Presiden AS Mengkritik Iran dalam Kondisi Kekacauan
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyatakan bahwa Iran sedang menghadapi “masalah besar” seiring meluasnya gelombang protes anti-pemerintah di berbagai kota. Demonstrasi ini telah memicu bentrokan, korban jiwa, ribuan penangkapan, serta pemadaman internet nasional.
Gelombang demonstrasi ini bermula pada akhir Desember 2025, yang dipicu oleh krisis ekonomi, anjloknya nilai rial, dan lonjakan harga kebutuhan pokok. Aksi menyebar ke ratusan kota, memicu kerusuhan dan penggerebekan massal. Trump menegaskan bahwa pihaknya terus memantau situasi tersebut dengan cermat dan memperingatkan Teheran agar tidak menggunakan kekuatan mematikan terhadap demonstran.
Protes Dipicu Krisis Ekonomi
Pemicu utama protes adalah krisis ekonomi yang semakin memburuk. Nilai tukar rial anjlok ke titik terendah sepanjang sejarah setelah protes dimulai pada 28 Desember 2025. Lonjakan harga kebutuhan pokok dan tekanan sanksi internasional juga menjadi faktor utama kemarahan publik. Awalnya, aksi protes berlangsung dalam bentuk penutupan pasar di sekitar Grand Bazaar Teheran. Dalam hitungan hari, demonstrasi berkembang menjadi aksi jalanan yang menyebar cepat ke puluhan kota, termasuk Teheran, Abadan, dan Kermanshah.
Korban Jiwa dan Penangkapan Massal
Hingga saat ini, pemerintah Iran belum merilis data resmi korban. Namun, laporan dari lembaga Hak Asasi Manusia (HRANA) menyebutkan lebih dari 2.277 orang ditangkap, ratusan luka-luka, dan sedikitnya 42 orang tewas, termasuk personel keamanan. Sementara itu, organisasi HAM Iran (IHRNGO) mencatat jumlah korban tewas mencapai 51 orang, termasuk anak-anak. BBC Persian juga mengonfirmasi identitas puluhan korban melalui wawancara dengan keluarga.
Internet Dipadamkan Secara Nasional
Seiring meningkatnya intensitas protes, Iran memberlakukan pemadaman internet nasional sejak Kamis (8/1/2026). Lembaga pemantau NetBlocks mencatat penurunan drastis lalu lintas data, disertai gangguan layanan telepon seluler dan aplikasi pesan instan di berbagai wilayah. Pemadaman ini dilakukan sebagai langkah darurat untuk memutus koordinasi massa melalui media sosial. Meski akses internet terputus, aksi protes tetap berlanjut. Rekaman terverifikasi menunjukkan massa masih berkumpul di sejumlah kota, meneriakkan slogan anti-pemerintah dan merobohkan simbol-simbol kekuasaan.
Sikap Keras Teheran dan Tuduhan ke AS
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menepis protes tersebut dan menyebut para demonstran sebagai “pembuat onar” yang berusaha menyenangkan Presiden AS. Dalam pidato televisi, Khamenei menegaskan bahwa Republik Islam tidak akan mundur menghadapi apa yang ia sebut sebagai unsur perusak. Iran juga mengirim surat ke Dewan Keamanan PBB yang menuduh Amerika Serikat mencampuri urusan dalam negeri dan menghasut ketidakstabilan.
Tekanan Internasional Meningkat
Di sisi lain, para pemimpin Inggris, Prancis, dan Jerman menyatakan keprihatinan mendalam atas laporan kekerasan terhadap demonstran. Dalam pernyataan bersama, mereka mendesak pemerintah Iran melindungi hak warga untuk berekspresi dan berkumpul secara damai. Juru bicara PBB Stéphane Dujarric mengatakan Perserikatan Bangsa-Bangsa sangat prihatin atas jatuhnya korban jiwa. Ia menegaskan bahwa setiap pemerintah memiliki kewajiban melindungi hak dasar warganya.
Gelombang Demonstrasi yang Terbesar
Gelombang demonstrasi ini menjadi yang terbesar sejak protes 2022–2023 menyusul kematian Mahsa Amini, dan kini dipandang sebagai ujian serius terhadap stabilitas politik serta legitimasi Republik Islam Iran.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”












