Mengapa Iran membuat Amerika kocar-kacir di Selat Hormuz dengan taktik drone Rusia

Perubahan Peta Kekuatan Militer di Timur Tengah

Peta kekuatan militer di kawasan Timur Tengah kembali mengalami perubahan signifikan. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat tajam sejak serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap beberapa target di Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan dan korban jiwa, yang kemudian dibalas oleh Iran dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.

Di tengah ketegangan global yang belum mereda, Iran disebut sedang menerapkan strategi baru yang membuat Amerika Serikat harus berpikir ulang. Bukan hanya berbasis kekuatan konvensional, Iran kini memadukan taktik perang drone yang disebut terinspirasi dari pengalaman Rusia dalam perang. Strategi ini dinilai mampu mengubah cara perang modern berlangsung, khususnya di kawasan sensitif seperti Selat Hormuz.

Selat sempit yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia kini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga potensi konflik berteknologi tinggi. Gelombang serangan drone yang cepat, murah, dan sulit diprediksi disebut sebagai tantangan baru. Sistem pertahanan konvensional yang selama ini diandalkan AS mulai dianggap tidak cukup efektif menghadapi ancaman jenis ini. Drone tanpa awak mampu menembus radar dan menyerang target dengan presisi tinggi.

Kondisi ini perlahan mengikis asumsi lama tentang dominasi militer Barat yang selama ini dianggap unggul dalam teknologi dan kekuatan tempur. Iran dinilai cermat membaca situasi. Dengan memanfaatkan celah dari konflik di Ukraina, Teheran disebut mulai menyerap pelajaran penting tentang bagaimana perang bisa dimenangkan bukan hanya dengan kekuatan besar, tetapi juga dengan efisiensi dan strategi.

Situasi ini memunculkan kekhawatiran baru di Washington. AS disebut belum sepenuhnya siap menghadapi pola perang semacam ini, terutama jika konflik benar-benar meluas di kawasan Teluk. Jika skenario terburuk terjadi, pasukan AS berpotensi masuk ke lingkungan tempur yang sangat berbeda dari pengalaman sebelumnya di Timur Tengah lebih cepat, lebih tak terduga, dan jauh lebih sulit dikendalikan.

Taktik Drone ala Rusia

Rekaman video yang dirilis oleh milisi Irak yang didukung Iran menunjukkan penggunaan drone yang menyerupai taktik dalam perang Ukraina. Drone jenis first-person-view (FPV) yang dikendalikan melalui kabel serat optik terlihat menyerang target Amerika di Baghdad, termasuk helikopter Black Hawk dan sistem radar pertahanan udara. Teknologi ini menjadi perhatian karena tidak dapat dilumpuhkan dengan gangguan sinyal elektronik.

Rusia disebut sebagai pihak yang memelopori penggunaan drone dengan kabel serat optik ini, yang terbukti efektif dalam konflik di Ukraina. Selain itu, Moskow juga meningkatkan kemampuan drone jarak jauh Shahed yang awalnya dirancang oleh Iran, menandakan adanya kerja sama erat antara kedua negara.

“Anda memiliki aliansi antara Rusia dan Iran, dan sebagai sekutu mereka secara aktif bekerja sama, bertukar keahlian, intelijen, dan teknologi,” kata Andriy Zagorodnyuk, mantan menteri pertahanan Ukraina.

Ancaman Baru bagi Pasukan AS

Jika Amerika Serikat mengerahkan pasukan darat atau kapal perang ke kawasan Teluk, ancaman drone diperkirakan akan menjadi faktor dominan. Berbeda dengan perang sebelumnya di Irak dan Afghanistan yang didominasi senjata ringan dan bom rakitan, kini drone FPV berpotensi menjadi ancaman utama di garis depan.

“Setiap pasukan AS di darat atau kapal perang di Teluk akan menjadi target jarak dekat, dan penggunaan drone FPV akan menjadi bagian dari kemampuan kedua belah pihak,” ujar Martin Sampson, pensiunan marsekal udara Angkatan Udara Kerajaan Inggris.

Ia juga menyoroti bahwa kendaraan dan kapal pendarat AS belum dilengkapi sistem anti-drone yang memadai. “Iran pasti telah mengantisipasi kelemahan ini dan memahami dari Rusia apa artinya serta bagaimana memanfaatkannya,” tambahnya.

Risiko di Selat Hormuz

Selain di darat, ancaman juga muncul di laut, terutama di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia. Iran disebut memiliki drone laut, meski belum secanggih milik Ukraina yang menggunakan navigasi berbasis satelit seperti Starlink. Namun, di perairan sempit seperti Selat Hormuz, drone tersebut tetap dapat menjadi senjata efektif terhadap kapal perang maupun tanker minyak.

Dalam perang Rusia-Ukraina, penggunaan drone laut telah terbukti mampu melumpuhkan armada Laut Hitam Rusia secara signifikan.

AS Dinilai Masih Tertinggal

Meski AS mulai bereksperimen dengan penggunaan drone FPV, para analis menilai langkah tersebut masih dalam tahap awal. Michael Kofman dari Carnegie Endowment for International Peace mengatakan bahwa militer AS masih berupaya memahami dampak teknologi ini terhadap taktik dan prosedur perang.

“Kita masih berada pada tahap awal secara luas dalam upaya unit militer AS memahami teknologi FPV, bagaimana dampaknya terhadap kekuatan, serta implikasinya terhadap taktik, teknik, dan prosedur saat ini,” ujarnya.

“Jika melihat kemampuan pertahanan yang tersedia, kita masih memiliki jalan panjang untuk menyamai posisi Ukraina saat ini.”

Sementara itu, mantan menteri luar negeri Ukraina Pavlo Klimkin menyebut tantangan ini belum sepenuhnya dipahami oleh militer Barat. “Tidak ada angkatan bersenjata yang siap menghadapi tantangan ini, tidak Amerika dan tidak Eropa. Tidak secara teknis, mental, maupun pengalaman,” katanya.

Perubahan lanskap perang ini juga memunculkan kritik terhadap sikap sebagian pejabat Barat yang dinilai meremehkan revolusi drone. Fabrice Pothier, mantan direktur perencanaan kebijakan NATO, menyebut masih ada “tembok arogansi” di kalangan militer Barat.


Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *