JAKARTA — Aset dari bank-bank kecil atau yang termasuk dalam Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) 1 dan 2 mengalami penurunan secara tahunan (year on year/YoY) pada kuartal IV/2025. Para ahli dan pengamat perbankan menyampaikan berbagai faktor yang diduga menjadi penyebabnya.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total aset perbankan mencapai Rp13.646,41 triliun pada kuartal IV/2025, meningkat sebesar 9,51% YoY dibandingkan dengan kuartal IV/2024 yang sebesar Rp12.460,95 triliun.
Hingga kuartal IV/2025, total aset KBMI 1 mengalami penurunan sebesar 9,55% YoY menjadi Rp1.309,08 triliun, dibandingkan dengan kuartal IV/2024 yang mencapai Rp1.447,34 triliun. Penurunan juga terjadi pada KBMI 2, yang menyusut sebesar 4,41% YoY, dari Rp1.674,82 triliun pada kuartal IV/2024 menjadi Rp1.600,99 triliun pada kuartal IV/2025.
Sebaliknya, aset KBMI 3 dan KBMI 4 mencatatkan pertumbuhan pada kuartal IV/2025. Otoritas menjelaskan bahwa total aset KBMI 3 mencapai Rp3.725,44 triliun, meningkat 19,52% YoY dari kuartal IV/2024 sebesar Rp3.117,10 triliun. Sementara itu, aset KBMI 4 juga tercatat tumbuh 12,69% YoY dari kuartal IV/2024 sebesar Rp6.221,68 triliun menjadi Rp7.010,90 triliun pada kuartal IV/2025.
Menanggapi penyusutan aset pada bank-bank kecil tersebut, Anton Hermawan, Presiden Direktur PT Krom Bank Indonesia Tbk. (BBSI), menyampaikan bahwa ada beberapa faktor yang memengaruhi penurunan aset KBMI 1 dan 2. Di antaranya adalah ketidakpastian ekonomi, inflasi global, serta kebijakan suku bunga tinggi, seperti yang dikeluarkan oleh The Fed. Hal ini dapat meningkatkan biaya dana (cost of fund) bagi bank KBMI 1 dan 2.
“Tentunya hal ini dapat membatasi kemampuan ekspansi kredit yang merupakan komponen utama pertumbuhan aset bank,” kata Anton kepada Bisnis, Kamis (5/3/2026).
Meski begitu, Anton menyatakan bahwa aset Krom Bank mengalami pertumbuhan yang signifikan dan berkelanjutan. Hingga Desember 2025, Krom Bank mencatatkan aset sebesar Rp12,23 triliun (unaudited) atau tumbuh 84% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp6,65 triliun.
“Pertumbuhan ini didorong oleh ekspansi kredit yang agresif sebesar 103% YoY menjadi Rp8,63 triliun dan lonjakan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 166% YoY, didukung oleh berbagai inovasi produk digital,” ujarnya.
Pihaknya optimistis dapat menutup 2026 dengan pertumbuhan aset yang baik dan berkelanjutan. Salah satu strategi yang dilakukan perseroan yakni dengan fokus pada penyaluran kredit secara prudent ke sektor UMKM dan konsumsi produktif, peningkatan DPK, serta menargetkan pertumbuhan dana murah (CASA) dua digit melalui inovasi layanan digital.
Sementara itu, Eri Budiono, Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB), melihat penurunan aset pada kedua kelompok bank ini sebagai bagian dari dinamika siklus industri perbankan yang sangat dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi, risk appetite, kondisi likuiditas, dan strategi pertumbuhan masing-masing bank.
“Kami memandang langkah ini sebagai pendekatan prudent yang wajar, dengan prioritas pada keberlanjutan dan manajemen risiko yang terukur di tengah kondisi makroekonomi yang masih sulit,” jelas Eri kepada Bisnis, Kamis (5/3/2026).
Memasuki 2026, Bank Neo Commerce melihat keadaan geopolitik dunia semakin tidak menentu, terutama dengan menyeruaknya perang antara AS, Israel, dan Iran yang dapat menghambat pasokan minyak dan mendorong inflasi di tengah daya beli yang melemah. Karena itu, Eri menegaskan bahwa pihaknya akan berhati-hati menyikapi kondisi terkini dan terus fokus untuk menjaga kualitas dari portofolio kredit Bank Neo Commerce.
Penyesuaian Strategi
Di sisi lain, Josua Pardede, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI), menyebut bahwa pada dasarnya, kondisi tersebut tidak otomatis berisiko pada stabilitas KBMI 1 dan 2. Sebab, penyusutan aset bisa bersifat defensif dan justru mengurangi risiko bila disertai perbaikan kualitas aset, penguatan modal, dan likuiditas.
“Namun risikonya meningkat bila penyusutan terjadi karena tekanan pendanaan yang mendadak, konsentrasi deposan besar, atau penurunan kualitas kredit,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (5/3/2026).
Sebagai konteks, Josua menuturkan bahwa indikator industri perbankan secara agregat masih menunjukkan likuiditas, kualitas aset, dan permodalan yang kuat seperti rasio alat likuid yang memadai, rasio kecukupan modal yang tinggi, dan rasio kredit bermasalah yang terjaga.
“Sehingga penurunan aset KBMI 1 dan 2 lebih dibaca sebagai redistribusi dan penyesuaian strategi pada sebagian bank, bukan sinyal guncangan sistemik,” pungkasnya.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”












