Kondisi Ketahanan Energi Indonesia dalam Tengah Perang di Timur Tengah
Ketahanan energi menjadi isu penting yang perlu diperhatikan, terutama di tengah gejolak perang antara Iran dengan negara-negara lain seperti Amerika Serikat dan Israel. Di tengah situasi ini, masyarakat Indonesia harus siap berhemat, khususnya dalam penggunaan bahan bakar minyak (BBM) untuk kendaraan serta elpiji (LPG) sebagai sumber energi memasak.
Indonesia memiliki struktur sumber daya energi yang didominasi oleh batubara, diikuti oleh gas alam dan minyak bumi. Berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), cadangan batubara Indonesia mencapai sekitar 34 miliar ton, menjadikannya salah satu negara dengan cadangan batubara terbesar di dunia. Namun, cadangan minyak bumi hanya sekitar 2,4 miliar barel dan menunjukkan tren penurunan dalam beberapa dekade terakhir akibat eksploitasi yang lebih cepat dibandingkan penemuan cadangan baru.
Produksi energi nasional juga mencerminkan kondisi tersebut. Batubara menjadi komoditas utama dengan produksi mencapai lebih dari 700 juta ton per tahun. Sebagian besar produksi ini diekspor, sehingga batubara menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar bagi negara. Di sisi lain, produksi minyak bumi relatif rendah, yaitu sekitar 600-900 ribu barel per hari (bph), sehingga Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan domestik yang berada pada kisaran 1,4–1,6 juta bph.
Gas alam menempati posisi strategis sebagai energi transisi dengan cadangan sekitar 41 Trillion Cubic Feet (TCF), dan produksinya relatif stabil. Gas memiliki potensi besar untuk menggantikan peran minyak dan sebagian batubara dalam sistem energi nasional karena emisi yang lebih rendah. Oleh karena itu, dalam kebijakan energi nasional, gas sering diposisikan sebagai jembatan menuju sistem energi yang lebih bersih.
Secara keseluruhan, struktur cadangan dan produksi energi Indonesia menunjukkan ketimpangan antara sumber daya yang melimpah (batubara) dan sumber daya yang semakin terbatas (minyak bumi). Kondisi ini menjadi dasar penting bagi strategi hilirisasi energi, termasuk konversi batubara menjadi bahan bakar cair dan gas, serta percepatan pengembangan energi terbarukan untuk menjaga ketahanan energi jangka panjang.
Struktur Perdagangan Energi Indonesia
Struktur perdagangan energi Indonesia mencerminkan dualisme kompleks antara komoditas berorientasi ekspor dan komoditas yang bergantung pada impor. Analisis dinamika perdagangan minyak bumi mentah (Crude Oil), Bahan Bakar Minyak (BBM) berupa bensin, solar/diesel dan minyak tanah, Bahan Bakar Gas (BBG) biasanya berupa Trillion Cubic Feet, Liquid Petroleum Gas (LPG) dan Liquid Natural Gas (LNG), serta batubara selama periode 2015–2024 menggunakan data resmi dari lembaga nasional dan internasional.
Gambar 1: Pangsa Impor rata-rata LPG Indonesia dari tahun 2020-2024 berdasarkan data disintesis dari Basis Data Comtrade Perserikatan Bangsa-Bangsa (melalui World Bank WITS, 2023–2024), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia (ESDM), dan laporan industri (Reuters, 2024–2026).
Berdasarkan data dari Statistics on People’s Welfare yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2024, sekitar 90 persen rumah tangga Indonesia telah menggunakan LPG sebagai sumber energi untuk memasak makanan/minuman di dapur. Dari sisi lingkungan, penggunaan LPG yang merupakan energi transisi yang lebih ramah lingkungan daripada penggunaan minyak tanah tentunya sangat mengembirakan. Selain itu, pemanfaatan LPG bisa mengatasi kelangkaan dan mahalnya minyak tanah yang bersumber dari penyulingan minyak bumi.
Namun, di lain sisi, bahwa kita sebagai bangsa yang besar dengan penduduk yang besar serta dengan sumber daya alam yang melimpah, masih sangat tergantung dari impor, di mana saat ini kebutuhan LPG dipenuhi melalui impor, yakni sekitar 6,9 juta ton per tahun. Sedangkan produksi domestik kurang dari 25 persen dari permintaan.
Dari Gambar 1, terlihat pangsa impor LPG didominasi oleh Amerika Serikat. Disusul impor dari negara-negara Kawasan Teluk Persia, yakni Arab Saudi 12 persen, Uni Emirat Arab (UEA) 8 persen, dan Qatar 7 persen. Selanjutnya Australia, Malaysia, dan negara-negara lain. Total impor dari negara-negara Teluk Persia adalah 27. Presentase yang cukup signifikan, sehingga bisa memengaruhi ketersediaan LPG di Tanah Air. Apalagi di saat seperti ini, dengan terjadinya perang antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat, Selat Hormuz diblokade oleh Iran yang mengakibatkan terganggunya jalur pengiriman LPG, kemudian diperparah rusaknya Kilang LPG di Qatar oleh rudal Iran.
Sedikit beruntungnya, 60 persen impor LPG berasal dari Amerika Serikat yang jalur pengirimannya tidak melalui Selat Hormuz. Namun, karena produsen LPG dan LNG (liquid natural gas) terbesar berada di Kawasan Teluk Persia, tentunya akan berpengaruh terhadap harga LPG. Keterbatasan suplai gas baik LNG maupun LPG akan meningkatkan harga gas, termasuk LPG.
Tabel 1: Nilai Ekspor dan Impor Indonesia untuk Minyak Bumi Mentah, Bahan Bakar Minyak (BBM), dan Gas Alam dalam satuan juta Dolar Amerika Serikat.

Sistem Ketenagalistrikan di Indonesia
Sistem ketenagalistrikan di Indonesia didominasi oleh pembangkit berbasis energi fosil, dengan kontribusi terbesar berasal dari batubara. Berdasarkan data resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan PT PLN (Persero), bauran energi listrik nasional menunjukkan bahwa lebih dari setengah produksi listrik Indonesia masih bergantung pada batubara, diikuti oleh gas alam, energi terbarukan, dan minyak bumi.
Batubara menjadi tulang punggung sistem kelistrikan nasional karena ketersediaannya melimpah dan biaya produksi relatif rendah. Pada beberapa tahun terakhir, kontribusi batubara dalam pembangkitan listrik nasional berkisar antara 60–65 persen dari total kapasitas terpasang. Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batubara banyak digunakan karena mampu menghasilkan listrik dalam skala besar dan stabil, meskipun memiliki dampak lingkungan signifikan, terutama terkait emisi karbon dan polusi udara.
Secara keseluruhan, struktur sumber energi listrik di Indonesia saat ini masih didominasi oleh energi fosil, terutama batubara. Hal ini sejalan dengan Indonesia sebagai salah satu produsen batubara terbesar dunia yang memiliki keunggulan komparatif dalam memanfaatkan sumber daya domestik ini.
Oleh karena itu, ekspansi PLTU menjadi bagian utama dari program percepatan pembangunan listrik nasional. Namun, terdapat tren peningkatan pemanfaatan energi terbarukan sebagai bagian dari transisi energi menuju sistem yang lebih berkelanjutan dan rendah karbon.
Selain batubara, gas alam merupakan sumber energi penting kedua dalam pembangkitan listrik di Indonesia. Kontribusi gas alam berada pada kisaran 15–20 persen, dengan pemanfaatan utama pada Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU). Gas alam dianggap lebih bersih dibandingkan batubara, sehingga sering digunakan sebagai energi transisi menuju sistem energi yang lebih ramah lingkungan, dan populer dengan istilah “Blue Energy” atau “Transition Energy”, yang mengandung makna sebagai energi transisi/sementara untuk menuju pada pemakaian energi yang 100 persen ramah lingkungan (energi baru dan terbarukan).
Energi terbarukan juga mulai menunjukkan peningkatan kontribusi dalam bauran listrik nasional, meskipun porsinya masih relatif kecil. Merujuk laporan International Energy Agency dan International Renewable Energy Agency, kontribusi energi terbarukan di Indonesia berkisar sekitar 12–15 persen, yang terdiri dari tenaga air (PLTA), panas bumi (geothermal), bioenergi, serta tenaga surya dan angin.
Indonesia memiliki potensi besar dalam energi panas bumi karena berada di wilayah cincin api (ring of fire). Bahkan, Indonesia merupakan salah satu negara dengan cadangan panas bumi terbesar di dunia.
Selain itu, potensi tenaga air juga cukup signifikan, terutama di wilayah Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Namun, pemanfaatan energi terbarukan masih menghadapi berbagai tantangan seperti investasi awal yang tinggi, keterbatasan infrastruktur, serta kendala regulasi.
Pelajaran dari Efek Perang Iran
Perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran telah menimbulkan krisis energi di hampir seluruh negara di dunia, terutama negara-negara miskin sumber daya energi seperti minyak bumi dan gas alam. Blokade Selat Hormuz telah mengakibatkan tersendatnya atau hampir tidak bergeraknya aliran minyak bumi dan gas alam dari negara-negara teluk seperti Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Irak, dan tentu saja dari Iran.
Banyak negara terpaksa menaikkan harga BBM dan gas, atau terpaksa melakukan efisiensi besar-besaran untuk menghemat BBM dan Gas. Indonesia harus belajar dari kondisi ini, karena kita sudah menjadi negara net importir minyak bumi mentah, dan sumber utama impor minyak bumi kita berasal dari negara-negara Teluk Persia atau dari Timur Tengah. Di sisi lain, Indonesia adalah penghasil serta eksportir batubara yang besar di dunia, penghasil dan eksportir LNG yang cukup besar juga.

Tabel 2: Kondisi Perdagangan Komoditi Energi Indonesia.
Selain batubara, kita punya cadangan minyak biomassa berlimpah untuk menjadi bahan bakar pembangkit listrik. Di antaranya cangkang sawit, tandan kosong kelapa sawit, serat/serabut sawit, tanaman hutan industri, dan sumber-sumber biomassa lain yang melimpah. Itu karena Indonesia berada di daerah tropis yang lahannya subur dan mendapat sinar matahari yang cukup untuk tumbuhnya tanaman apa saja sebagai sumber biomassa. Selain itu, setiap hari orang membuang sampah berupa biomassa dan plastik yang bisa menjadi sumber bahan bakar pembangkit listrik.
Isu emisi dari pembakaran batubara dan biomassa tentunya perlu diantisipasi secara cermat. Namun, sepertinya lebih baik melepas emisi yang terkontrol daripada gelap gulita seperti Kuba.
Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, negara-negara di Eropa, Jepang, China, tetap menggunakan batubara sebagai sumber energi listrik. Lalu mengapa kita harus dipaksa menggunakan sumber lain yang ramah lingkungan, sedangkan mereka sendiri masih menggunakan batubara dan gas alam? Sementara sumber energi yang lebih ramah lingkungan seperti energi sinar matahari, energi angin, dan lainnya masih belum bisa menjadi andalan utama.
Melihat data-data yang ada, dalam konteks ekonomi dan lingkungan, yang menjadi pertanyaan penulis adalah mengapa Indonesia tidak memanfaatkan gas alam (LNG) sebagai sumber energi di Tanah Air, sepadan dengan pemanfaatan batubara untuk pembangkit listrik, dan bisa menjadi pengganti energi LPG (75 persen masih impor) untuk memasak di dapur-dapur rumah tangga Indonesia? Apakah memungkinkan ekspor LNG dikurangi dengan tujuan meningkatkan pemanfaatannya untuk pemenuhan kebutuhan energi di Tanah Air?
Sepertinya saat ini, terutama di perkotaan, hampir dikatakan sangat sulit jika dapur-dapur rumah tangga diubah kembali menggunakan kayu bakar. Sebab, rumah-rumah dan lingkungannya sudah tidak didesain menggunakan dapur dengan energi kayu bakar.
Bukankah negara-negara maju, khususnya negara-negara Eropa, terutama sebelum terjadinya perang Rusia dengan Ukraina, menggalakkan penggunaan LNG sebagai sumber energi yang lebih ramah lingkungan, atau mereka sebut “Blue Energy” atau “Transition Energy”.?
Namun, setelah terjadinya perang Rusia dengan Ukraina, negara-negara Eropa mulai krisis energi, karena sebagian besar sumber LNG-nya diimpor dari Rusia. Sedangkan Rusia diberi sanksi ekonomi, dan karena tekanan Amerika Serikat mereka diminta untuk membeli LNG/LPG dari Amerika Serikat yang harganya lebih mahal.
Ini salah satu alasan negara-negara Eropa tidak mau terlibat dalam perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran. Sebab, apabila perang semakin bergejolak di Timur Tengah, maka bisa semakin mengacaukan ketahanan energi mereka. Sebagian besar impor minyak bumi dan LNG/LPG mereka bersumber dari negara-negara Timur Tengah.
Penulis tidak terlalu khawatir dengan kecukupan sumber energi listrik karena Indonesia telah lebih siap secara infrastrukur maupun sumber bahan baku energinya. Namun, penulis sangat khawatir dengan sumber energi di dapur-dapur rumah tangga Indonesia yang saat ini sangat tergantung dengan LPG, sedangkan LPG masih sangat tergantung dengan impor. Apalagi, 60 persen impor LPG bersumber dari Amerika Serikat.
Kita tentu tahu bagaimana Amerika Serikat saat ini bersikap terhadap negara-negara lain. Tidak hanya terhadap negara-negara kecil dan yang menjadi musuhnya, tetapi juga ke negara-negara besar yang menjadi koalisinya atau teman akrabnya selama ini, seperti negara-negara Eropa Barat yang sekaligus sesama anggota NATO.
Berbeda dengan pembangkit listrik yang sumber energinya bisa menggunakan batubara, bahkan berbagai sumber energi lainnya, demikian juga dapur-dapur rumah tangga masih memungkinkan diubah menggunakan energi listrik atau bahan bakar lain seperti briket. Atau, walaupun kondisi sudah tidak mendukung, para ibu rumah tangga dengan sangat terpaksa masih bisa menggunakan kayu bakar.
Energi untuk transportasi saat ini mayoritas masih menggandalkan BBM, seperti bensin, solar/diesel, sebagai sumber energi kendaraan kita. Untuk sementara ini, kendaraan yang menggunakan gas sebagai energi sangat sedikit, dan tidak ada lagi kendaraan yang menggunakan secara langsung batubara sebagai sumber energi seperti kendaraan pada abad 18.
Sehingga, ketergantungan kita dengan BBM sebagai sumber energi kendaraan sangat tinggi, dan akibatnya, ketergantungan kita terhadap minyak bumi dari negara-negara Timur Tengah sangat tinggi. Adanya kekacauan atau gangguan produksi atau pengiriman minyak bumi dari Timur Tengah mau tidak mau akan sangat berpengaruh terhadap ketersediaan BBM di Indonesia.
Rekomendasi dan Harapan
Dengan memperhatikan cadangan sumber daya energi yang tersedia cukup banyak di Tanah Air, penulis mengusulkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan LNG untuk kebutuhan energi di Tanah Air, meningkatkan pemanfaatan batubara sebagai sumber energi secara langsung, ataupun hilirisasi batubara untuk memproduksi BBM dan bahan bakar gas (BBG), maksimalisasi pemanfaatan minyak sawit (Crude Palm Oil) dan biomassa dari sawit menjadi sumber BBM dan BBG, beralih dari kendaraan berbasis mesin bakar ke kendaraan berbasis mesin listrik (kendaraan listrik).
Optimalisasi batubara menjadi BBM dan BBG merupakan salah satu strategi hilirisasi energi yang penting bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral domestik, mengurangi ketergantungan impor energi, dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Dalam konteks teknologi, pemanfaatan batubara ke arah produk bahan bakar cair dilakukan melalui likuifaksi batubara atau pencairan batubara, sedangkan konversi menuju bahan bakar gas dilakukan melalui gasifikasi batubara.
Dokumen strategis Kementerian ESDM telah lama menempatkan pencairan dan gasifikasi batubara sebagai bagian dari arah pengembangan energi nasional. Dari sudut pandang kebijakan energi, optimalisasi batubara menjadi BBM dan BBG memiliki beberapa manfaat strategis.
Pertama, hilirisasi ini dapat meningkatkan nilai tambah batubara dibanding hanya mengekspornya sebagai bahan mentah. Kedua, proses tersebut dapat mengurangi impor energi, terutama impor LPG, yang selama ini membebani neraca perdagangan energi Indonesia.
Secara teknis, likuifaksi batubara adalah proses pengubahan batubara menjadi bahan bakar cair sintetis yang dapat diarahkan menjadi fraksi menyerupai bensin, diesel, atau produk cair lain setelah melalui pemrosesan lanjutan. Teknologi ini relevan bagi Indonesia, karena cadangan batubara domestik jauh lebih besar dibanding cadangan minyak bumi, sehingga konversi batubara menjadi BBM sintetis dapat dipandang sebagai salah satu opsi diversifikasi pasokan energi.
Sementara itu, gasifikasi batubara mengubah batubara menjadi gas sintesis yang terutama terdiri dari karbon monoksida dan hidrogen, yang kemudian dapat dimanfaatkan lebih lanjut untuk menghasilkan produk seperti dimethyl ether (DME), gas sintetis, metanol, atau bahan baku industri kimia. Dalam praktik kebijakan Indonesia, perhatian terbesar saat ini memang lebih banyak diberikan pada gasifikasi batubara untuk menghasilkan DME sebagai substitusi LPG.
Indonesia memiliki lahan sawit yang luas dan produksi yang stabil, sehingga pasokan bioenergi relatif bisa terjamin. Pemanfaatan CPO sebagai bahan baku biodiesel telah menjadi program strategis nasional melalui kebijakan mandatori biodiesel (B30 hingga B35).
Biodiesel berbasis CPO berfungsi sebagai substitusi solar dalam sektor transportasi dan industri. Pemanfaatan CPO melalui biodiesel telah terbukti mampu mengurangi impor BBM dan meningkatkan kemandirian energi. Di sisi lain, biomassa sawit menawarkan peluang besar dalam penyediaan energi listrik dan bahan bakar berbasis bioenergi. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, pengembangan energi berbasis sawit tetap menjadi strategi yang relevan dalam mendukung transisi energi menuju sistem yang lebih berkelanjutan dan rendah karbon.
Tabel 3: Potensi Biomassa Sawit sebagai Sumber Energi.

Selain CPO, biomassa sawit merupakan sumber energi yang sangat potensial. Biomassa ini berasal dari berbagai residu industri kelapa sawit (Tabel 3).
CPO dan biomassa kelapa sawit memiliki potensi besar sebagai sumber energi alternatif yang dapat mendukung ketahanan energi Indonesia. Anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa, Indonesia berada di daerah tropis dan berlahan yang subur serta dialiri air yang cukup menjadikan Indonesia mempunyai sumber biomassa yang melimpah, tidak hanya dari kelapa sawit tetapi juga dari tanaman-tanaman lain seperti tanaman jarak, singkong, jagung dan tanaman-tanaman hutan industri yang bisa diolah menjadi sumber energi baru dan terbarukan.
Beralihnya kendaraan yang bersumber dari mesin bakar yang menggunakan sumber energi BBM ke mesin Listrik yang menggunakan energi Listrik yang dihasilkan dari pembangkit Listrik yang menggunakan energi mayoritas dari Batubara. Sehingga memang secara tidak langsung kendaraan Listrik masih belum bisa disebut kendaraan hijau (green car) yang menggunakan energi listriknya yang bersumber dari pembangkit Listrik dari energi baru dan terbarukan seperti energi angin, energi air, energi matahari atau dari bioenergy. Namun demi keberlanjutan aktivitas ekonomi, pergerakan Masyarakat harus tetap bisa berjalan normal dan tentu saja untuk meningkatkan ketahanan energi, mengurangi ketergantungan dari energi yang berasal dari impor maka secara perlahan perubahan dari kendaraan bermesin bakar ke kendaraan bermesin Listrik (mobil, bus atau motor Listrik) adalah suatu yang masuk akal dan bisa dikatakan patriotik. Masalahnya memang kendaraan Listrik dan baterainya masih mayoritas masih impor. Memang ini seperti buah simalakama, namun untuk saat ini alternatif lain belum tersedia. Tentunya mulai sekarang, pemerintah, universitas, pemilik modal dan industri otomotif di Indonesia harus mulai mengembangkan kendaraan Listrik buatan sendiri atau made in Indonesia.
Semoga dengan segala anugerah yang ada, Indonesia bisa semakin kuat dan berjaya dengan ketahanan energi yang semakin kuat dan mandiri.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”












