Di Balik Kebiasaan Menggulung Layar Sampai Lupa Tidur



Malam semakin larut, jam dinding terus berdetak. Namun, mata kadang tak bisa diajak kompromi. Meski tubuh sudah merasa lelah dan meminta untuk beristirahat, tetap saja sulit untuk tertidur. Kasur tampaknya menunggu dengan tangan terbuka, siap menerima tubuh yang lelah.

Secara logis, langkah yang seharusnya dilakukan adalah meletakkan ponsel di samping tempat tidur, mematikan perangkat, lalu segera merebahkan diri. Terdengar sederhana, tapi bagi sebagian orang, hal ini justru sangat sulit. Jari-jemari tidak bisa mengikuti instruksi otak. Tidak bisa berhenti menggulir layar ponsel.

Tidak ada aktivitas penting yang dilakukan. Hanya sekadar melihat update dari Instagram, lalu beralih ke TikTok untuk menonton video lucu, atau membaca gosip di X (Twitter). Namun, tidak berhenti sampai di situ. Kembali lagi ke Instagram, TikTok, X, dan aplikasi lainnya. Proses ini terus berulang tanpa henti.

Pepatah mengatakan bahwa penyesalan selalu datang terlambat. Hal ini akan terasa ketika pagi hari tiba. Kepala terasa pusing, atau bahkan bangun kesiangan. Akibatnya, terlambat ke kantor, memutuskan untuk tidak mandi agar tidak kesiangan, dimarahi atasan, hingga ketinggalan meeting penting. Presensi pun ditandai dengan tanda merah, sebuah peringatan keras atas sikap tidak disiplin dan tidak menghargai waktu.

Sayangnya, menghentikan kebiasaan ini sangat sulit. Bukan karena sengaja menunda tidur, tetapi memang terkadang sulit untuk tertidur. Bagi sebagian orang, malam hari menjadi satu-satunya waktu untuk “balas dendam” terhadap hari yang padat. Dari pagi hingga jam 5 sore, pekerja harus menghadapi tumpukan dokumen, bos yang menyebalkan, dan klien yang membebani. Belum lagi kemacetan yang menguras energi.

Oleh karena itu, malam hari menjadi waktu untuk bersenang-senang tanpa beban. Namun, ironisnya, “balas dendam” ini justru melukai diri sendiri. Meskipun merasa menang dengan mencuri waktu untuk bersenang-senang, pada akhirnya kita kalah karena membayar dengan kesehatan fisik dan mental.

Konsep ini terus berulang hingga libur akhir pekan. Waktu yang seharusnya digunakan untuk istirahat berkualitas justru dipakai untuk “balas dendam”. Jika tidak dihentikan sekarang, siklus ini akan terus berjalan, membuat seseorang membenci hari-harinya.

Jujur saja, teori ini terdengar lebih mudah dibandingkan praktiknya. Mendeklarasikan untuk meletakkan ponsel tidak sesulit melakukannya. Rasa gatal di jari-jemari seringkali mengalahkan niat. Maka, yang perlu diubah adalah mindset. Konsep Me Time bukan berarti scrolling media sosial sampai larut malam. Bukan juga menghabiskan banyak waktu luang.

Setelah mengubah mindset, siapkan transisi mode. Perbedaan antara mode kerja dan mode tidur harus jelas. Pastikan membuat ritual sebelum tidur dengan menghindari layar ponsel selama 30 menit. Bisa diganti dengan rutinitas seperti menggunakan skincare malam, membaca buku, atau beribadah seperti berdoa, berdzikir, atau membaca Al-Quran bagi umat Muslim.

Lebih baik menggunakan “balas dendam” itu dengan bangun lebih awal sebelum pergi ke kantor. Waktu luang bisa digunakan untuk Me Time, seperti minum kopi dengan tenang, membaca berita, atau melakukan olahraga ringan. Aktivitas yang disukai juga bisa disisipkan di jam istirahat. Misalnya, di siang hari, mencuri waktu 15 menit sebelum masuk kerja dengan mendengarkan musik, membaca komik, atau meminum kopi.

Dengan menyisipkan kebahagiaan kecil di siang hari, otak tidak akan terlalu haus akan hiburan di malam hari. Mulai sekarang, mulai dari malam ini, ketika jari-jemari gatal ingin scroll TikTok lagi, coba untuk berhenti. Tanyakan pada diri sendiri, apakah benar-benar menikmati kegiatan ini, atau hanya takut hari ini berakhir?

Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *