Ribuan Tahanan Dipenggal dan Dikubur di Bawah Gedung Lawang Sewu Semarang

Sejarah dan Misteri di Bawah Tanah Lawang Sewu

Ruang bawah tanah Lawang Sewu, yang terletak di Kota Semarang, Jawa Tengah, kembali dibuka bagi para pengunjung sejak Desember 2024. Setelah sekian lama ditutup sejak tahun 2014, kini ruang bawah tanah tersebut menjadi daya tarik baru bagi wisatawan dan masyarakat lokal. Dengan harga tiket sebesar Rp50.000, pengunjung bisa mengikuti tur yang dipandu oleh warga setempat. Anak-anak di bawah usia 10 tahun tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangan tersebut.

Pengunjung sebelumnya diminta untuk memakai atribut keselamatan seperti sepatu, helm, tali safety, dan senter. Pintu masuk ke ruang bawah tanah masih asli dari masa penjajahan Belanda dan tertutup rapat. Sebelum turun, pemandu memberikan imbauan kepada pengunjung agar tidak membawa peralatan dokumentasi seperti kamera atau ponsel. Hal ini dilakukan sesuai dengan kebijakan pengelola bangunan.

Sejarah Ruang Bawah Tanah

Ruang bawah tanah Lawang Sewu memiliki sejarah yang panjang. Pada masa penjajahan Belanda, ruangan ini digunakan sebagai resapan air genangan atau hujan. Tujuannya adalah untuk melindungi kantor pusat perusahaan kereta api swasta NIS (Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij) pada tahun 1907. Namun, saat era Jepang menduduki Indonesia, ruangan ini diubah menjadi tempat tahanan.

Menurut cerita Umar, salah satu pemandu tur, ruang bawah tanah tidak pernah digunakan sebagai tempat tahanan selama masa penjajahan Belanda. Selama masa Jepang, ada dua ruang tahanan yang digunakan, yaitu ruang tahanan dengan posisi duduk dan jongkok. Ruang tahanan jongkok berukuran 1,5 meter ×1,5 meter dan diisi oleh lima orang, sedangkan ruang tahanan berdiri berukuran 1×1 meter dan diisi oleh lima sampai enam orang.

Di dalam ruang tahanan tersebut, para tahanan harus makan, buang air besar dan kecil di sana. Suasana sangat menyiksa dan membuat para tahanan merasa teraniaya.

Penggunaan dalam Film dan Acara TV

Ruang bawah tanah Lawang Sewu pernah digunakan sebagai lokasi syuting acara televisi “Uji Nyali” pada tahun 2004 silam. Awalnya, lokasi uji nyali tidak jauh dari tangga pengunjung turun ke bawah. Pada episode berikutnya, titik penempatan peserta uji nyali mundur sekira tiga sampai lima meter lebih jauh dari tangga.

Selama acara tersebut, pengunjung diberi kesempatan untuk mencoba uji nyali di bawah tanah. Saat itu, hanya penerangan dari kamera saja yang tersedia. Kebiasaan ini membuat banyak peserta merasa takut dan sulit menghadapi suasana gelap di dalam ruangan.

Ruang Eksekusi dan Kepercayaan Masyarakat

Di bagian akhir tur, pengunjung diajak melihat ruangan tempat para tahanan dieksekusi dengan cara dipenggal. Di lantai, terdapat besi baja kecil yang merupakan bekas tatakan meja besar terbuat dari baja. Di atas meja tersebut, terdapat pisau besar berantai yang digunakan untuk memenggal kepala tahanan.

Menurut Umar, meja baja dan pisau besar berantai tersebut kini disimpan di Museum PT KAI Bandung, Jawa Barat. Alasan pemindahan adalah untuk menjaga benda-benda bersejarah dari pencurian maupun kerusakan akibat usia.

Setelah dieksekusi, jasad para tahanan dipindahkan ke ruangan sebelah. Ada sekitar enam pintu yang kini sudah ditutup oleh batu bata. Ruangan tersebut ditutup sejak tahun 1960an dan konon masih banyak kerangka manusia di dalamnya.

Pengalaman Pengunjung

Siska, salah satu pengunjung, mengaku sudah lama penasaran dengan ruang bawah tanah Lawang Sewu. Ia awalnya mengira ruangan tersebut sebagai penjara sejak era kolonial Belanda. Namun, setelah mendengarkan cerita dari pemandu, ia mengetahui bahwa ruangan tersebut digunakan sebagai tempat tahanan saat era Jepang.

Ia menyampaikan bahwa kekurangan dari perjalanan di bawah tanah adalah tidak diperbolehkan membawa HP sehingga tidak bisa mengabadikan momen. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa ruangan tersebut sangat gelap jika tidak menggunakan senter.

Dina Nabila

Penulis yang mengamati perkembangan gaya hidup sehat dan tren olahraga ringan. Ia suka jogging sore, membaca artikel kesehatan mental, dan mencoba menu makanan sehat. Menurutnya, menulis adalah cara menjaga keseimbangan pikirannya. Motto: “Sehat dalam pikiran, kuat dalam tulisan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *