Memasuki Tahun 2025, Momen untuk Evaluasi Diri
Halo Kompasianers!
Tidak terasa ya, 12 hari lagi kita sudah berada di penghujung tahun 2025. Gimana perasaan kalian menghadapi tahun 2025 ini? Kalau Saya pribadi jujur campur aduk sih, ya ada senangnya, ada sedihnya, ada kecewanya, dan ada aja gebrakannya.
Buat Saya pribadi, setiap akhir tahun di bulan Desember akan saya jadikan momen untuk introspeksi diri Saya. Introspeksi dari segi apa yang Saya maksud? Semuanya! Dari sisi karier/kerjaan, dari segi peran Saya sebagai anak di keluarga, dan dari peran Saya sebagai Hamba Allah SWT. Jujur, Saya kok merasa di tahun 2025 ini, Saya kurang produktif berprestasi.
Seseorang pasti akan ada alarm dalam dirinya, yang biasanya mungkin produktif berprestasi dan tiba-tiba itu tidak ada dalam dirinya, pasti ia akan sangat kehilangan dirinya sendiri. Di sini, karena Saya berkarier sebagai seorang penulis, Saya merasa kok tahun ini Saya menjadi tidak produktif untuk ikut ajang lomba menulis di berbagai media, baik online atau offline. Lomba itu bukan tidak ada, tapi karena Saya merasa, Saya sudah terlalu jauh untuk tidak upgrade diri.
Perkembangan Teknologi AI dan Dampaknya pada Profesi Penulis
Berbicara tentang kepenulisan, di era sekarang dengan kehadiran AI (Artificial Intelligence) yang di dalamnya termasuk ada yang namanya Chat GPT, jujur Saya merasa khawatir tentang masa depan profesi penulis. Bagaimana tidak? Dengan adanya Chat GPT, semua jenis tulisan apapun bisa dibuat dengan mudah secepat kilat.
Ini bukan berarti Saya tidak pernah pakai Chat GPT sama sekali dalam karier kepenulisan Saya. Jujur Saya sangat terbantu dengan hadirnya terobosan Chat GPT ini, yang saya pikirkan adalah nasib seorang penulis yang benar-benar mempunyai kapabilitas sebagai seorang penulis.
Teman Saya pernah berkata, “Tenang aja, kalau kita betul-betul punya kemampuan di bidang kepenulisan dengan mempunyai gaya kepenulisan yang bagus, kita gak akan tergantikan kok, oleh AI.” Ya, tentu saja saya setuju dengan perkataan ini. Namun, di satu sisi saya juga gelisah melihat fenomena yang terjadi. Teman Saya yang juga seorang penulis pernah berkata juga. “Kok, sekarang tuh gue nyari job freelance nulis agak susah ya? Apa karena udah ada Chat GPT yang bisa nulis berbagai jenis tulisan?” Deg, di situ Saya juga terdiam cukup lama, pasalnya ini juga yang sedang Saya rasakan.
Dulu di tahun 2020-an ketika Saya membuka laman media sosial Instagram, job freelance sebagai Content Writer atau Copywriter banyak sekali. Sehingga dari situ, Saya memutuskan untuk upgrade diri mengikuti sertifikasi Content Writer & Copywriter di bulan Agustus di tahun 2020.
Coba lihat sekarang? Bukannya tidak ada job sebagai Content Writer & Copywriter ya, ada sih, cuma jumlahnya sedikit sekali. Bahkan ada salah satu akun yang rajin memposting job untuk para freelancer, akun terseebut berkata, “Sekarang dapetin job freelance nulis sesusah itu, ya?” Miris sekali Saya bacanya.
Tips untuk Para Penulis Menghadapi Era AI
Sebagai seorang penulis yang sudah memulai berkarier sejak 2014, mungkin Saya akan memberikan sedikit sudut pandang Saya bagi sesama penulis mengenai hadirnya AI yang mau tidak mau kita harus bersahabat dengannya.
-
Sering Upgrade Diri
“Kak, upgrade diri yang seperti apa sih yang Kak Dew maksud?” Kalau dari Saya pribadi, Saya akan ikut kelas untuk meningkatkan skill menulis walaupun itu berbayar. Kalau adanya kelas dengan berbayar, tandanya kita itu serius dan berkomitmen untuk mengikuti kelas sampai habis. “Tapi nyarinya di mana kak?” Di sosial media pasti banyak kelas menulis baik yang secara gratis ataupun yang berbayar. Bisa juga dengan mengadakan sharing sesama penulis sambil ngopi, tujuannya agar kita bisa dapat feedback dari rekan sesama penulis tersebut. -
Sering Nulis di Blog
Para penulis itu setahu Saya sebagian besar punya blog pribadi. Setuju gak? Ada yang pakai WordPress atau Blogspot, serta domainnya yang bermacam-macam, ada yang pakai .id, dan ada yang pakai .com. Kalau Saya, pakai yang domainnya .com. Saya bukan mau membahas domainnya apa, tapi di sini, Saya mau mengajak, ayo yang punya blog, kita coba nulis lagi di sana, bagusin personal branding kita. Saya pernah diberitahu oleh mentor Saya ketika Saya ikut sertfikasi di tahun 2020, mentor Saya bilang, “Jangan mau kalah sama AI, kita itu seorang penulis sejati. Bangun personal branding kita di sosial media. Kalian punya blog, jangan dianggurin aja, sehari bikin 1 tulisan yang bermakna, kemudia share ke sosial media, biar orang lain tahu kita itu masih eksis jadi penulis.” Kalau teman-teman lupa password blog pribadi, bisa bikin akun baru atau bisa nulis di platform blog seperti . -
Update dengan Perkembangan yang Terjadi
Saya bukan bilang untuk tidak sama sekali menggunakan chat GPT untuk menulis, cuma mungkin agar skill kita bisa lebih meningkat di dunia kepenulisan, gunakan Chat GPT sewajarnya aja ketika kita sudah buntu ide. Kemarin di bulan Juni, Saya juga ikut sertifikasi Effortless Writer di mana Saya diajarkan untuk prompting (membuat perintah berbentuk tulisan) dengan chat GPT. Tujuan Saya pribadi adalah agar Saya juga bisa update dengan perkembangan dunia digital saat ini. Mau tidak mau, suka tidak suka, ya kita harus bersahabat dengan AI.
Oke deh, demikian tulisan Saya hari ini. Terima kasih ya, bagi yang sudah membaca artikel Saya. Sampai jumpa lagi di artikel selanjutnya!
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”












