Gaya bangsawan diangkat, istri gubernur Kaltim beri jawaban tajam: Hidup hanya sekali

Respons Sarifah Suraidah terhadap Kritik Netizen

Sarifah Suraidah, istri dari Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Masud, menjadi perbincangan di media sosial setelah gaya pakaiannya yang dinilai berlebihan oleh netizen. Banyak orang menganggap penampilannya mirip dengan bangsawan atau noni Belanda, terutama saat ia mengenakan longdress lengkap dengan topi putih dan perhiasan yang mencolok.

Meski banyak kritik, Sarifah Suraidah tidak merasa terganggu. Ia memilih untuk tetap menjalani hidup sesuai keinginannya. Dalam unggahan Instagram story-nya, ia menulis: “Hidup cuma sekali, hidup gak bisa diputar lagi. Lakukan apa yang mau dilakukan.” Kalimat ini menjadi jawaban langsung terhadap komentar netizen yang mengkritik gaya busananya.

Selain itu, Sarifah juga memilih untuk memaafkan orang-orang yang mengejeknya. Ia mengunggah cuplikan ceramah yang membahas pentingnya memaafkan. Dalam tulisan tersebut, ia menyebut: “Maafkan semua orang, insya Allah.” Ini menunjukkan bahwa ia lebih memilih menjawab kritik dengan sikap tenang dan penuh toleransi.

Penjelasan dari Tim Ahli

Tidak hanya Sarifah yang memberikan respons, namun juga tim ahli yang mendampingi Gubernur Kaltim. Sudarno, anggota Tim Ahli Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TAGUPP) Bidang Komunikasi Politik dan Komunikasi Publik, memberikan penjelasan terkait isu ini.

Menurut Sudarno, gaya busana Sarifah Suraidah bukanlah hal baru. Ia sudah mengenakan pakaian seperti itu sejak lama, bahkan sebelum suaminya menjadi gubernur. “Itu sudah puluhan tahun seperti itu. Bukan pada saat jadi gubernur ini,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa latar belakang keluarga Sarifah memang sudah mapan sejak dulu. Hal ini membuatnya mampu memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri tanpa bergantung pada jabatan suaminya. “Beliau sudah lama berkecukupan untuk membuat istrinya seperti ratu. Jadi bukan hal yang tiba-tiba karena jabatan,” katanya.

Pandangan tentang Dinasti Politik

Mengenai tudingan dinasti politik, Sudarno menyatakan bahwa dalam sistem demokrasi, setiap warga negara memiliki hak politik yang sama selama tidak melanggar aturan hukum. “Kalau tidak dibolehkan, ya buat aturan yang melarang. Tapi kalau secara demokrasi dibolehkan, itu hak,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa persoalan ini lebih kepada wilayah etik dan keputusan akhir tetap berada di tangan masyarakat sebagai pemilih dalam pemilu langsung. “Kalau masyarakat tidak setuju, jangan dipilih. Tapi kalau dipilih dan menang, berarti itu pilihan rakyat,” ujarnya.

Tanggapan Pemerintah Daerah

Pemerintah daerah menyatakan terbuka terhadap kritik dari masyarakat. Sudarno menyebut masukan publik sebagai bentuk kepedulian terhadap jalannya pemerintahan di Kalimantan Timur. “Kami berterima kasih atas kritik. Itu vitamin bagi pemerintah,” ujarnya.

Dengan respons yang tegas dan tenang, baik dari Sarifah Suraidah maupun dari pihak pemerintah, isu ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai lebih memahami bahwa gaya hidup seseorang adalah pilihan pribadi. Selain itu, kritik publik juga harus disampaikan dengan cara yang konstruktif dan tidak menyerang aspek pribadi.

Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *