Menikah di Zaman Cicilan: Cinta, Gengsi, dan Kekuatan Finansial

Pernikahan dan Kehidupan Bersama di Tengah Tekanan Finansial

Di balik resepsi yang meriah, banyak pasangan memulai pernikahan dengan utang. Antara menghormati keluarga, menjaga gengsi, dan menghitung anggaran, pernikahan kini menjadi negosiasi antara cinta dan realitas finansial.

“Saya pikir, punya rumah dulu baru nikah. Biar lebih tenang.” Di usia 29 tahun, Gian (bukan nama sebenarnya) merasa keputusan itu rasional. Setahun sebelum menikah pada 2024, seluruh tabungannya habis untuk uang muka rumah. “Minimal ada pegangan sebelum mulai hidup bersama,” ujarnya. Rumah yang kini ia cicil lewat KPR itu menjadi fondasi yang menurutnya penting sebelum membangun keluarga.

Namun rencana pernikahan membawa pertimbangan lain. “Keuangan sebenarnya sudah pas-pasan. Tapi kalau dibuat terlalu simpel, takutnya mengecewakan keluarga. Jadi ya kami coba cari jalan tengah,” ujarnya. Ia akhirnya mengambil Kredit Tanpa Agunan (KTA) dengan tenor empat tahun. “Saya hitung-hitung dulu supaya cicilannya masih masuk dan nggak bikin kebutuhan bulanan keteteran.”

Baginya, resepsi bukan sekadar soal kemewahan. “Buat saya ini bukan cuma pesta. Kami cuma ingin orang tua dan keluarga merasa dihargai dan ikut bahagia,” katanya. Setelah acara selesai, ia sadar tanggung jawab justru baru dimulai. “Namanya juga utang, tetap harus dibereskan. Jadi sekarang kami lebih ketat atur keuangan.”

Soal momongan, Gian memilih menunggu. “Bukannya nggak mau punya anak. Pengen banget. Tapi saya belum merasa cukup tenang secara finansial.” Ia dan pasangannya sepakat menyelesaikan kewajiban lebih dulu. “Kami ingin nanti kalau punya anak, rasanya siap betul. Nggak sambil kepikiran cicilan.”

Pengalaman Gian mencerminkan realitas yang lebih luas. Survei LendingTree (2025) menunjukkan sekitar 67% pasangan menikah membiayai pesta mereka dengan utang. Bagi sebagian orang, itu adalah cara menavigasi antara momen penting dalam hidup dan realitas ekonomi yang tidak selalu ideal.

Bukan Soal Pelaminan, Tapi Fondasi Rumah Tangga

Di sisi lain, Arimbi memilih jalan yang lebih tenang. Ia menikah pada 23 Januari 2026 di KUA, hanya dihadiri keluarga inti. “Ini bukan pernikahan pertama untukku, tapi yang pertama untuk suamiku,” papar Arimbi. Sejak awal, mereka sudah tahu tidak ingin pesta besar. “Kami memang nggak terlalu suka acara yang ramai. Buat kami, yang penting sah dan khidmat.”

Keputusan itu terasa sederhana, tapi dipikirkan matang-matang. Mereka masih mengontrak rumah dan sedang menata hidup bersama. “Kami ngobrol, dan sepakat uangnya lebih baik dipakai buat kebutuhan setelah nikah,” ujarnya. Ia melihat pernikahan bukan sebagai panggung satu hari, melainkan awal dari rutinitas panjang yang harus dijalani bersama. “Buat kami, bangun rumah tangga itu yang utama.”

Meski tanpa resepsi besar, detail tetap diperhatikan. Busana dipilih dari jenama lokal milik teman dan penjahit rumahan. “Kami tetap mikirin outfit dan konsep, walau sederhana,” ungkapnya. Ada satu momen kecil yang kini justru paling dikenang. “Kami makan mie ayam di KUA habis nikah.” Ia tertawa mengingatnya. “Justru itu yang terasa hangat dan apa adanya.”

Meyakinkan keluarga sempat menjadi bagian dari proses. Dari pihaknya sendiri relatif mudah, tetapi keluarga suami butuh waktu memahami pilihan tersebut. “Kami jelaskan pelan-pelan bahwa setelah menikah ada kebutuhan lain yang lebih penting,” katanya. Ia bersyukur akhirnya keluarga menerima. “Support system itu penting sekali. Kalau keluarga mendukung, rasanya lebih ringan.”

Kini, Arimbi merasa lebih tenang menjalani hari-hari setelah akad. Tidak ada tekanan untuk menutup biaya besar, tidak ada beban tambahan yang mengganggu pikiran. “Kami bisa fokus pelan-pelan membangun hidup,” ujarnya. Bagi Arimbi, kesederhanaan bukan berarti kurang, justru membuat pernikahan terasa lebih utuh.

Gengsi, Media Sosial, dan Pergeseran Makna

Di tengah tren pasangan yang memulai rumah tangga dengan utang, sorotan tak hanya tertuju pada kondisi ekonomi, tetapi juga pada perubahan perilaku sosial. Evelyn Suleeman, pengajar sosiologi Universitas Indonesia, menilai media sosial memainkan peran besar. “Media sosial membentuk standar baru tentang seperti apa pernikahan yang dianggap ‘ideal’,” ujarnya. Foto dan video resepsi mewah yang beredar luas menciptakan pembanding yang tak selalu realistis.

Menurut Evelyn, tekanan itu bisa mendorong keputusan finansial yang berisiko, “bagi mereka yang keuangannya terbatas tapi takut dianggap kere atau kalah gengsi, resepsi mewah menjadi semacam pembuktian sosial.” Tidak sedikit pasangan berharap biaya besar itu bisa tertutup dari amplop tamu. “Ada anggapan hadiah uang dari tamu akan menutup utang. Padahal itu spekulatif.” Ia mengingatkan, sebuah studi di Amerika Serikat menunjukkan resepsi dengan biaya sangat besar justru berkorelasi dengan tingkat perceraian yang lebih tinggi.

Fenomena ini juga menyingkap ketimpangan ekonomi. “Ketimpangan terlihat jelas ketika standar sosial ditentukan oleh mereka yang mampu,” jelas Evelyn. Pasangan dengan sumber daya terbatas tetap terdorong mengikuti standar itu agar dianggap layak. “Resepsi besar di hotel berbintang menjadi simbol status. Sementara yang tidak mampu sering kali merasa terpaksa menyesuaikan, meski harus berutang.”

Di sisi lain, ada pula pasangan yang memilih resepsi sederhana atau bahkan tanpa pesta, tetapi pilihan itu tak selalu bebas dari penilaian sosial. Evelyn melihat adanya pergeseran makna perkawinan. “Jika fokusnya hanya pada pesta, kita perlu bertanya: apakah yang dirayakan adalah komitmen atau gengsi?” katanya. Ia menilai sebagian pasangan lebih sibuk memikirkan kemasan acara dibandingkan kesiapan hidup bersama setelahnya. Dalam masyarakat yang semakin visual, momen sakral bisa bergeser menjadi ajang pertunjukan sosial.

Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *