Setelah Roblox, Pemerintah Pertimbangkan Batasi PUBG

Langkah Pemerintah dalam Mengatasi Dampak Negatif Game Online

Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan rencana untuk membatasi permainan game online setelah terjadi insiden di SMAN 72 Jakarta pada Jumat (12/11/2025). Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi dampak negatif dari game yang dinilai berpotensi memengaruhi perilaku anak-anak.

Menurut Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, salah satu game yang kemungkinan akan dibatasi adalah PlayerUnknown’s Battlegrounds atau PUBG. Ia menjelaskan bahwa game tersebut memiliki elemen kekerasan yang bisa dengan mudah dipelajari oleh anak-anak.

“Di situ (PUBG), kita mungkin berpikirnya ada pengambilan pembatasan ya, di situ kan jenis-jenis senjata, juga mudah sekali untuk dipelajari, lebih berbahaya lagi,” ujar Prasetyo Hadi.

Dari sudut pandang psikologis, menurut Prasetyo, anak-anak yang bermain game online seperti PUBG bisa menganggap tindakan kekerasan sebagai hal yang lumrah. Hal ini menunjukkan bahwa permainan game online tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga bisa memengaruhi cara berpikir dan sikap anak-anak terhadap dunia nyata.

Menumbuhkan Kepedulian Sosial dan Semangat Kehidupan Bermasyarakat

Selain fokus pada masalah game online, Prabowo juga menekankan pentingnya menumbuhkan kembali kepedulian sosial dan menghidupkan semangat kehidupan bermasyarakat. Salah satu langkah yang disarankan adalah pengaktifan kembali karang taruna di lingkungan masyarakat serta ekstrakurikuler Pramuka.

“Beliau juga tadi membahas bagaimana karang taruna harus aktif kembali, Pramuka harus aktif kembali,” jelas Prasetyo.

Di lingkungan sekolah, Prabowo mengimbau agar lembaga pendidikan lebih waspada terhadap hal-hal yang mencurigakan. Ia menegaskan bahwa saat ini sangat diperlukan untuk mencari solusi atas berbagai permasalahan yang terjadi di dunia pendidikan.

Larangan Game Roblox oleh Pemerintah

Sebelumnya, pemerintah melalui Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) juga ingin melarang permainan game online Roblox. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Abdul Mu’ti saat melakukan peninjauan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di SDN Cideng 02, Jakarta Pusat, Senin (4/8/2025).

Di hadapan para siswa, ia mengimbau agar tidak terlalu lama bermain ponsel dan menghindari konten kekerasan, termasuk game seperti Roblox. Ia menjelaskan bahwa game tersebut sering kali menampilkan adegan kekerasan yang bisa memengaruhi perilaku anak-anak.

“Itu mungkin banyak kekerasan ya di game itu, kadang-kadang anak-anak ini tidak memahami bahwa yang mereka lihat itu sebenarnya sesuatu yang tidak nyata,” kata Abdul Mu’ti.

Ia menambahkan bahwa praktik kekerasan dalam game bisa memicu kekerasan dalam kehidupan sehari-hari anak-anak. Oleh karena itu, pemerintah siap memblokir atau menutup situs gim online seperti Roblox jika memang banyak kekerasan dalam game tersebut.

Tindakan Tegas Terhadap Game Berisi Kekerasan

Prasetyo Hadi menyatakan bahwa ancaman blokir tersebut tidak hanya berlaku bagi Roblox, tetapi juga permainan online lain yang mengandung kekerasan. Ia menjelaskan bahwa jika memang sudah melewati batas dan memengaruhi perilaku anak-anak, pemerintah tidak ragu untuk mengambil tindakan tegas.

“Kalau memang kita merasa sudah melewati batas, apa yang ditampilkan di situ memengaruhi perilaku adik-adik kita, ya tidak menutup kemungkinan,” ujar Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (5/8/2025).

Langkah-langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk melindungi generasi muda dari dampak negatif game online. Dengan membatasi permainan yang mengandung kekerasan dan meningkatkan kepedulian sosial, pemerintah berharap dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman dan sehat bagi anak-anak.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *