Penguatan Stabilisasi Pangan dan Kebijakan Satu Harga Beras
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, kembali menyoroti rencana penerapan satu harga beras secara nasional sebagai bagian dari upaya penguatan stabilisasi pangan pasca-swasembada. Rizal menjelaskan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk memastikan keterjangkauan harga beras SPHP dari Sabang sampai Merauke.
Dorongan terhadap satu harga beras muncul setelah posisi stok nasional dinilai kuat dan merata. Bulog mencatat total stok beras nasional mencapai 3,35 juta ton per Januari 2026, dengan target penyerapan sebesar 4 juta ton sepanjang tahun ini. Kesiapan stok tersebut menjadi landasan untuk memperluas intervensi harga hingga wilayah terluar.
“Dari 4 juta ton target serapan, peluangnya bukan hanya ekspor, tetapi juga mendorong harga beras satu harga dari Sabang sampai Merauke,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (9/1/2026).
Bulog menyiapkan kebijakan tersebut bersamaan dengan penguatan cadangan beras pemerintah di daerah. “Seperti Pertamina menerapkan satu harga BBM dari Sabang sampai Merauke, Bulog bercita-cita beras SPHP juga satu harga,” ujarnya.

Menurut data Badan Pusat Statistik pada April 2025, luas panen padi Indonesia mencapai 1,65 juta hektare dengan produksi padi diperkirakan sebanyak 9,09 juta ton gabah kering giling (GKG) yang jika dikonversikan menjadi beras diperkirakan mencapai sekitar 5,23 juta ton beras untuk konsumsi pangan penduduk.
Dalam penanganan bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, Bulog melipatgandakan stok sesuai kebutuhan daerah. Aceh menerima tambahan 5.000 ton beras atas permintaan gubernur, sementara distribusi difokuskan ke wilayah yang sempat terisolasi seperti Takengon, Bener Meriah, dan Aceh Tamiang.
Di Sumatra Utara, Bulog mengelola 19 gudang dengan stok cadangan 17.904 ton per Januari. Penyaluran bantuan beras pemerintah untuk bencana alam di provinsi tersebut mencapai 5.098 ton, disertai dukungan minyak goreng dan logistik lainnya. Distribusi berjalan relatif lancar karena akses wilayah lebih cepat pulih.
Sumatra Barat memiliki hampir 12 gudang dengan posisi stok penuh. Stok beras tercatat 5.508 ton per 8 Januari, dengan tambahan sekitar 30.000 ton dalam perjalanan dari Tanjung Priok menuju Padang. Bantuan beras untuk masyarakat terdampak di provinsi ini mencapai 6.795 ton.
Bulog juga mencatat puncak stok nasional pernah menyentuh 4,5 juta ton pada Juli 2025, menjadi tonggak penguatan cadangan pascaswasembada. Hingga Januari 2026, stok masih berada di atas 3,2 juta ton dan dinilai cukup untuk menopang stabilisasi harga dalam negeri.

Menuju Swasembada Pangan
Stok Beras Indonesia Tekan Harga Beras Dunia
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan tercapainya swasembada beras bagi bangsa Indonesia membuat harga komoditas tersebut turun hingga 44 persen di tingkat pasar global.
“Dampak positifnya adalah harga pangan (beras di) dunia turun dari 650 dolar Amerika Serikat (AS) per metrik ton menjadi 340 dolar AS per metrik ton. Turun 44 persen,” kata Amran dalam Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan oleh Presiden Prabowo di Karawang, Jawa Barat.
Menurut Amran, efek Indonesia tidak melakukan impor membuat pasokan beras di pasar internasional dari negara-negara eksportir menjadi berlimpah. “Inilah hasil karya petani Indonesia di panggung internasional, sehingga karya petani Indonesia dinikmati dunia hari ini. Inilah puncak kebahagiaan petani,” ujarnya.
Dengan demikian, lanjut Amran, kebijakan tegas Presiden Prabowo Subianto benar-benar menjadikan petani Indonesia berkontribusi secara tidak langsung terhadap pasar beras global.
Selama ini Indonesia kerap melakukan impor beras demi memenuhi kebutuhan dalam negeri akibat belum mampu meningkatkan produksi padi secara optimal.
Namun, berkat kebijakan yang berpihak kepada petani, kini produksi meningkat signifikan dengan stok awal tahun 2026 mencapai 3,25 juta ton. Stok tersebut disebut sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah karena selama ini Indonesia tidak pernah memiliki stok di atas 3 juta ton pada awal tahun.
“Saat ini tidak ada impor, itu secara otomatis membuat barang melimpah di luar. Vietnam, Thailand, India, Pakistan, dan seterusnya. Ini secara tidak langsung petani Indonesia, masyarakat Indonesia, berkontribusi pada dunia ini,” beber Amran.
Ia menegaskan, capaian tersebut merupakan gagasan dan kebijakan besar Presiden Prabowo yang kemudian dilaksanakan Kementerian Pertanian dengan dukungan TNI-Polri, Kejaksaan, Kementerian Perdagangan, BUMN, serta Komisi IV DPR.
Indonesia yang menorehkan pencapaian swasembada beras memutuskan tidak melakukan impor sejak tahun 2025. Keputusan bersejarah itu merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia dapat berdiri di atas kaki sendiri, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan konsumsi beras masyarakat.
Amran menegaskan Indonesia tidak lagi memerlukan impor karena produksi beras nasional telah memadai. Saat ini stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sepenuhnya bersumber dari kristalisasi kerja keras para petani dalam negeri.
“Hari ini adalah hari kebahagiaan bagi petani seluruh Indonesia. Petani betul-betul sangat bahagia dengan kebijakan Bapak Presiden. Harga gabah naik. Kesejahteraan petani naik,” ucap Amran.
Adapun pergerakan harga beras di pasar internasional salah satunya dapat dipantau melalui laman resmi The Food and Agriculture Organization (FAO). FAO menyajikan panel informasi berupa The FAO All Rice Price Index (FARPI). FARPI merupakan indeks bulanan FAO yang mencerminkan rata-rata harga berbagai jenis komoditas beras dari negara-negara pengekspor.
Berdasarkan FARPI, rekor indeks harga terendah dalam lima tahun terakhir terjadi pada 2025. Pada November 2025, indeks tercatat berada di level 96,9. Dalam catatan FAO, indeks FARPI terendah sebelumnya terjadi pada 2021, tepatnya Agustus 2021, dengan indeks 97,9.
Menariknya, pada 2021 dan 2025 Indonesia sama-sama tidak melaksanakan pengadaan impor untuk penambahan stok CBP.
Kesamaan kondisi tersebut menggambarkan besarnya pengaruh Indonesia terhadap pergerakan pasar beras internasional. Ketiadaan impor beras Indonesia pada 2025 memberikan dampak signifikan.
Selain itu, dalam 18 tahun terakhir, stok akhir CBP tanpa pasokan impor juga belum pernah mencapai lebih dari 3 juta ton. Pada 2008, ketika tidak ada impor, stok akhir CBP berada di level 1,1 juta ton.
Kemudian pada 2009 yang juga nihil impor, stok akhir tahun tercatat 1,6 juta ton. Sementara pada periode 2019 hingga 2021, ketika tidak ada impor, stok akhir CBP masing-masing berada di angka 2,2 juta ton, 1,9 juta ton, dan 0,8 juta ton.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”












