Cina Kembangkan AI Sembunyikan Kapal Perang di Laut



Cina sedang mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mampu menyamarkan pergerakan militer dengan meniru lalu lintas kapal sipil di laut. Teknologi ini dikembangkan oleh perusahaan teknologi yang berafiliasi dengan militer, yaitu Convention and Technology Corporation of China atau CETC.

Perusahaan teknologi elektronik milik negara ini menjadi tulang punggung inovasi teknologi informasi bagi Tentara Pembebasan Rakyat China atau People’s Liberation Army (PLA). Dalam eksperimen yang dilakukan para peneliti Cina, sistem berbasis AI ini mampu menciptakan sinyal palsu yang meniru pola pergerakan kapal tanker minyak maupun kapal kargo. Sinyal ini kemudian dipancarkan melalui sistem komunikasi tertentu sehingga terlihat seperti aktivitas pelayaran normal di radar dan sistem pelacakan.

Teknik ini berpotensi membingungkan analis intelijen lawan karena pergerakan militer dapat tersembunyi di antara lalu lintas kapal sipil yang tampak biasa. Dengan demikian, kapal perang atau platform militer bisa bergerak tanpa menimbulkan kecurigaan karena data yang terbaca justru menyerupai kapal komersial.

Sistem ini bekerja dengan dukungan jaringan navigasi satelit Cina yakni BeiDou Navigation Satellite System. Jaringan ini memungkinkan koordinasi sinyal serta sinkronisasi pergerakan berbagai platform militer.

Bisa Prediksi Serangan Rudal dari Banyak Arah

Selain menyamarkan pergerakan, CETC juga mengembangkan perangkat lunak yang mampu mengoordinasikan serangan simultan dari ratusan platform berbeda, termasuk unit darat, kapal perang, hingga kapal selam. Dengan dukungan AI dan integrasi data pengawasan, sistem ini dapat menyinkronkan serangan rudal dari berbagai arah dalam waktu hampir bersamaan. Pendekatan ini dirancang untuk menembus sistem pertahanan lawan, misalnya kelompok tempur kapal induk.

Dalam skenario tersebut, beberapa platform militer dapat meluncurkan rudal dari jarak jauh. Beberapa jenis rudal yang berpotensi memanfaatkan sistem ini antara lain DF-21D dan DF-26 yang dikenal sebagai bagian dari strategi anti-akses Cina terhadap armada lawan.

Simulasi Perang Pakai AI

Cina juga mengembangkan teknologi lain yang disebut konsep digital twin atau kembaran digital. Dalam sistem ini, simulasi pergerakan kapal, kondisi laut hingga faktor lingkungan direplikasi secara virtual. Model digital tersebut memungkinkan komandan militer menguji berbagai skenario serangan secara real-time dengan memanfaatkan data dari satelit, drone, radar darat, dan sensor laut. Data ini kemudian diintegrasikan ke dalam sistem komando terpadu yang didukung AI.

Dengan cara ini, militer dapat mengurangi ketidakpastian dalam pertempuran atau yang sering disebut sebagai kabut perang. Pendekatan yang dikembangkan Cina tidak hanya mengandalkan kekuatan serangan, tetapi juga strategi penipuan dan saturasi informasi. Strategi tersebut juga menjadi bagian dari konsep fusi militer sipil, yaitu kebijakan Cina yang menggabungkan inovasi teknologi komersial dengan kebutuhan militer.

Eksperimen Teknologi untuk Meningkatkan Kesiapan Strategis

Eksperimen teknologi yang dilakukan Cina ini dinilai merupakan bagian dari upaya jangka panjang. Khususnya untuk meningkatkan kesiapan strategis dalam menghadapi potensi konflik besar. Simulasi dan pengujian taktik ini bahkan memanfaatkan model konflik di kawasan yang sedang tegang seperti Teluk Timur Tengah sebagai laboratorium strategis untuk mempersiapkan skenario konfrontasi yang lebih besar di kawasan Samudra Pasifik.

Dukungan Teknologi untuk Iran

Di luar pengembangan teknologi militer Cina, CETC disebut memainkan peran penting dalam memperkuat kemampuan militer Iran di tengah ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel. Perusahaan tersebut dilaporkan memasok berbagai komponen elektronik canggih seperti chip dan prosesor yang dapat meningkatkan akurasi sistem rudal balistik Iran. Komponen tersebut membantu sistem navigasi dan kendali rudal menjadi lebih presisi serta lebih sulit dicegat oleh sistem pertahanan udara lawan.

Selain itu, CETC Cina disebut membantu Iran beralih dari ketergantungan pada sistem navigasi berbasis GPS milik Amerika Serikat ke sistem satelit BeiDou generasi terbaru, yaitu BeiDou-3. Sistem ini menyediakan sinyal navigasi militer yang terenkripsi dan lebih tahan terhadap gangguan elektronik, sehingga dapat memastikan sistem komando dan kendali tetap berjalan bahkan ketika jaringan komunikasi lokal terganggu.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *