapar atau langit gelap. Semua gratis, tidak ada biaya sama sekali.
Sekarang, bahkan untuk bermain bersama teman pun harus mengeluarkan uang. Tidak mungkin lagi hanya duduk-duduk di rumah. Harus pergi ke kafe, minimal memesan kopi kekinian dengan harga mulai dari 25 ribu. Jika banyak orang, maka siap-siap menghabiskan 100 ribu. Itu baru satu contoh dari banyak hal yang dulu gratis, sekarang harus dibayar.
Main Bareng Teman
Dulu: Kumpul di teras rumah, main petak umpet, main kelereng, atau ngobrol sambil makan es mambo 500 perak.
Sekarang: “Yuk nongkrong!” artinya ke kafe minimal 50 ribu per orang. Jika tidak, bisa dianggap pelit atau malu-maluin. Betul, kan?
Nonton Bareng
Dulu: Kumpul di rumah teman yang punya TV, nonton bareng film kartun. Gratis. Bawa cemilan dari rumah atau pinjem laser disk, VCD, DVD.
Sekarang: Layanan streaming seperti Netflix (54-186 ribu), Disney+ (65-119 ribu), HBO Max (49-119 ribu), YouTube Premium (69 ribu). Jika ingin lengkap, siap-siap 300-400 ribu sebulan cuma buat nonton.
Dengar Musik
Dulu: Nyalain radio. Gratis. Atau pinjem kaset/CD punya teman, dengerin lagu juga bareng-bareng.
Sekarang: Spotify Premium 80 ribu/bulan. YouTube Music bundling sama YouTube Premium 69 ribu. Maugratis? Ada, tapi iklan tiap 2 lagu. Gangguin banget, kan?
Baca Berita
Dulu: Beli koran 3 ribu, baca sampai tuntas. Atau baca koran bekas di warung.
Sekarang: Buka website berita, langsung “Daftar Premium untuk lanjut baca.” Atau di-paywall setelah 3 artikel gratis per bulan. Mau baca berita aja sekarang harus langganan.
Simpan Foto
Dulu: Foto dicetak, masuk album. Sekali bayar, permanen. Kadang malah dapat foto hasil cetak dari teman. Gratis.
Sekarang: Google Photos 100 GB: 27 ribu/bulan. iCloud 50 GB: 15 ribu/bulan. Foto kamu disandera sama cloud storage. Berhenti bayar? Foto kamu hilang akses. Coba aja!
Minum Air
Dulu: Haus? Minum air keran atau air sumur. Atau minta air putih di warung, dikasih gratis.
Sekarang: Air galon 20 ribu. Air mineral kemasan kecil 3.000-5.000. Mau minum di kafe atau restoran? “Air mineral atau air putih biasa?” Harganya 10.000 hingga 5.000. Bahkan ada “premium water” yang dijual 25.000-50.000 per botol.
Olahraga
Dulu: Main bola di lapangan kampung. Jogging di komplek. Push-up di rumah. Semuanya gratis.
Sekarang: Gym membership 300-500 ribu/bulan. Yoga class 150 ribu sekali datang. Kelas Zumba 100 ribu. Bahkan ada yang jual “work out plan” online 200 ribu/bulan.
Parkir di Mana-Mana
Dulu: Parkir di pusat perbelanjaan, rumah sakit, kantor pemerintah… ada yang gratis. Kalau pun harus bayar nggak mahal.
Sekarang: Parkir motor 5.000. Mobil 10.000. Bahkan parkir di rumah sakit pun bayar. Mau jenguk orang sakit aja kena biaya parkir 15.000 per jam.
Kantong Plastik
Dulu: Belanja di mana aja, dapat kantong plastik gratis. Bahkan suka di kasih dobel biar nggak jebol.
Sekarang: Kantongnya bukan plastik sih, model kanvas gitu harganya 200-500 per lembar. Mau bawa tas sendiri tapi lupa? Ya udah, bayar lah.
Main Game
Dulu: Main Nintendo di rumah teman, pinjem kaset game, tukar-tukaran sama teman. Atau kalau punya PC, bisa beli kaset bajakan 5.000-10.000 di ITC, instal gamenya terus main selamanya.
Sekarang: Game free-to-play tapi penuh app purchase. Skin 50 ribu, battle pass 100 ribu per season, gacha system yang bikin kamu harus merogoh ratusan ribu buat dapet character yang kamu mau. Bahkan bisa jutaan, lho! Atau game AAA full price 800 ribu, tapi masih ada DLC 200-300 ribu lagi. Game subscription kayak Xbox Game Pass 50 ribu sebulan, PlayStation Plus 70 ribu sebulan. Yang dulu beli sekali main selamanya, sekarang harus bayar terus-terusan.
Kenapa Semua Jadi Bayar, Sih?
Karena sekarang semuanya jadi “service.” Dulu kamu beli barang, kamu punya barangnya. Sekarang kamu bayar akses. Kamu nggak punya apa-apa, kamu cuma “sewa.” Yang paling licik sistem ini: semua di kemas jadi “subscription.” 50 ribu sebulan kedengarannya murah. Sebenarnya kalau kamu itung setahun? 600 ribu. Lima tahun? 3 juta. Cuma buat satu layanan doang.
Sekarang coba itung berapa banyak subscription yang kamu bayar:
Netflix
Spotify
Cloud storage
Aplikasi produktivitas
Gym membership
Streaming lain
Game pass
Delivery apps
Totalnya? Mungkin 500 ribu-1 juta per bulan. Setahun 12 juta. Lantas kamu nggak punya apa-apa. Berhenti bayar, semuanya hilang guys.
Nostalgia yang Harganya Cukup Mahal
Kadang saya kangen masa-masa dulu. Bukan karena zamannya lebih baik… bukan, bukan, tapi karena masa itu hidup terasa lebih sederhana. Kita bisa senang tanpa harus bayar. Kita bisa ngumpul sama teman-temen tanpa mikirin “budget nongkrong.” Kita bisa nonton, dengerin musik, olahraga semuanya tanpa subscription. Sekarang? Bahkan buat bahagia aja rasanya harus keluar uang.
Sebenarnya ada hal yang paling menyedihkan sih, generasi setelah kita nggak akan pernah ngerasain gimana rasanya hal-hal di atas tadi itu secara gratis. Buat mereka, semua emang dari awal harus bayar. Kita, yang lahir sebelum tahun 2000, adalah generasi terakhir yang tahu bedanya. Kita masih inget rasanya hidup tanpa subscription. Kita masih inget rasanya bahagia itu sederhana.
Apa perlu kita jelasin ke anak-anak kita nanti: “Dulu tuh, main bareng teman itu nggak perlu ke Mall atau ke Cafe.” Mereka mungkin nggak akan percaya.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.












