BANGKOK,
Fase Penting dalam Membangun Bioekonomi Berkelanjutan
Kawasan Asia dan Pasifik kini berada pada fase penting dalam membangun bioekonomi berkelanjutan. Pendekatan ini menggabungkan teknologi, efisiensi sumber daya, dan ketahanan iklim. Di tengah tekanan perubahan zaman, inovasi berbasis bio mulai menjadi pondasi baru bagi daya saing regional, keberlanjutan lingkungan, hingga masa depan sistem pangan.
Sektor agripangan masih menjadi jantung bioekonomi. Karena itu, terobosan di bidang pertanian, perikanan, kehutanan, dan solusi ekonomi sirkular menjadi penentu transformasi pangan di kawasan ini. FAO menjadikan bioekonomi sebagai salah satu prioritas utama dalam Kerangka Strategis 2022–2031, menegaskan komitmennya untuk mengurangi sisa dan susut pangan, mempercepat inovasi, serta mendorong pembangunan yang inklusif.
Kawasan kami memiliki ruang lingkup yang sangat luas untuk memajukan bioekonomi, ujar Alue Dohong, Asisten Direktur Jenderal FAO sekaligus Perwakilan Regional untuk Asia dan Pasifik dalam siaran persnya yang diterima.
Untuk memanfaatkannya, kita harus memastikan pasokan bahan baku yang berkelanjutan, kebijakan yang jelas dan selaras, serta kolaborasi lintas pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan produsen.
Forum BIIF 2025 Resmi Dibuka, 600 Peserta Hadir Bahas Masa Depan Bioekonomi
Forum Inovasi dan Investasi Bioekonomi Perdana (BIIF 2025) resmi dimulai di Bangkok pada hari ini. Selama tiga hari, hampir 600 peserta dari lembaga pemerintah, kedutaan besar, perusahaan swasta, lembaga riset, investor, dan startup berkumpul untuk memamerkan inovasi yang mampu menjawab persoalan kehilangan pangan, pemborosan, dan sistem agripangan yang belum efisien.
Dalam forum ini, Thailand menegaskan posisinya sebagai pelopor. Dr. Tatsanee Muangkaew, Wakil Sekretaris Tetap Kementerian Pertanian dan Koperasi Thailand, menyoroti komitmen negara tersebut terhadap Model Ekonomi Bio-Sirkular-Hijau (BCG) serta Model BCG Pertanian, yang dirancang untuk mendorong produktivitas, standar, dan pendapatan yang tinggi melalui pertanian berkelanjutan dan bernilai tambah.
Salah satu sorotan utama forum adalah Sesi Jejaring Bisnis-ke-Bisnis, yang menghubungkan lebih dari 50 pemimpin industri dan startup dengan investor dan pembuat kebijakan. Dengan 56 pembicara ahli, diskusi berfokus pada pentingnya sumber daya berkelanjutan untuk mendorong bioekonomi kawasan.
Kemitraan hayati adalah pesan utama, sebuah komitmen untuk membangun komunitas kemitraan di seputar bioekonomi, ujar Faiyaz Murshid Kazi, Duta Besar Bangladesh untuk Thailand. Percakapan ini dibutuhkan di kawasan kami, dan bersama mitra kami, kami siap untuk menambatkan gagasan ini di kawasan Asia dan Pasifik.
BEST Partnership: Kerangka Baru Menuju Transformasi Berkelanjutan
Salah satu agenda penting forum ini adalah pembahasan pembentukan simpul regional untuk Bioeconomy for Sustainable Transformation (BEST) Partnership. Wadah multipihak global ini bertujuan mempercepat solusi bioekonomi untuk sistem pertanian pangan berkelanjutan dan menjadi masukan pada Konferensi Tingkat Tinggi Bioekonomi Global di Irlandia tahun depan.
Inisiatif ini sejalan dengan G20 Bioeconomy Initiative, yang menekankan pentingnya sinergi kebijakan, pembagian pengetahuan, dan kerja sama multilateral untuk membuka potensi bioekonomi di kawasan.
Kami berharap forum ini menjadi inisiatif bagi pemerintah, sektor swasta, masyarakat sipil, peneliti, dan investor untuk berbagi inovasi, memperkuat kapasitas solusi bioekonomi, dan menjalin kemitraan, ujar Millicent Cruz Paredes, Duta Besar Filipina untuk Thailand.
Lev Neretin, Staf Senior Sumber Daya Alam FAO, menegaskan pentingnya koordinasi lintas negara. Wadah regional ini menunjukkan bahwa aksi multilateral yang koheren bukanlah pilihan, melainkan esensial. FAO berkomitmen untuk mendorong kemitraan ini agar kawasan-kawasan tersebut dapat membangun bioekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.
Upaya Kolaboratif Global, dari PBB hingga Asia Tenggara
Forum BIIF 2025 digelar oleh FAO bekerja sama dengan 18 penyelenggara dan kontributor, termasuk:
- UNCTAD
- UNEP
- ESCAP
- UNESCO
- UNIDO
- Centre for Regional Development PBB
- ASEAN
- Kedutaan Besar Bangladesh di Thailand
- Biotec
- Malaysian Bioeconomy Development Corporation
Kolaborasi multisektor ini menunjukkan bahwa transformasi bioekonomi bukan sekadar wacana teknis, melainkan upaya besar yang membutuhkan ekosistem kuat lintas negara, lembaga, dan kepentingan.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.












