AS Rahasiakan Penggunaan Senjata Laser Canggih untuk Hancurkan Rudal dan Drone di Iran

Teknologi Tingkat Tinggi dalam Perang di Iran

Militer Amerika Serikat (AS) ternyata mengerahkan senjata laser mutakhir dalam perang di Iran untuk menangkis serangan rudal dan drone Teheran. Penggunaan teknologi ini menandai babak baru dalam pertempuran modern yang melibatkan kekuatan luar angkasa dan serangan siber terintegrasi.

Kapal perusak Angkatan Laut AS yang beroperasi di kawasan pesisir Timur Tengah dilengkapi dengan sistem senjata laser bernama High-Energy Laser with Integrated Optical Dazzler and Surveillance (HELIOS). Teknologi ini mampu memusatkan sinar energi yang sangat fokus untuk menghancurkan drone di udara. Selain sistem HELIOS milik AS, militer Israel juga dilaporkan menggunakan senjata laser serupa yang dikenal sebagai Iron Beam. Senjata ini disebut efektif melumpuhkan roket hanya dalam hitungan detik setelah diluncurkan di perbatasan Israel-Lebanon.

Meski pihak militer belum memberikan konfirmasi resmi, data menunjukkan efektivitas senjata laser dalam pertempuran. Dalam 72 jam pertama pertempuran, pasukan AS berhasil menghantam 1.700 target dan menghancurkan lebih dari 200 peluncur rudal balistik Iran. Jumlah tersebut sekitar setengah dari total kekuatan peluncur yang dimiliki negara tersebut.

Keberhasilan tersebut juga tidak lepas dari peran Angkatan Luar Angkasa AS (Space Force). Dengan menggunakan satelit berpemandu inframerah, AS dapat mendeteksi panas dari peluncuran rudal secara real-time. Brent David Ziarnick, mantan profesor program Space Force di Johns Hopkins University, menjelaskan cara kerja sistem ini.

“Mereka bisa melihat rudal dan menentukan titik lokasi peluncurannya. Rudal tersebut kemudian dapat dicegat dan dihancurkan. Pasukan di lapangan mendapat notifikasi adanya serangan, sehingga mereka bisa segera menuju bunker perlindungan,” ujar Ziarnick.

Informasi ini diolah di dalam kubah radar raksasa yang disebut Radomes. Sam Eckhome, pembawa acara YouTube “Access Granted,” menyebutkan bahwa jaringan ini adalah salah satu sistem peringatan dini tercanggih di dunia.

“Sistem ini dibangun untuk memastikan, jika sebuah rudal diluncurkan, Amerika Serikat akan menjadi yang pertama mengetahuinya,” kata Eckhome.

Di samping kekuatan fisik, Komando Siber AS atau Cyber Command bekerja sama dengan Angkatan Antariksa AS untuk melumpuhkan sistem radar musuh melalui malware dan perangkat lunak pengacak radar. Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine mengonfirmasi bahwa sebelum tembakan pertama dilepaskan, tim siber telah menyerang jaringan komunikasi Iran.

Strategi ini bertujuan untuk mengganggu, membuat disorientasi, dan membingungkan Iran. Infiltrasi siber ini bahkan mencapai tingkat personal. Intelijen Mossad mengeklaim telah meretas hampir seluruh kamera lalu lintas di Teheran selama bertahun-tahun untuk memantau pergerakan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Efektivitas teknologi ini terbukti dari minimnya kerugian di pihak AS dan Israel. Dalam empat hari perang, AS hanya mencatat enam korban jiwa tanpa harus mengerahkan pasukan darat dalam skala besar. Bree Fram, mantan kolonel Angkatan Antariksa AS, menekankan bahwa peperangan saat ini lebih mengandalkan kecerdasan otak daripada otot.

“Fakta bahwa ini bukan formasi massal pasukan dengan senapan di darat menunjukkan bahwa kekuatan ini dibangun dengan teknologi ekstrem dan kecerdasan untuk mengoperasikannya. Kombinasi itu menjadikan kita kekuatan paling mumpuni di bumi,” tegas Fram.

Hingga saat ini, gempuran AS terus berlanjut dengan fokus melumpuhkan jaringan komunikasi tertutup yang masih digunakan oleh para pemimpin Iran setelah mereka memutus akses internet nasional. Menurut laporan Wall Street Journal, Iran terus meluncurkan ratusan drone ke negara-negara Arab di sekitar Teluk Persia. Serangan tersebut menimbulkan ketakutan di kawasan, mengganggu pasar global, serta memicu gangguan pada jalur pengiriman minyak dan barang yang sangat penting bagi ekonomi dunia.

“Penekanan Iran sekarang adalah ketekunan, bukan kuantitas,” kata Hasan Alhasan, peneliti senior di Institut Internasional untuk Studi Strategis, sekaligus mantan analis kebijakan luar negeri bagi Putra Mahkota Bahrain.

Pada hari-hari awal perang, Iran melancarkan gelombang serangan drone dan rudal ke Israel serta negara-negara Arab. Target serangan meliputi pangkalan militer AS, kedutaan besar, bandara, serta infrastruktur minyak dan gas. Menurut Pentagon, Iran menembakkan lebih dari 500 rudal balistik dan meluncurkan sekitar 2.000 drone, meskipun banyak di antaranya berhasil dicegat. Namun demikian, serangan drone Iran kini juga mengalami penurunan sekitar 83 persen dibandingkan dengan hari-hari awal konflik.

Peneliti pengendalian senjata dari Geneva Graduate Institute, Farzan Sabet, menilai bahwa Iran kini mengandalkan strategi cadangan dengan memanfaatkan drone murah yang diproduksi dalam jumlah besar. “Kemampuan Iran untuk melakukan penghancuran tingkat tinggi akan menurun, tetapi mereka akan tetap dapat menembakkan drone ini, dan akan menciptakan persepsi risiko umum,” kata Sabet.

Iran diketahui memiliki lebih banyak rudal jarak pendek dan drone dibandingkan rudal balistik jarak jauh yang dapat menjangkau Israel.

Penghancuran Bunker Bawah Tanah Milik Ayatollah Ali Khamenei

Di sisi lain, militer Israel (IDF) mengeklaim telah menghancurkan bunker bawah tanah milik Ayatollah Ali Khamenei yang selama ini berfungsi sebagai pusat komando strategis Iran. Operasi penghancuran ini dirilis dalam sebuah video resmi pada Jumat (6/3/2026).

Dalam pernyataan resminya, pihak militer menyebutkan bahwa bunker tersebut tetap menjadi pusat aktivitas pejabat senior rezim Iran, meskipun Khamenei telah tewas di awal konflik. “Khamenei dieliminasi sebelum dia sempat menggunakan bunker tersebut selama operasi ‘Roaring Lion’, tetapi kompleks tersebut terus digunakan oleh para pejabat senior rezim Iran,” tulis militer Israel, sebagaimana dikutip dari AFP.

Operasi udara berskala besar ini dilaporkan melibatkan sedikitnya 50 jet tempur yang menyasar jaringan bawah tanah di jantung kota Teheran. Militer Israel menyebut telah menjatuhkan sekitar 100 bom dalam serangkaian ledakan dahsyat untuk meruntuhkan kompleks yang membentang di bawah tanah.

Bunker tersebut diketahui memiliki banyak titik akses dan ruang pertemuan khusus yang dirancang untuk melindungi para petinggi Iran. Sebelum tewas, Khamenei diyakini menghabiskan sebagian besar malamnya di fasilitas bawah tanah yang sangat dalam ini guna menghindari serangan udara.

Kepala Militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, menyatakan efektivitas serangan tersebut dalam melumpuhkan struktur kepemimpinan Iran. “Hanya dalam 40 detik, sekitar 40 pejabat senior rezim teror Iran telah dilenyapkan, termasuk pemimpin rezim tersebut, Ali Khamenei,” tegas Zamir.

Khamenei tewas di kompleks kepemimpinannya pada Sabtu (28/2/2026), hari pertama serangan gabungan AS-Israel yang memicu perang di Timur Tengah. Pentagon kemudian menyatakan bahwa serangan Israel yang menewaskannya, sementara Trump mengatakan bahwa hal itu sebagian berkat intelijen AS.

“Hanya dalam 40 detik, sekitar 40 pejabat senior rezim teror Iran telah dilenyapkan, termasuk pemimpin rezim tersebut, Ali Khamenei,” kata Kepala Militer Israel Letnan Jenderal Eyal Zamir.


Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *